<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Uskup Agung Kupang &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/uskup-agung-kupang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 May 2026 13:48:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Uskup Agung Kupang &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dari Hoineno Menuju Jalan Misi: Keteguhan Panggilan Diakon Clitus Hausufa, SVD</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4734/dari-hoineno-menuju-jalan-misi-keteguhan-panggilan-diakon-clitus-hausufa-svd/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 May 2026 13:47:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Katolik Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[IFTK Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[Tabhisan diakon Ledalero Tahun ini]]></category>
		<category><![CDATA[Uskup Agung Kupang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4734</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Maumere — Kapela Agung Seminari Santo Paulus Ledalero kembali menjadi tempat lahirnya para pelayan Gereja yang siap mengabdikan hidup bagi Tuhan dan sesama. Pada Minggu, 31 Mei 2026 mendatang, Frater Clitus Hausufa, SVD bersama rekan-rekan seangkatannya akan menerima tahbisan diakon melalui penumpangan tangan Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni. Tahbisan diakon tersebut menjadi tonggak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>, Maumere — Kapela Agung Seminari Santo Paulus Ledalero kembali menjadi tempat lahirnya para pelayan Gereja yang siap mengabdikan hidup bagi Tuhan dan sesama. Pada Minggu, 31 Mei 2026 mendatang, Frater Clitus Hausufa, SVD bersama rekan-rekan seangkatannya akan menerima tahbisan diakon melalui penumpangan tangan Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni.</p>
<p>Tahbisan diakon tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang panggilan hidup religius yang telah ditempuh dengan penuh kesetiaan, pengorbanan, dan semangat pelayanan. Bagi Frater Clitus, tahbisan bukan sekadar tahap menuju imamat, melainkan jawaban iman atas panggilan Tuhan yang terus menuntunnya sejak masa muda.</p>
<p>Frater yang memiliki nama lengkap Clitus Marselinus Hausufa, SVD ini lahir di Hoineno pada 26 April 1995. Ia berasal dari Paroki Sta. Maria Fatima Nurobo, Keuskupan Atambua. Dalam kehidupan sehari-hari, ia dikenal sebagai pribadi yang sederhana, tenang, dan memiliki komitmen kuat dalam menjalani kehidupan religius.</p>
<p>Moto tahbisannya, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah” (Lukas 18:27), menjadi sumber inspirasi dan kekuatan dalam perjalanan panggilannya. Moto tersebut mencerminkan keyakinan bahwa setiap proses hidup, tantangan, dan pengorbanan hanya dapat dijalani dengan iman dan penyerahan diri kepada Tuhan.</p>
<p>Perjalanan pendidikan Frater Clitus dimulai di SDI Bora pada tahun 2002 hingga 2008. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Tasifeto Timur, Wedomu, dan kemudian di SMAN 1 Tasifeto Timur, Wedomu. Masa pendidikan tersebut menjadi fondasi awal pembentukan karakter, kedisiplinan, dan semangat pengabdian dalam dirinya.</p>
<p>Keinginan untuk menyerahkan hidup dalam pelayanan Gereja semakin kuat ketika ia memutuskan masuk Postulat St. Arnoldus Janssen Boanio pada tahun 2015. Langkah tersebut menjadi awal perjalanan panjang sebagai calon misionaris Serikat Sabda Allah (SVD), kongregasi religius yang dikenal dengan semangat pewartaan lintas budaya dan bangsa.</p>
<p>Setelah menjalani masa postulat, Frater Clitus melanjutkan pembinaan di Novisiat SVD St. Yosef Nenuk, Atambua, pada tahun 2016 hingga 2018. Masa novisiat menjadi tahap penting dalam hidup religius, tempat seorang calon religius dibentuk dalam kehidupan doa, disiplin komunitas, dan spiritualitas misioner.</p>
<p>Perjalanan intelektualnya kemudian berlanjut di IFTK Ledalero melalui studi filsafat pada tahun 2018 hingga 2022. Ledalero dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan calon imam terbesar di Indonesia Timur yang telah melahirkan banyak imam, misionaris, dan tokoh Gereja.</p>
