<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seni Audiovisual &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/seni-audiovisual/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Oct 2026 05:10:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Seni Audiovisual &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Film &#8216;Anak Babi Bapa&#8217; Lolos Nominasi Nasional, Yansen Paji: Ini Adalah Film Pertama</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/6441/film-anak-babi-bapa-lolos-nominasi-nasional-yansen-paji-ini-adalah-film-pertama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2026 04:32:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Arys Hayon]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Film Anak Babi Bapa]]></category>
		<category><![CDATA[IFTK Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[Misenema]]></category>
		<category><![CDATA[perspektifnusantara.com]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Audiovisual]]></category>
		<category><![CDATA[Yansen Paji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=6441</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM&#8211; Film &#8216;Anak Babi Bapa&#8217; karya Yansen Paji dkk berhasil menggemparkan pencinta film tana air. Film yang diproduksi oleh Misenema Production dan diproduseri oleh Arys Hayon ini berhasil masuk nominasi dalam dua ajang film sekaligus yakni 100 % Manusia dan Flobamora Film festival. Pada ajang 100% Manusia, Film &#8216;Anak Babi Bapa&#8217; akan diputar di 3 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>&#8211; Film &#8216;Anak Babi Bapa&#8217; karya Yansen Paji dkk berhasil menggemparkan pencinta film tana air. Film yang diproduksi oleh Misenema Production dan diproduseri oleh Arys Hayon ini berhasil masuk nominasi dalam dua ajang film sekaligus yakni 100 % Manusia dan Flobamora Film festival. Pada ajang 100% Manusia, Film &#8216;Anak Babi Bapa&#8217; akan diputar di 3 kota yakni Jakarta, Jogjakarta dan Bali. Sedangkan pada Flobamora Film Festival, Film ini akan ditayang di Kupang pada akhir Oktober.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Inisiasi Awal  ke Dunia Film </strong></p>
<p>Inisiasi awal film &#8216;Anak Babi Bapa&#8217; bermula dari kesulitas memproduksi skript film sebelumnya yang berjudul &#8216;Maria&#8217;. Yansen Paji selaku sutradara mengaku bahwa pola pendekatan dalam sebuah film sangat mempengaruh proses produksinya. Metode Pendekatan yang tidak efesien akan menentukan sukses dan tidaknya sebuah film. Pendekatan yang kurang efesien dalam film Maria telah menenentukan bagaimana kesudahan proses produksinya.</p>
<p>Kegagalan pada Film Maria memacu Yansen Paji untuk berpikir keras. Puncaknya adalah perubahan metode pendekatan yang mempertimbangkan efektivitas proses produksi seperti sumber daya yang cepat diakses yang meliput tempat, actor dan hal-hal teknis lainnya. Hal ini merambah sampai pada kontak cerita yang mau dibangun atau digarap. Dari metode pendekatan yang baru munculah sebuah kesadaran untuk memulai melihat persoalan yang paling dekat dimulai dari kepekaan melihat situasi, dialog antar sesama dalam lingkup kehidupan setiap hari yang pada akhirnya dialog tersebut mengerucut pada persoalan: bagaimana menjadi seorang eks frater dan pandangan orang terhadapnya. Dialog tersebut juga pada akhirnya melahirkan persepsi bahwa setiap eks frater mengalami persoalan yang berfariasi, dari penerimaan sampai pada penolakan. Fenomena ini yakni penerimaan dan penolakan mendorong dan mengantar Yansen Paji, Sutradara film &#8216;Anak Babi Bapa&#8217;, untuk melakukan riset lebih mendalam dengan basisnya penelitian adalah kehidupan di kos dimana Sutradara tinggal dan berinteraksi dengan teman-teman yang notabene merupakan mahasiswa IFTK Ledalero sekaligus eks frater dari seminari/biara-biara terdekat.</p>
<p><strong>‘Anak Babi Bapa’</strong></p>
<p>Persoalan yang dihadapi oleh anak kos pasca keluar seminari/biara dan pandangan orang, baik itu orang terdekat maupun yang lainnya sampai pada relasi dalam keluarga, merupakan persoalan yang relate dan riil. Yansen Paji melihat adanya pola yang selalu sama yang dihadapi oleh para mahasiswa yang merupakan eks frater yang memilih tinggal dan hidup di kos bahwasannya lazim terjadi penolakan, perubahan status dan cara pandangan yang berbeda, dari pengagungan yang luar biasa menjadi pengucilan dan penolakan. Hal senada hampir dialami sebagian besar mahasiswa eks frater. Fenomena yang terjadi adalah selalu terjadi benturan antara pilihan yang diambil dan keinginan orang tua. Ini merupakan sebuah riset sederhana yang dibangun melalui obrolan lepas antar anak kos. Hasil obrolan kemudian dipetahkan per persoalan, membuat synopsis dan kemudian ditulis menjadi skript yang pada akhirnya menjadi hidangan audiovisual yang berjudul ‘Anak Babi Bapa’.</p>
