<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Universitas Brawijaya &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/universitas-brawijaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2026 15:29:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Universitas Brawijaya &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Infinity Harmony 2026, Kisah Haru Faiz dan Akeyla Menggema dalam Satu Nada Kemanusiaan</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/6398/infinity-harmony-2026-kisah-haru-faiz-dan-akeyla-menggema-dalam-satu-nada-kemanusiaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2026 15:29:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Populer]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Gedung Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM)]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Brawijaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=6398</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Malang— Di balik alunan musik dan kemegahan panggung Infinity Harmony 2026, tersimpan kisah perjuangan dua anak yang mengajarkan arti keberanian, harapan, dan kebahagiaan. Faiz dan Akeyla, dua pejuang kecil dengan persoalan kesehatan jantung, hadir dalam pertunjukan bertajuk “Satu Nada Kemanusiaan” di Gedung Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (17/10/2026). Bagi keduanya, kesempatan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>, Malang— Di balik alunan musik dan kemegahan panggung Infinity Harmony 2026, tersimpan kisah perjuangan dua anak yang mengajarkan arti keberanian, harapan, dan kebahagiaan. Faiz dan Akeyla, dua pejuang kecil dengan persoalan kesehatan jantung, hadir dalam pertunjukan bertajuk “Satu Nada Kemanusiaan” di Gedung Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (17/10/2026).</p>
<p>Bagi keduanya, kesempatan tampil bukan sekadar bagian dari pertunjukan seni. Momen tersebut menjadi ruang untuk merayakan keberanian, menikmati kebersamaan, sekaligus membuktikan bahwa setiap anak berhak merasakan kebahagiaan, apa pun tantangan kesehatan yang dihadapinya.</p>
<p>Infinity Harmony 2026 menghadirkan perpaduan orkestra dan teater modern yang tidak hanya menyuguhkan keindahan seni, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kemanusiaan dan inklusivitas. Salah satu pihak yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Yayasan Pejuang Mimpi, yang mendampingi anak-anak dengan beragam kondisi dan tantangan kesehatan.</p>
<p>Kehadiran anak-anak dampingan yayasan menjadi bagian penting dari pertunjukan tersebut. Mereka memperoleh ruang untuk berekspresi, berkarya, dan merasakan kebersamaan tanpa harus didefinisikan semata-mata oleh kondisi kesehatan yang mereka hadapi.</p>
<p><strong>Perjuangan di Balik Senyum</strong></p>
<p>Di balik penampilan yang penuh sukacita, Faiz dan Akeyla menyimpan perjuangan yang tidak sederhana. Keduanya menghadapi persoalan kesehatan jantung, sementara kondisi sejumlah anak dampingan Yayasan Pejuang Mimpi juga mengalami penurunan selama sebulan terakhir akibat perubahan cuaca.</p>
<p>Situasi itu sempat menimbulkan kekhawatiran. Pasalnya, anak-anak telah lama menantikan kesempatan untuk tampil dalam pertunjukan tersebut. Bagi mereka, panggung Infinity Harmony bukan sekadar tempat menunjukkan kemampuan, melainkan juga kesempatan untuk merasakan pengalaman berharga bersama teman-teman.</p>
<p>Pengasuh Yayasan Pejuang Mimpi mengungkapkan bahwa keikutsertaan anak-anak, khususnya Faiz dan Akeyla, merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Meski kondisi kesehatan keduanya tidak selalu stabil, mereka tetap berusaha agar dapat hadir dalam momen istimewa itu.</p>
<p>“Penampilan hari ini adalah sebuah penghargaan buat anak-anak, terutama untuk Faiz dan Akeyla, dua pejuang jantung yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Namun, untuk konser ini, mereka berjuang untuk sehat,” ungkapnya melalui pesan setelah kegiatan berlangsung.</p>