<p>Di Ledalero, Frater Clitus tidak hanya ditempa dalam bidang akademik, tetapi juga dalam kepekaan sosial dan semangat pelayanan kepada masyarakat kecil. Ia dibentuk untuk menjadi pelayan Gereja yang mampu hadir di tengah persoalan umat dengan hati yang terbuka dan penuh kasih.</p>
<p>Pada tahun 2022 hingga 2023, Frater Clitus menjalani TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di SMPK St. Josef Freinademetz, Tambolaka, Sumba Barat Daya. Pengalaman pastoral tersebut menjadi ruang pembelajaran nyata tentang bagaimana hidup bersama umat, memahami pergumulan masyarakat, dan menghadirkan pelayanan Gereja secara konkret.</p>
<p>Kini, Frater Clitus sedang menyelesaikan Studi Magister Teologi di IFTK Ledalero pada periode 2023 hingga 2026 sebagai bagian dari persiapan menuju tahbisan dan pelayanan pastoral yang lebih mendalam. Setelah tahbisan nanti, ia direncanakan menjalani perutusan misi di Regio SVD Bangladesh, sebuah wilayah pelayanan yang membutuhkan semangat pengabdian dan kesiapan untuk hidup di tengah keberagaman budaya dan agama.</p>
<p>Perutusan ke Bangladesh menjadi bukti nyata bahwa semangat misioner SVD melampaui batas geografis dan budaya. Menjadi misionaris berarti siap meninggalkan zona nyaman demi membawa nilai kasih, persaudaraan, dan Injil kepada masyarakat luas.</p>
<p>Tahbisan diakon yang akan berlangsung di Kapela Agung Seminari Santo Paulus Ledalero diperkirakan akan dihadiri keluarga, umat, para imam, biarawan-biarawati, serta sahabat dari berbagai daerah. Perayaan tersebut menjadi sukacita besar, khususnya bagi umat Paroki Sta. Maria Fatima Nurobo dan Keuskupan Atambua.</p>
<p>Kehadiran Mgr. Hironimus Pakaenoni sebagai uskup penahbis memberi makna mendalam bagi para calon diakon. Dalam tradisi Gereja Katolik, tahbisan diakon menjadi tanda resmi penyerahan diri untuk melayani Sabda, altar, dan karya kasih bagi umat.</p>
<p>Di tengah dunia modern yang penuh persaingan dan orientasi material, pilihan hidup Frater Clitus menjadi kesaksian bahwa masih ada generasi muda yang memilih jalan pengabdian dan pelayanan. Panggilan religius bukanlah jalan yang mudah, tetapi membutuhkan keberanian untuk meninggalkan kepentingan pribadi demi melayani sesama.</p>
<p>Perjalanan hidup Frater Clitus Hausufa memperlihatkan bahwa iman dan ketekunan mampu membawa seseorang melampaui berbagai keterbatasan. Dari Hoineno menuju Ledalero, dan kelak menuju Bangladesh, perjalanan panggilannya menjadi kisah tentang harapan, kesetiaan, dan pengabdian.</p>
<p>Tahbisan diakon pada 31 Mei 2026 mendatang akan menjadi awal baru dalam karya pelayanannya. Sebuah langkah menuju hidup yang semakin dipersembahkan bagi Gereja dan kemanusiaan.</p>
<p>Dan seperti moto hidup yang dipegangnya, Frater Clitus percaya bahwa apa yang tampak mustahil bagi manusia, akan selalu menjadi mungkin di hadapan Allah.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Aimere Menuju Altar Pelayanan: Kisah Panggilan Diakon Carli Ka’u, SVD yang Akan Ditahbiskan di Ledalero</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4728/dari-aimere-menuju-altar-pelayanan-kisah-panggilan-diakon-carli-kau-svd-yang-akan-ditahbiskan-di-ledalero/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 May 2026 13:38:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[IFTK Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[SVD]]></category>
		<category><![CDATA[Tabhisan diakon]]></category>
		<category><![CDATA[Tabhisan diakon Ledalero Tahun ini]]></category>
		<category><![CDATA[Uskup Agung Kupang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4728</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Maumere — Sukacita besar menyelimuti keluarga besar Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero menjelang perayaan tahbisan diakon yang akan digelar pada Minggu, 31 Mei 2026 di Kapela Agung Seminari Santo Paulus Ledalero. Salah satu calon diakon yang akan menerima tahbisan suci tersebut ialah Diakon Carli Ka’u, SVD, bersama rekan-rekannya seangkatan. Tahbisan diakon itu akan dipimpin [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>, Maumere — Sukacita besar menyelimuti keluarga besar Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero menjelang perayaan tahbisan diakon yang akan digelar pada Minggu, 31 Mei 2026 di Kapela Agung Seminari Santo Paulus Ledalero. Salah satu calon diakon yang akan menerima tahbisan suci tersebut ialah Diakon Carli Ka’u, SVD, bersama rekan-rekannya seangkatan.</p>
