<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Urbanus Xaverius Landa &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/urbanus-xaverius-landa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 May 2026 10:56:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Urbanus Xaverius Landa &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>ARISAN PENDIDIKAN: Terobosan untuk Kemajuan Pendidikan</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4382/arisan-pendidikan-terobosan-untuk-kemajuan-pendidikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nof]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2026 10:54:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa Flores]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Akademik]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Arisan Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Ide Arisan Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan di Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[perspektifnusantara.com]]></category>
		<category><![CDATA[Urbanus Xaverius Landa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4382</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM &#8211; Saya mulai dari tradisi adat para leluhur kita. Pada saat kelahiran, kematian, pernikahan, buka kebun baru, petik hasil panen, orang tua dan para leluhur kita merayakan dengan mengajak sanak-keluarga. Berbagi rasa senang, berbagi duka juga berbagi beban. Waktu acara nikah, kita berbagi rasa bahagia. Waktu ada kematian, kita sudah pasti berbagi duka, kesedihan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM &#8211;</strong> Saya mulai dari tradisi adat para leluhur kita. Pada saat kelahiran, kematian, pernikahan, buka kebun baru, petik hasil panen, orang tua dan para leluhur kita merayakan dengan mengajak sanak-keluarga. Berbagi rasa senang, berbagi duka juga berbagi beban.</p>
<p>Waktu acara nikah, kita berbagi rasa bahagia. Waktu ada kematian, kita sudah pasti berbagi duka, kesedihan yang dalam.</p>
<p>Pada peristiwa-peristiwa yang sa sebut di atas, punya sifat kebersamaan. Kita merayakan dengan orang lain. Orang lain itu ya kaka-ade, bapa-mama, om-tanta, para sahabat, teman, kenalan, tetangga, rekan kerja dan seterusnya. Kalo orang-orang yang kita undang datang, pasti kita sebagai tuan rumah acara bahagia.</p>
<p>Pada acara perkawinan dan kematian, kita orang Maumere sudah tahu adatnya bagaimana. Kita sudah tahu harus bawa apa ke sana. Mo bawa uang ka, kain ka, babi ka, sapi ka, beras ka, apa lagi? Kita tahu karena itu sudah dilakukan turun-temurun dari orangtua kita, kakek-nenek kita.</p>
<p>Mereka melakukan itu turun-temurun dari warisan orangtua mereka. Orangtua mereka dari orangtua mereka lagi, begitu terus. Makanya kita bilang ini warisan leluhur.</p>
<h2>Tanggung Sama-sama</h2>
<p>Sekarang, kita ambil contoh antar belis. Besar kecilnya belis, bisa dibayar dengan lebih mudah kalo keluarga besar dilibatkan. Setiap anggota keluarga akan menanggung bagiannya masing-masing sehingga besarnya tuntutan belis bisa dibayar. Beban jadi ringan to?</p>
<p>Begitu juga saat kita mau buat pesta. Keluarga berkumpul. Mulai sudah baku bagi tugas dan tanggung jawab. Siapa tanggung apa supaya pesta yang direncanakan bisa terlaksana dengan sukses dan semua pihak senang dan bahagia.</p>
<p>Belis yang besar bisa dibayar dengan lebih mudah kalo keluarga besar dilibatkan. Pesta yang besar bagaimana pun bisa terlaksana dengan mudah kalo keluarga dilibatkan.</p>
<h3>Modal</h3>
<p>Jadi, para leluhur kita sudah wariskan satu semangat gotong-royong. Semangat baku-bantu. Semangat baku-topang. Untuk apa? Dengan semangat gotong-royong ini, semua orang ikut memberi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bersama-sama, beban yang berat menjadi ringan, beban yang ringan menjadi tidak ada apa-apanya.</p>
<p>Kalo ada yang punya uang akan sumbang uang, kalo ada yang punya tenaga akan sumbang tenaga, dan seterusnya. Ketika kita melibatkan keluarga besar, suku, orang-orang satu kampung, orang-orang satu desa, apalagi orang-orang dalam jumlah yang banyak, kekuatan kita menjadi besar. Modal yang kecil otomatis menjadi besar karena semua ikut menyumbang.</p>
<h4>Pendidikan</h4>
<p>Sekarang, sesuai dengan judul tulisan saya di atas, apa kaitannya dengan pendidikan? Sa kasi contoh kuliah. Kuliah itu mahal. Ada uang muka (sumbangan), ada uang UKD, SKS, ada uang KKN, ujian Skripsi, uang Wisuda, uang kos, uang transportasi, uang makan, uang buku, uang fotokopi, uang print, uang senang-senang, uang traktir teman-teman, uang traktir pacar dan lain-lain.</p>
<p>Di kota Maumere, satu semester kira-kira uang kuliah tu 3 juta sampe 5 juta rupiah. Bagi orang dengan penghasilan lebih, biaya itu tidak ada masalah. Kalo kekurangan uang yang bersangkutan bisa pinjam di bank, pinjam di koperasi. Tapi bagi keluarga dengan ekonomi pas-pasan, biaya kuliah 3 juta per semester itu tidak mampu dibayar.</p>
<p>Mau pinjam uang juga orang tidak percaya, ini bagaimana su? Nasib anak tidak bisa sekolah ke jenjang pendidikan tinggi. Karena itulah kita pake prinsip adat yang saya jelaskan di atas. Semangat gotong-royong waktu bayar belis, waktu buat pesta, waktu acara kedukaan, kita terapkan di pendidikan. Saya sebut arisan pendidikan.</p>
<p>Arisan pendidikan adalah saat kita gunakan prinsip adat; gotong-royong, wua-mesu, rapa-laka. Kenapa kita tidak punya adat arisan pendidikan? Itu karena dulu, jamannya para leluhur, pendidikan modern belum masuk ke wilayah Flores. Setelah kita merdeka di tahun 1945, pemerintah baru buka sekolah di mana-mana.</p>
<p>Sekarang, kita to yang buat adat arisan sekolah. Melanjutkan dasar-dasar yang sudah dibuat leluhur, supaya entah ekonomi keluarga yang kuat atau yang lemah, bisa mengenyam pendidikan tinggi. Supaya bersama, masa depan lebih baik.</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik Link Ini Untuk Dapatkan Artikel Menarik Lainnya Hanya di PerspektifNusantara.com</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
