<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Upacara Seribu Lilin &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/upacara-seribu-lilin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Sep 2026 02:51:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Upacara Seribu Lilin &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Seribu Lilin dari OMK Paroki Ritawolo dan Cinta yang Tidak Pernah Padam</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/6117/seribu-lilin-dari-omk-paroki-ritawolo-dan-cinta-yang-tidak-pernah-padam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hans]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2026 02:47:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif Nusantara.com.]]></category>
		<category><![CDATA[Upacara Seribu Lilin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=6117</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Larantuka, Gelap di Lapangan Seburi I perlahan terpecah. Satu per satu nyala lilin muncul di tangan orang-orang muda, disusun membentuk huruf U dan salib di tengah lapangan. Cahaya kecil itu terus bertambah hingga malam yang dingin di Ritawolo dipenuhi seribu titik terang. Lamat-lamat, suara berat dari tengah kerumunan mulai terdengar. “Di sini ada cahaya, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>,<strong> Larantuka</strong>, Gelap di Lapangan Seburi I perlahan terpecah. Satu per satu nyala lilin muncul di tangan orang-orang muda, disusun membentuk huruf U dan salib di tengah lapangan. Cahaya kecil itu terus bertambah hingga malam yang dingin di Ritawolo dipenuhi seribu titik terang. Lamat-lamat, suara berat dari tengah kerumunan mulai terdengar.</p>
<p>“Di sini ada cahaya, di sana ada harapan. Lilin-lilin harapan yang kita nyalakan ini sebagai bentuk solidaritas terhadap saudara-saudari kita yang terdampak gempa. Malam ini, kita lambungkan untaian doa dalam lilin-lilin harapan ini. Ada begitu banyak mereka yang menjadi korban, banyak jiwa tak bersalah yang direnggut, mereka pergi tanpa pamit dengan orang-orang tercinta. lilin-lilin yang bernyala malam ini adalah doa paling tulus bagi mereka yang telah meninggal. Lilin harapan ini juga menjadi doa bagi mereka yang kehilangan rumah, harta benda, orang-orang tercinta dan kehilangan cinta itu sendiri.” Suara dari Romo Sam Beraona, Pr dalam suasana khusyuk di malam yang dingin dengan diselingi instrumen yang syahdu terdengar menggelegar di lapangan Seburi I dan menjadi prolog kegiatan aksi seribu lilin dari Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo untuk para korban gempa Flores. Kegiatan ini dilangsungkan di Desa Seburi I, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur, NTT, Senin (7/9/2026) malam. Kegiatan ini bertajuk ‘Aksi Seribu Lilin, Pray For Flores’. Aksi seribu lilin yang dirangkum dalam doa bersama dipimpin oleh Romo Sam Beraona, Pr, didampingi Diakon Rikard, SVD, dan Fr. Erik Witin. Hadir dalam kegiatan ini Kapolsek Waiwadan, Kepala Desa Bukit Seburi I dan Bukit Seburi II, para tokoh adat, para pendamping OMK serta umat di Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo.</p>
<p>Rangkaian acara aksi solidaritas seribu lilin ini dimulai dengan pengantar singkat dari Romo Sam Beraona, Doa bersama, menyalakan lilin, puisi ‘Jeritan Hati OMK Ritawolo untuk Korban Gempa’ dari Jhon Masan, Renungan I dari Diakon Rikard, SVD, Renungan II dari Fr. Erik Witin, Doa umat dari OMK, Peneguhan dari Romo Sam dan ditutup dengan menyanyikan lagu ‘Dalam Yesus Kita bersaudara’.</p>
