<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Noni &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/noni/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 May 2026 00:17:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Noni &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kalahkan Mafia Italia !</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4278/kalahkan-mafia-italia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 May 2026 00:15:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Barang Bukti]]></category>
		<category><![CDATA[Forum 10 Suku]]></category>
		<category><![CDATA[Hewokloang]]></category>
		<category><![CDATA[maumere]]></category>
		<category><![CDATA[Moral]]></category>
		<category><![CDATA[Noni]]></category>
		<category><![CDATA[perspektifnusantara.com]]></category>
		<category><![CDATA[Romanduru]]></category>
		<category><![CDATA[Rubit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4278</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM-Suasana haru bercampur amarah mewarnai aksi damai yang digelar oleh Forum 10 Suku Romanduru – Rubit – Hewokloang bersama keluarga almarhumah Stevania Trisanti Noni, Senin, 11 Mei 2026. Massa menuntut keadilan atas kematian tragis Noni yang dinilai penuh kejanggalan, terutama terkait hilangnya barang bukti dalam waktu yang sangat singkat. &#160; *Lebih Hebat dari Mafia Italia* [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>-Suasana haru bercampur amarah mewarnai aksi damai yang digelar oleh Forum 10 Suku Romanduru – Rubit – Hewokloang bersama keluarga almarhumah Stevania Trisanti Noni, Senin, 11 Mei 2026. Massa menuntut keadilan atas kematian tragis Noni yang dinilai penuh kejanggalan, terutama terkait hilangnya barang bukti dalam waktu yang sangat singkat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>*Lebih Hebat dari Mafia Italia*</h2>
<p>Dalam orasi di halaman Kejaksaan Negeri Sikka, perwakilan keluarga korban, Fabianus Beto, melontarkan kritik pedas terhadap jalannya penyelidikan di Polres Sikka, dimana ia meyakini ada skenario besar di baliknya.</p>
<p>&#8220;Pelaku satu anak kecil menghilangkan barang bukti hanya dalam waktu dua setengah jam, ini mengalahkan mafia di Italia,&#8221; seru Fabianus di tengah massa aksi.</p>
<p>Ia menegaskan bahwa kasus ini bukan perkara biasa, melainkan pembunuhan yang &#8220;keji, sadis, dan biadab&#8221;. Fabianus meminta negara hadir untuk korban, bukan untuk pelaku.</p>
<p>&#8220;Apabila tidak diberi hukuman mati, maka biarkan kami yang akan membina dia untuk menjadi lebih baik. Kemana kami harus meminta kalau bukan kepada negara ini?&#8221; tambahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>*Beban Adat dan Konsekuensi Moral*</h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kepedihan mendalam juga disampaikan oleh Martinus Mitan, perwakilan suku Lio Watubao, saat audiensi dengan Kepala Kejaksaan Negeri Sikka, Armadha Tangdibali. Selain persoalan hukum, hilangnya barang bukti berupa pakaian korban membawa konsekuensi moral dan adat yang berat.</p>
<p>&#8220;Dalam adat budaya kami, korban tidak akan tenang dan tidak bisa bertemu nenek moyangnya karena barang bukti pakaian belum ditemukan. Dia malu pulang &#8216;telanjang&#8217;,&#8221; ungkap Martinus.</p>
<p>Ia bahkan menawarkan bantuan jika penyidik kepolisian merasa tidak sanggup. &#8220;Kalau memang penyidik tidak bisa menghadirkan barang bukti, apakah boleh kami turut mencari?&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4>*Dugaan Anak Sebagai Tumbal*</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibu kandung korban, Maria Yohana Nona, menyampaikan kekhawatirannya di Aula Kejaksaan Negeri Sikka. Ia menduga adanya praktik perlindungan terhadap pelaku dewasa dengan memanfaatkan status hukum anak di bawah umur.</p>
<p>&#8220;Orang tuanya yang berbuat, anaknya yang dijadikan tumbal dengan berlindung karena anak di bawah umur,&#8221; ucap Maria dengan suara bergetar.</p>
<p>Ia khawatir jika hukuman yang dijatuhkan ringan, kejadian serupa akan terulang kembali di masa depan.</p>