<p>Tahbisan diakon itu akan dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, sebuah momentum rohani yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan panggilan para calon imam Serikat Sabda Allah (SVD).</p>
<p>Di tengah tantangan zaman modern yang penuh dengan arus materialisme dan individualisme, pilihan hidup membiara dan melayani Gereja menjadi kesaksian iman yang luar biasa. Sosok Frater Carli Ka’u hadir sebagai gambaran seorang muda Katolik yang memilih jalan pengabdian demi pelayanan kepada Tuhan dan sesama.</p>
<p>Frater yang memiliki nama lengkap Fr. Carli Ka’u, Fransiskus, SVD itu lahir di Aimere pada 6 Februari 1997. Ia berasal dari Paroki St. Fransiskus dan Sta. Klara Aimere, Keuskupan Agung Ende. Dalam perjalanan hidupnya, Frater Carli dikenal sebagai pribadi sederhana, tenang, dan memiliki semangat misioner yang kuat.</p>
<p>Moto tahbisannya, “Bajuku telah kutanggalkan” (Kidung Agung 5:3), menggambarkan kesiapan total untuk meninggalkan kenyamanan pribadi demi menjawab panggilan Tuhan. Moto tersebut bukan hanya ungkapan simbolik, tetapi juga refleksi spiritual tentang penyerahan diri sepenuhnya kepada karya pelayanan Gereja.</p>
<p>Perjalanan pendidikan Frater Carli dimulai di SDI Aimere pada tahun 2003 hingga 2009. Sejak kecil, ia telah menunjukkan minat besar terhadap kehidupan rohani dan pendidikan Gereja. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan pendidikan di SMPS Seminari Mataloko pada tahun 2009 hingga 2012, lalu melanjutkan ke SMAS Seminari Mataloko pada tahun 2012 hingga 2015.</p>
<p>Lingkungan seminari menjadi tempat pembinaan awal yang membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan semangat hidup rohani dalam dirinya. Dari tempat itulah benih panggilan untuk menjadi imam semakin bertumbuh dan mengakar kuat.</p>
<p>Pada tahun 2015, Frater Carli melanjutkan perjalanan formasinya dengan memasuki Novisiat SVD Sang Sabda Kuwu-Ruteng. Masa novisiat menjadi tahap penting dalam pembentukan hidup religius, di mana seorang calon religius belajar tentang spiritualitas, hidup komunitas, doa, dan pelayanan.</p>
<p>Setelah menyelesaikan novisiat, ia melanjutkan studi filsafat di IFTK Ledalero pada tahun 2017 hingga 2021. Di kampus yang dikenal sebagai pusat pendidikan calon imam dan intelektual Gereja di Indonesia Timur tersebut, Frater Carli ditempa dalam pemikiran filsafat, teologi, dan kemanusiaan.</p>
<p>Tidak hanya dibentuk secara akademik, Frater Carli juga mendapat pengalaman internasional melalui masa OTP (Overseas Training Program) di Provinsi SVD China (Taiwan) pada tahun 2021 hingga 2024. Pengalaman lintas budaya itu menjadi bagian penting dalam memperluas wawasan misionernya sekaligus memperkuat identitasnya sebagai calon misionaris SVD.</p>
<p>Pengalaman di Taiwan tidak hanya mempertemukannya dengan masyarakat yang berbeda budaya dan bahasa, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran tentang bagaimana Gereja hadir di tengah masyarakat global yang terus berubah. Semangat pelayanan lintas bangsa dan budaya inilah yang menjadi ciri khas Serikat Sabda Allah.</p>
<p>Kini, Frater Carli sedang menyelesaikan Studi Magister Teologi di IFTK Ledalero pada periode 2024–2026 sebagai bagian dari persiapan menuju tahbisan dan pelayanan pastoral yang lebih mendalam. Setelah tahbisan nanti, ia juga direncanakan menjalani misi di Irish and British SVD Province, sebuah bentuk perutusan internasional yang menunjukkan kesiapan untuk melayani Gereja universal.</p>
<p>Tahbisan diakon sendiri merupakan tahap penting sebelum tahbisan imam. Dalam Gereja Katolik, seorang diakon dipanggil untuk melayani Sabda, altar, dan karya kasih. Karena itu, tahbisan bukan hanya soal status religius, melainkan komitmen hidup untuk menjadi pelayan umat dengan penuh kerendahan hati.</p>