<p><strong>Gempa Flores dan ‘Wajah Yang Lain’</strong></p>
<p>Menurut data BMKG pada 15 Agustus 2026 terjadi gempa besar bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores. Episentrumnya berada di laut, sejauh 30 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT, pada kedalaman 15 kilometer. Gempa ini juga memicu peringatan potensi tsunami dan disusul ribuan gempa susulan. Di hadapan gempa yang terjadi, sisi kemanusiaan kita disentuh oleh ‘wajah yang lain’ itu untuk ikut merasakan penderitaan dan keterlukaan mereka. Bencana ini bukan sekadar peristiwa alam. Di balik angka korban, rumah-rumah yang rusak, keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta, dan hidup yang mendadak harus dimulai dari tempat-tempat pengungsian, ada manusia dengan wajah, nama, kisah, harapan, dan luka. Karena itu, ketika berhadapan dengan penderitaan yang dialami saudara-saudari yang menjadi korban gempa, sisi kemanusiaan kita disentuh oleh apa yang disebut Filsuf Emmanuel Levinas sebagai “wajah Yang Lain” (the face of the Other).</p>
<p>Wajah adalah sebuah panggilan etis untuk tidak membiarkan para korban berjalan sendiri dan menderita. Wajah korban gempa Flores memanggil kita untuk terlibat dan merasakan keterlukaan mereka. Pertemuan dengan wajah yang terluka membuat kita sadar bahwa hidup kita tidak hanya tentang diri sendiri. Kita dipanggil untuk bertanggung jawab terhadap kehidupan dan penderitaan orang lain juga. Karena itu, aksi Seribu Lilin oleh OMK Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo bukan sekadar kegiatan simbolis sebab setiap lilin yang dinyalakan menjadi tanda bahwa OMK memilih untuk terlibat dan peduli. Cahaya lilin yang membunuh kegelapan di Ritawolo menjadi simbol solidaritas bahwasannya OMK berada bersama para korban dalam penderitaan yang sedang dialami. Aksi seribu lilin ini adalah bukti solidaritas untuk membiarkan penderitaan orang lain menyentuh hati dan menggerakkan tindakan kita.</p>
<p><strong>Menjadi Cahaya dan Harapan bagi yang Terluka</strong></p>
<p>Dalam sesi renungan yang dibawakan oleh Romo Sam Beraona, Diakon Rikard, SVD, dan Fr. Erik Witin, secara garis besar menegaskan kepada OMK untuk menjadi cahaya dan pembawa harapan di tengah situasi yang sedang melanda para korban gempa. Pada renungan pertama, Diakon Rikard menyentil pengalaman penderitaan manusia dengan mempertanyakan eksistensi Allah dalam penderitaan yang dialami untuk membantu OMK merefleksikan lebih mendalam makna dibalik pengalaman itu.</p>
<p>“Malam ini, dengan lilin bernyala di tangan, kita bertanya: Mengapa penderitaan harus ada, mengapa gempa harus melululantahkan bumi Flores tercinta kalau Tuhan itu Mahapengasih dan Mahakuasa sekaligus, bukankah seseorang yang mengasihi orang lain, Ia tidak mungkin menciptakan penderitaan bagi sesamanya. Dan seseorang yang Mahakuasa pasti bisa mengatasi segala penderitaan tersebut. Mengapa Tuhan membiarkan penderitaan? Mengapa tanah yang selama ini menjadi tempat kita berpijak tiba-tiba bergerak, meruntuhkan rumah, memisahkan keluarga, dan merenggut orang-orang tercinta?” Pertanyaan dari Diakon Rikard itu tidak dimaksudkan untuk menghadirkan jawaban yang tergesa-gesa. Sebaliknya, OMK diajak tinggal sejenak dalam misteri penderitaan dan melihat bagaimana iman dapat hadir di tengah luka. Lebih lanjut, Fr. Erik Witin dalam renungan keduanya menegaskan tentang pentingnya harapan yang tidak pupus dalam keadaan ini dan menjadi cahaya bagi sesama. “Malam ini, kita berkumpul bukan hanya untuk berdiri dalam