<p>Pernyataan tersebut menggambarkan betapa berharganya kesempatan yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi memiliki arti mendalam bagi anak-anak yang setiap hari berhadapan dengan tantangan kesehatan.</p>
<p><strong>Akeyla, dari Ruang Perawatan ke Panggung Kebahagiaan</strong></p>
<p>Kisah Akeyla menjadi salah satu bagian paling menyentuh dalam perjalanan menuju pertunjukan tersebut.</p>
<p>Sebelum acara berlangsung, Akeyla sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Kondisi itu membuat keikutsertaannya hampir dibatalkan. Menurut penuturan pengasuh yayasan, keluarga Akeyla juga menerima kabar berat dari dokter mengenai kondisi kesehatan dan harapan kesembuhannya.</p>
<p>Di tengah masa perawatan, Akeyla hanya dapat menyaksikan teman-temannya berlatih dari tempat tidurnya di rumah sakit. Namun, keinginannya untuk hadir dan menjadi bagian dari pertunjukan tetap terlihat.</p>
<p>Melihat kerinduan sang anak, orang tua Akeyla akhirnya memutuskan untuk tetap membawanya menghadiri kegiatan tersebut agar ia dapat merasakan kebahagiaan bersama teman-temannya.</p>
<p>Keputusan itu menghadirkan pengalaman yang penuh makna. Selama kegiatan berlangsung, Akeyla terlihat ceria dan bersemangat. Di tengah perjuangan kesehatannya, ia memperoleh kesempatan untuk menikmati suasana pertunjukan dan mengabadikan momen bersama orang-orang yang hadir.</p>
<p>Salah satu kebahagiaan yang dirasakannya adalah ketika berkesempatan berfoto bersama Ratna Handini, S.H., selaku Dewan Penasihat Yayasan Ariosan Malang.</p>
<p>“Hari ini Key bahagia sekali. Dia seolah tidak sakit. Hari ini dia begitu ceria, begitu semangat, terutama saat berfoto dengan Bu Ratna,” tutur pengasuh yayasan tersebut.</p>
<p>Bagi keluarga besar Yayasan Pejuang Mimpi, keceriaan Akeyla menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Kebahagiaan itu menunjukkan bahwa di balik perjuangan kesehatan yang berat, seorang anak tetap memiliki harapan, impian, dan keinginan sederhana untuk diterima, ditemani, serta menikmati kebersamaan.</p>
<p>Momen tersebut juga menjadi pengingat bahwa kehadiran, perhatian, dan kesempatan untuk terlibat dalam kehidupan sosial dapat memberikan pengalaman emosional yang sangat berarti bagi anak-anak.</p>
<p><strong>Satu Nada, Sejuta Makna Kemanusiaan</strong></p>
<p>Pengasuh Yayasan Pejuang Mimpi menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam menghadirkan senyum dan kebahagiaan bagi anak-anak melalui Infinity Harmony 2026.</p>
<p>Ia juga memohon doa bagi kesehatan para pejuang kecil yang masih menjalani perjuangan masing-masing.</p>
<p>“Terima kasih untuk senyum yang tercipta hari ini. Mohon doa untuk kesehatan para pejuang kecil kami. Doa terbaik dari Bapak, Ibu, dan teman-teman di Ariosan Foundation semoga bisa menjadi jubah pelindung bagi anak-anak kami,” ungkapnya.</p>
<p>Melalui tema “Satu Nada Kemanusiaan”, Infinity Harmony 2026 menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang perjumpaan yang melampaui perbedaan dan keterbatasan. Perpaduan musik, teater, dan ekspresi modern tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya kepedulian, penerimaan, dan penghargaan terhadap setiap individu.</p>
<p>Kisah Faiz dan Akeyla menjadi pengingat bahwa harmoni tidak selalu lahir dari keadaan yang sempurna. Terkadang, harmoni justru tumbuh dari keberanian untuk tetap berharap di tengah kesulitan, dari kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan, serta dari kebahagiaan sederhana yang dibagikan bersama.</p>
<p>Di antara nada-nada yang menggema di Gedung FILKOM Universitas Brawijaya, tersampaikan pesan bahwa setiap anak memiliki martabat, setiap perjuangan layak dihargai, dan setiap senyum menyimpan arti yang mendalam.</p>
<p>Sebab, pada akhirnya, kemanusiaan bukan hanya tentang seberapa indah sebuah pertunjukan dipentaskan, melainkan tentang seberapa besar ruang yang diberikan kepada sesama untuk merasa diterima, dihargai, dan bahagia.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