<p>Perayaan tahbisan yang akan berlangsung di Kapela Agung Seminari Santo Paulus Ledalero diperkirakan akan dihadiri keluarga, umat, para imam, biarawan-biarawati, serta sahabat dari berbagai daerah. Momen tersebut menjadi sukacita bersama bagi Gereja lokal, khususnya umat Paroki Aimere dan Keuskupan Agung Ende.</p>
<p>Kehadiran Mgr. Hironimus Pakaenoni sebagai uskup penahbis juga memberikan makna mendalam bagi para calon diakon. Dalam tugas kegembalaannya, uskup menjadi simbol persatuan Gereja sekaligus pemberi mandat pelayanan kepada para calon pelayan altar.</p>
<p>Di tengah dunia yang terus mengalami perubahan sosial dan krisis nilai, Gereja membutuhkan sosok-sosok muda yang mampu menjadi pembawa harapan, damai, dan kasih. Frater Carli Ka’u menjadi salah satu generasi muda Gereja yang memilih jalan sunyi pelayanan, bukan demi popularitas, melainkan demi pengabdian.</p>
<p>Pilihan hidup religius memang bukan jalan mudah. Dibutuhkan ketekunan, pengorbanan, disiplin, dan kesetiaan dalam menjalani proses panjang pembinaan. Namun, melalui perjalanan hidup Frater Carli, tampak jelas bahwa panggilan lahir dari keberanian untuk percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.</p>
<p>Tahbisan diakon pada 31 Mei 2026 mendatang akan menjadi awal baru dalam perjalanan pelayanannya. Sebuah langkah menuju kehidupan yang semakin dipersembahkan bagi Gereja dan umat manusia.</p>
<p>Dari Aimere menuju Ledalero, dari ruang pembinaan menuju altar pelayanan, perjalanan Frater Carli Ka’u, SVD menjadi kisah iman tentang kesetiaan, pengorbanan, dan harapan. Sebab pada akhirnya, panggilan sejati bukan tentang mencari kenyamanan hidup, melainkan kesiapan untuk memberi diri bagi sesama.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjelang Tahbisan Diakon 2026: Jejak Panggilan dan Pengabdian Diakon Enti Daga, SVD</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4725/menjelang-tahbisan-diakon-2026-jejak-panggilan-dan-pengabdian-diakon-enti-daga-svd/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 May 2026 13:26:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Keuskupan Maumere]]></category>
		<category><![CDATA[Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[SVD]]></category>
		<category><![CDATA[Tabhisan diakon]]></category>
		<category><![CDATA[Uskup Agung Kupang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4725</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Maumere — Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero kembali menjadi saksi lahirnya para pelayan Gereja yang siap mengabdikan hidup bagi umat dan kemanusiaan. Salah satu calon diakon yang akan menerima tahbisan diakon pada Minggu, 31 Mei 2026 mendatang ialah Diakon Enti Daga, SVD, seorang frater muda asal Keuskupan Agung Ende yang dikenal sederhana, tekun, dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>, Maumere — Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero kembali menjadi saksi lahirnya para pelayan Gereja yang siap mengabdikan hidup bagi umat dan kemanusiaan. Salah satu calon diakon yang akan menerima tahbisan diakon pada Minggu, 31 Mei 2026 mendatang ialah Diakon Enti Daga, SVD, seorang frater muda asal Keuskupan Agung Ende yang dikenal sederhana, tekun, dan penuh semangat pelayanan.</p>
<p>Momentum tahbisan diakon bukan sekadar seremoni liturgi, melainkan sebuah peneguhan panggilan untuk melayani Tuhan dan sesama. Dalam tradisi Gereja Katolik, tahbisan diakon menjadi tahap penting menuju imamat, sekaligus tanda kesiapan seseorang untuk hidup dalam pelayanan, pewartaan Injil, dan karya kasih.</p>
<p>Mengusung moto panggilan “Aku percaya, Tuhan” (Yohanes 9:38), Frater Enti Daga memperlihatkan perjalanan iman yang lahir dari keyakinan mendalam kepada Tuhan. Moto tersebut menjadi cerminan spiritualitas seorang calon pelayan Gereja yang menaruh seluruh hidupnya dalam penyelenggaraan Ilahi.</p>