<p>Mengapa ‘Anak Babi’? Diksi anak Babi pada film &#8216;Anak Babi Bapa&#8217; adalah symbol yang disandingan dengan simbol lainnya yakni anak domba. Simbol yang sedang ‘dipermainkan’ dalam film ini adalah anak babi dan anak domba dengan basis referensinya adalah tradisi Geraja Katolik sebagai dua entitas simbol yang kontradiktif. Dasar biblisnya: dalam Kitab Suci  Yesus mengajarkan untuk meninggalkan 99 ekor demi mencari satu anak domba. Sedangkan dalam film ‘Anak Babi Bapa’ terdapat semacam pertanyaan reflektif dari tokoh: apakah saya adalah anak domba yang hilang kemudian dicari ataukah anak babi yang mana seperti dalam Kitab Suci  bahwa Yesus memindahkan roh-roh jahat kedalam kawanan babi dan babi itu melompat ke dalam jurang. Tokoh mempertanyakan apakah dia adalah anak domba yang dicari ketika hilang ataukah anak babi yang sekalipun lompat ke jurang tidak akan dicari.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>‘Anak Babi Bapa’ : Dari Kamar Kos Menuju 100 % Manusia</strong></p>
<p>Pencapain Film ‘Anak Babi Bapa’ yang disutradarai oleh Yansen Paji dan diproduseri oleh Arys Hayon adalah masuk nominasi pada dua ajang festival film sekaligus yakni 100% Manusia dan Flobamora Film Festival. Pada ajang 100% manusia, film  akan diputar di 3 kota yakni Jakarta, Jogjakarta dan Bali dan teranyar di Flobamora Film Festival yang akan ditayang di Kupang pada akhir Oktober. Mengapa di ajang 100 % Manusia dan flobamora film Festival ? Yansen Paji mengaku bahwa akses menuju kedua ajang ini lebih terbuka. Hal tersebut tidak terlepas juga dari karaketer film yang diproduksi yang sangat relevan dengan ajang film bersangkutan.</p>
<p>“Karena dua ajang film ini cukup mudah untuk dijangkau dan festival yang sudah dikenal. Setelah mengirim Film ini di 2 ajang ini barulah digali sumber-sumber festival dan menemukan cukup banyak festival yang dapat diakses dengan berbagai tema dan karakteristiknya. Karakter film &#8216;Anak Babi Bapa&#8217; ini sangat  relate dengan kedua ajang film ini dimana, ‘Anak Babi Bapa’ relate dengan Isu kemanusiaan yang menjadi syarat dan karakter khusus di Ajang 100 % Manusia dan Flobamora Film Festival adalah basis eksistensialnya.” Ungkap Yansen Paji.</p>
<p>Hal ini menjadi alasan utama mengapa harus ke 100 % Manusia dan Flobamora Film Festival. Namun tidak menutup kemungkinan film ini akan dieksplorasi lebih jauh dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku dalam dunia festival.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6452" src="https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-29-at-11.52.47-284x300.jpeg" alt="" width="284" height="300" srcset="https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-29-at-11.52.47-284x300.jpeg 284w, https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-29-at-11.52.47.jpeg 726w" sizes="(max-width: 284px) 100vw, 284px" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Misenema: Semut kecil yang Menjadi Rumah Besar </strong></p>
<p>Film &#8216;Anak Babi Bapa&#8217; karya Yansen Paji ddk diproduksi pada sebuah rumah produksi yang bernama Misenema Production. Misenama mencerminkan sebuah kerja kolaboratif Yansen Paji dkk yang tidak terlepas dari kenyataan yang terjadi selama proses produksi. Selama proses produksi Yansen Paji dkk  bahu-membahu menyelesaikan berbagai pekerjaan. Masing-masing orang datang dengan kemampuan yg berbeda-beda: ada yang paham tentang audio, ada yang terampil dalam menggunakan kamera dan ada yang bisa mengatur lighting, dan lain-lain.</p>
<p>“Misenema itu nama rumah produksi kami. Itu penggabungan dari dua kata yakni &#8220;mise&#8221; dan &#8220;sinema&#8221;. &#8220;Mise&#8221; itu kata bahasa Lio yg artinya semut, sedangkan sinema itu merujuk pada seni, medium, sekaligus praktik penciptaan dan pengalaman film sebagai karya audiovisual” tambah Yansen.</p>
<p>Keberhasilan film tersebut secara khusus pada masuknya ke nominasi di ajang 100% Manusia dan Flobamora Film Festival merupakan buah dari kerjasama apik antar pihak. Berawal dari keberanian dan komitmen untuk mencoba sesuatu yang baru, Yansen Paji dkk mampu menyulap Misenama dari sebuah semut kecil  menjadi rumah yang besar. Keberhasilan ini membuat Yansen Paji dan kawan-kawan merasa bahagia bukan hanya karena apresiasi dari kedua ajang film tersebut. Yansen melihat adanya  pengakuan publik terhadap film yang digarap kurang lebih 5 bulan tersebut.</p>