kegelapan, melainkan untuk membawa seberkas cahaya. Setiap nyala lilin mewakili doa dan ingatan kita yang tidak pernah padam bagi sama saudara yang tertimpa gempa bumi. Dalam aksi seribu lilin ini, kita percaya bahwa gempa yang terjadi tidak mampu meruntuhkan semangat, kasih sayang, kepedulian, dan keteguhan kita sebagai saudara.” Renungan Fr. Erik Witin yang saat ini sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Ritawolo. Dalam Renungan akhir, Romo Sam Beraona kembali menyentil tentang cahaya dan harapan dengan menegaskan bahwa keterlukaan yang dialami oleh para korban gempa mesti menjadi keterlukaan dan salib bagi kita juga.</p>
<p>“Dari tanah terberkati, lewotana Ritawolo ini kita belajar untuk paham dan mengerti bahwa luka yang mereka alami adalah juga menjadi luka kita bersama. Malam ini, dalam iman kita diajarkan bahwa ketidakmengertian kita tentang semua penderitaan yang dialami bukan berarti Tuhan tidak ada. Kita percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan manusia di dalam penderitaannya. Tuhan hadir dalam tangan-tangan yang menolong, dalam orang-orang yang datang membawa makanan, dalam relawan yang mengangkat reruntuhan, dalam pelukan seorang ibu, dalam doa-doa yang tidak pernah berhenti, dan dalam aksi seribu lilin kita untuk mengatakan bahwa harapan itu masih ada dan kita mesti menjadi cahaya bagi sesama.” Ucap Romo asal Lamalera ini dengan lantang.</p>
<p><strong>Cinta yang Tidak Padam dari Ritawolo</strong></p>
<p>Sebagai bentuk solidaritas yang tidak selesai dalam aksi seribu lilin ini, OMK Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo mengedar kotak amal dari rumah ke rumah di setiap Stasi untuk membantu para korban. Ketua OMK Paroki Ritawolo, Wens Herin, menjelaskan bahwa aksi solidaritas ini sebagai bukti cinta dan persaudaraan yang tidak pernah padam untuk para korban. “Solidaritas seribu lilin dan doa bersama ini sebagai bentuk kepedulian serta keterlibatan yang mendalam atas peristiwa yang dialami oleh para korban gempa bumi. Doa dan dukungan ini mungkin tampak sederhana tetapi langkah ini memberikan harapan untuk tidak merasa sendiri dalam penderitaan ini,” tandas Wens di sela-sela aksi seribu lilin.</p>
<p>Lebih lanjut Yanna Ritan, OMK dari Stasi Ritawolo memberikan komentar tentang aksi seribu lilin ini sebagai bentuk cinta yang tidak padam. “Malam ini, kami OMK juga belajar untuk menjadi lilin, menjadi cahaya bagi sesama secara khusus untuk mereka yang terluka. Malam ini, kami mungkin tidak mampu menjawab seluruh misteri penderitaan. Tetapi kami bisa memilih untuk tidak membiarkan penderitaan membuat kami berhenti mencintai dan peduli bagi sesama. Dan ketika seribu lilin ini bernyala, semoga kita semua mengerti bahwa kita mungkin tidak dapat mengusir seluruh kegelapan, tetapi kita selalu dapat memilih untuk menjadi cahaya.” Komentar Yanna dengan senyum takzim.</p>
<p>Aksi seribu lilin itu berakhir setelah OMK menyanyikan bersama ‘Dalam Yesus Kita Bersaudara’ sambil bergandengan tangan mengitari lilin-lilin yang bernyala dan merayakan persaudaraan dalam makan malam bersama. Malam di lapangan Seburi I selesai, lilin padam, tetapi solidaritas tetap menyala.</p>
<p>Sepenggal lirik lagu lawas ‘Masih ada Waktu’ karya Ebiet G. Ade seakan menjadi teman pulang paling mengena di malam dingin itu. Kita pasti ingat tragedi yang memilukan, kenapa harus mereka yang tertimbun tanah, tentu ada hikmah yang harus kita petik, atas nama jiwa mari heningkan cipta.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