<p>Lahir di Oka pada 19 Mei 1998, Frater yang akrab disapa Fr. Enti ini berasal dari Paroki Hati Kudus Yesus Maunori, Keuskupan Agung Ende. Sejak kecil, ia telah tumbuh dalam lingkungan keluarga dan komunitas yang menanamkan nilai iman, disiplin, dan pengabdian.</p>
<p>Perjalanan pendidikannya dimulai di SDK Kotowuji pada tahun 2004 hingga 2010. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SMPK Setya Budi Maunori dan kemudian di SMAN 1 Keo Tengah. Dari masa sekolah inilah benih panggilan hidup membiara mulai tumbuh dan menguat.</p>
<p>Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Frater Enti memilih menapaki jalan panggilan religius dengan masuk Postulat St. Arnoldus Janssen Boanio pada tahun 2016. Langkah tersebut menjadi awal perjalanan panjang dalam Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD).</p>
<p>Ia kemudian menjalani masa novisiat di Novisiat SVD St. Yosef Nenuk, Atambua, pada tahun 2017 hingga 2019. Masa novisiat merupakan tahap pembentukan spiritual yang penting, tempat seorang calon religius belajar tentang kehidupan doa, disiplin, persaudaraan, dan spiritualitas misioner.</p>
<p>Sesudah itu, Frater Enti melanjutkan studi filsafat di IFTK Ledalero pada tahun 2019 hingga 2023. Di kampus yang dikenal sebagai pusat intelektual Gereja di Indonesia Timur tersebut, ia ditempa tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam kepekaan sosial dan semangat pelayanan bagi masyarakat kecil.</p>
<p>Dalam perjalanan formasinya, Frater Enti juga menjalani masa TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di SMPK St. Josef Freinademetz, Tambolaka, Sumba Barat Daya, pada tahun 2023 hingga 2024. Pengalaman pastoral ini menjadi ruang pembelajaran nyata untuk hidup bersama umat, memahami persoalan masyarakat, dan menghadirkan Gereja yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Kini, ia sedang menempuh Studi Magister Teologi di IFTK Ledalero pada periode 2024–2026 sebagai bagian dari persiapan menuju pelayanan yang lebih matang. Dalam waktu dekat, Frater Enti juga direncanakan menjalani perutusan misioner di Brazil Central SVD Province, sebuah bentuk kepercayaan sekaligus panggilan universal khas Serikat Sabda Allah.</p>
<p>Tahbisan diakon yang akan berlangsung pada 31 Mei 2026 mendatang bukan hanya menjadi sukacita pribadi bagi Frater Enti dan keluarganya, tetapi juga kebanggaan bagi umat Paroki Hati Kudus Yesus Maunori, Keuskupan Agung Ende, serta seluruh keluarga besar SVD.</p>
<p>Di tengah dunia yang terus berubah dengan berbagai tantangan sosial, krisis moral, dan melemahnya nilai kemanusiaan, Gereja membutuhkan pelayan-pelayan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga rendah hati dan memiliki hati untuk melayani. Sosok Frater Enti Daga menjadi salah satu gambaran generasi muda Gereja yang memilih jalan pengabdian di tengah arus zaman yang serba instan dan materialistis.</p>
<p>Tahbisan diakon merupakan awal dari tanggung jawab besar: menjadi pelayan Sabda, pelayan altar, dan pelayan kasih. Karena itu, perjalanan seorang diakon tidak berhenti di altar Gereja, tetapi hadir di tengah masyarakat, mendengar jeritan kaum kecil, dan membawa harapan bagi mereka yang mengalami kesulitan hidup.</p>
<p>Semangat misioner yang tertanam dalam diri Frater Enti juga menunjukkan bahwa panggilan religius bukan sekadar tentang hidup untuk diri sendiri, melainkan kesiapan untuk diutus ke mana saja demi pelayanan Injil. Penugasan ke Brazil Central SVD Province menjadi bukti bahwa Gereja terus membutuhkan pewarta-pewarta muda yang siap melintasi batas budaya dan bangsa.</p>
<p>Menjelang hari tahbisan, doa dan dukungan umat menjadi kekuatan penting bagi para calon diakon. Harapan besar pun disematkan agar mereka tetap setia dalam panggilan, rendah hati dalam pelayanan, dan berani menjadi saksi kasih Tuhan di tengah dunia.</p>
<p>Tahbisan diakon bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari pengabdian panjang. Dan bagi Frater Enti Daga, SVD, langkah menuju altar tahbisan adalah jawaban iman atas panggilan Tuhan yang telah ia yakini sejak awal: “Aku percaya, Tuhan.”</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