<p>“Senang dan terharu karena pertama kali memproduksi film dan langsung diterima ke Festival. Diterimanya Film Anak Babi Bapa ini tidak sekedar apresiasi tetapi juga merupakan bentuk penghargaan dan pengakuan bahwa film tersebut layak untuk ditonton oleh publik” tambah Yansen.</p>
<p>Penerimaan sebuah film dalam sebuah festival merupakan jalan panjang yang tidak mudah. Sebuah film mesti melewati banyak tahapan mulai dari kurasi sampai pada penilaian. Selain itu karakter film tentu harus relate dengan tipe atau karakter  festival. Film &#8216;Anak Babi Bapa&#8217; adalah film pendek yang memenuhi persyaratan tersebut. Karekter film yang dibangun lebih menekankan aspek kemanusiaan yang relate dengan ajang 100 % Manusia dan Flobamora Film Festival adalah basis aksistensialnya.</p>
<p>Kesuksesan Film &#8216;Anak Babi Bap&#8217;a tidak terlepas dari perjuangan melawan tantangan. Sebagai sebuah karya seni, proses produksi film sebuah film pada dasarnya harus memiliki sumber daya yang mantap. Kru setidaknya berpengalaman di dunia film. Namun hal ini tidak dimiliki oleh Yansen Paji dkk.  Menurut pengakuan Yansen, dari kru yang ada, hanya satu diantaranya yang sudah cukup berpengalaman di dunia industri film. Selebihnya bermodalkan niat dan keberanian untuk memulai sesuatu yang baru.</p>
<p>“Dari kru yang ada, hanya satu diantaranya yang sudah cukup berpengalaman di dunia industry film, yakni Mantero sebagai Direct of Photografy” Tambah Yansen.</p>
<figure id="attachment_6443" aria-describedby="caption-attachment-6443" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-6443" src="https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-26-at-11.29.01-300x169.jpeg" alt="" width="300" height="169" srcset="https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-26-at-11.29.01-300x169.jpeg 300w, https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-26-at-11.29.01-1024x576.jpeg 1024w, https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-26-at-11.29.01-768x432.jpeg 768w, https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-26-at-11.29.01.jpeg 1366w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-6443" class="wp-caption-text">Yansen Paji, Sutradara dan Kru Misenema</figcaption></figure>
<p>Keterbatasan dan kekurangan yang pada akhirnya mendapat balasan yang setimpal membuat Yansen Paji dan kawan-kawan merasa bangga. Yansen mengaku berterima kasih kepada kru yang bekerja dengan keras tanpa menyerah hingga pada akhirnya memperoleh hasil yang luar biasa.</p>
<p>“Terima kasih karena film yang kita produksi membuahkan hasil yakni lolos festival . Itu artinya kerja keras kita berbuah baik dan tentu ini bukan merupakan film terakhir melainkan awal dan nanti akan ada pengalaman dan keseruan lain yang akan datang. Untuk penonton, selamat menikmati, selamat menonton.” Ungkap Yansen.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hal lain juga diungkapkan oleh Arys Hayon. Arys Hayon selaku produser dalam film ini mengakui bahwa proses produksi ini berawal dari minus tetapi pada akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa. Arys juga berterima kasih kepada kru Misenema dan mengingatkan untuk tidak berpuas diri.</p>
<p>“Teruslah berkarya, jangan putus asa, biarlah karya kita yang berbicara,” Ungkap Arys.</p>
<p>Di sisi lain Kru Misenama juga berharap semoga film ini membuka ruang diskusi untuk lebih jauh melihat bagaimana persoalan agama atau bagaimana membaca agama secara lebih kritis, melihat fenomena agama lebih terbuka dan tidak hanya meletakan agama pada ruang privat karena agama sendiri sangat mempengaruhi cara manusia bertindak, cara manusia bertutur dan cara manusia bersikap. Semoga film ini dapat membuka ruang diskusi lebih luas.</p>
<p>Keberhasilan Film Anak Babi Bapa yang diproduksi oleh Misenema Production memberikan gambaran dan pemahaman bahwa tidak semua hal yang terlihat biasa akan berjalan dengan baik, tidak semua pengagungan terhadap status seseorang adalah tulus dan kekal. Terkadang orang mengagungkan seseorang hanya karena status sosialnya tanpa benar-benar merupakan susuatu yang berasal dari hati. Film &#8216;Anak Babi Bapa&#8217; juga menjadi pengingat: kita setia menentukan langkah sedangkan arahnya urusan Tuhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan berita terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
