Menguji Kebijakan, Bukan Membenarkannya
Pertanyaan di atas sejalan dengan gagasan Karl Popper mengenai Piecemeal Social Engineering. Dalam The Open Society and Its Enemies (1945), Popper membedakan pendekatan tersebut dari Utopian Social Engineering. Pendekatan utopis berangkat dari gambaran ideal tentang masyarakat yang hendak diwujudkan, sedangkan piecemeal social engineering berfokus pada persoalan konkret dan perubahan bertahap yang dapat terus dikritik dan dikoreksi. Harald Stelzer menjelaskan bahwa Piecemeal Social Engineering berhubungan dengan falsifikasionisme dan fallinilism Popper. Dalam pendekatan ini, tindakan sosial perlu dilakukan secara bertahap karena konsekuensinya dapat tak terduga. Karena itu, kebijakan harus dalam pengawasan tersu-menerus agar kesalahan dan persoalan baru dapat ditemukan serta diperbaiki (Stelzer, 2016).
Cara berpikir tersebut penting untuk programa seperti MBG. Program berskala nasional itu, selalu berhadapan dengan persoalan distribusi, kualitas makanan, pengawasan, dan perbedaan kondisi antardaerah. Dengan demikian, ukuran keberhasilan tidak seharusnya hanya terletak pada seberapa luas program berjalan, tetapi juga pada kemampuan sistem menemukan kesalahan dan memperbaikinya.
Dalam kerangka ini, kritik terhadap MBG bukan berarti menolak tujuan pemenuhan gizi anak. Justru sebaliknya, kritik diperlukan agar tujuan tersebut tidak berubah menjadi keyakinan yang kebal terhadap kenyataan. Ketika data menunjukkan masalah dianggap sebagai gangguan terhadap agenda pembangunan, kebijakan berisiko kehilangan kemampuan untuk belajar dari kesalahannya. Di sinilah bahwa tirani epistemik muncul. Sebuah tujuan yang baik menjadi masalah ketika tujuan dianggap membenarkan semua cara untuk mencapainya. Indonesia Emas 2045 boleh menjadi visi. Namun, visi masa depan tidak boleh membuat penderitaan konkret hari ini dianggap sebagai ongkos yang wajar penderitaan.
Jangan Korbankan Hari Ini demi 2045
Popper justru mengarahkan perhatian pada persoalan konkret dan penderitaan yang dapat dicegah. Dalam pembacaan Stelzer, orientasi tersebut merupakan salah satu dimensi normatif penting dalam piecmeal social engineering. Karena itu, kebijakan publik membutuhkan kerendahan hati epistemik, yaitu kesediaan mengakui bahwa perencanaan negara dapat keliru dan kenyataan dapat memaksa kita mengubah rencana. Anak-anak Indonesia tidak hidup pada 2045. Mereka hidup hari ini. Mereka membutuhkan makanan yang sehat hari ini, fasilitas yang layak, pendidikan yang gratis untuk anak-anak rentan. Mereka tidak membutuhkan sekadar janji tentang manusia sehat pada tahun 2045.
Maka, pertanyaan terpenting tentang MBG bukan hanya berapa banyak anak yang telah menerima makanan. Pertanyaan yang sama penting adalah apakah negara bersedia mendengar ketika kenyataan mengatakan bahwa program MBG perlu diperbaiki. Masa depan boleh dirancang, tetapi keselamatan manusia hari ini, tidak boleh menjadi harga yang harus dibayar untuk mewujudkannya. Maka, pertanyaan terpenting tentang MBG bukan hanya berapa banyak anak yang telah menerima makanan. Pertanyaan yang sama pentingnya adalah apakah negara bersedia mendengar ketika kenyataan mengatakan bahwa sesuatu perlu diperbaiki.