<p>Aksi yang melibatkan gabungan 10 suku dan keluarga besar korban ini berakhir setelah massa melakukan orasi di Pengadilan Negeri Maumere. Mereka menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga seluruh pihak yang terlibat diseret ke meja hijau dengan hukuman yang setimpal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kasus Kematian Noni Memanas, Kajari Sikka Ungkap Dugaan Sumpah Palsu dan Sinyal Perkara Baru</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4241/kasus-kematian-noni-memanas-kajari-sikka-ungkap-dugaan-sumpah-palsu-dan-sinyal-perkara-baru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 May 2026 16:43:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum & Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Kejaksaan Negeri Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Kejari Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian Tragis]]></category>
		<category><![CDATA[Noni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4241</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE — Tangis, amarah, dan tuntutan keadilan menyatu dalam aksi damai yang digelar Forum 10 Suku Romandoru–Rubit–Hewokloang bersama keluarga almarhumah Stevania Trisanti Noni di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Sikka, Senin (11/5/2026). Massa mendatangi Kejari Sikka untuk mendesak penegakan hukum yang dinilai harus lebih transparan dan menyeluruh dalam mengusut kasus kematian tragis Stevania Trisanti Noni. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE</strong> — Tangis, amarah, dan tuntutan keadilan menyatu dalam aksi damai yang digelar Forum 10 Suku Romandoru–Rubit–Hewokloang bersama keluarga almarhumah Stevania Trisanti Noni di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Sikka, Senin (11/5/2026). Massa mendatangi Kejari Sikka untuk mendesak penegakan hukum yang dinilai harus lebih transparan dan menyeluruh dalam mengusut kasus kematian tragis Stevania Trisanti Noni.</p>
<p>Aksi tersebut berlangsung tertib, namun penuh tekanan moral terhadap aparat penegak hukum. Keluarga korban menilai masih banyak kejanggalan yang belum terungkap, termasuk dugaan keterlibatan pihak lain di balik kasus tersebut.<br />
Keluarga Korban Soroti Dugaan Kejanggalan</p>
<p>Dalam audiensi yang berlangsung di Aula Kejaksaan Negeri Sikka, Emanuel Mula selaku perwakilan keluarga korban menyampaikan bahwa pihak keluarga masih meragukan konstruksi perkara yang berkembang sejauh ini.<br />
Menurutnya, sangat sulit dipercaya apabila seluruh rangkaian tindakan dalam kasus tersebut dilakukan seorang diri oleh anak yang masih di bawah umur dalam waktu singkat.</p>
<p>“Kami belum meyakini kalau semua itu dilakukan dengan begitu rapi hanya oleh anak pelaku. Kami meminta Kejaksaan melihat kembali kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain,” ujar Emanuel di hadapan Kepala Kejaksaan Negeri Sikka.<br />
Keluarga juga meminta agar proses hukum tidak hanya mempertimbangkan faktor usia pelaku, tetapi juga memperhatikan tingkat kejahatan dan dampak yang ditimbulkan terhadap korban serta keluarga.<br />
“Hukum jangan hanya melihat umur, tetapi juga melihat kejahatan yang dilakukan,” tegas Emanuel.<br />
Pernyataan tersebut langsung mendapat dukungan dari massa aksi yang hadir dalam audiensi. Mereka berharap aparat penegak hukum dapat mengusut kasus secara menyeluruh hingga ke akar persoalan.</p>
<p><strong>Kajari Sikka Ungkap Potensi Perkara Baru</strong></p>
<p>Menanggapi berbagai tuntutan tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri Sikka, Armadha Tangdibali, S.H., M.H., menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menangani perkara secara profesional dan terbuka.<br />
Dalam penjelasannya, Kajari mengungkapkan bahwa Kejaksaan saat ini tengah mendorong proses hukum baru terkait dugaan pemberian sumpah palsu dalam perkara tersebut.<br />
“Kami sudah meminta penetapan hakim terkait dugaan sumpah palsu yang diduga dilakukan oleh kakek dan ayah pelaku. Ancaman hukumannya bisa mencapai tujuh tahun penjara,” ungkap Armadha.</p>
<p>Pernyataan itu sontak menjadi perhatian massa aksi karena dinilai membuka kemungkinan adanya perkembangan baru dalam penanganan kasus.<br />
Kajari juga menegaskan bahwa institusinya tidak memiliki kepentingan lain selain memastikan proses hukum berjalan sesuai aturan yang berlaku.<br />
“Kami bekerja secara profesional dan terbuka. Kami tidak memiliki kepentingan apa pun dalam perkara ini. Yang kami inginkan adalah proses hukum berjalan sebagaimana mestinya,” katanya.</p>
<p><strong>Terkendala Regulasi Perlindungan Anak</strong></p>
<p>Terkait tuntutan keluarga agar pelaku dijatuhi hukuman maksimal, Kajari menjelaskan bahwa jaksa tetap terikat pada regulasi hukum positif, khususnya aturan perlindungan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum.<br />
Menurutnya, ada batasan-batasan normatif yang harus dipatuhi dalam proses penuntutan terhadap pelaku di bawah umur.</p>
<p>Meski demikian, Kejaksaan memastikan seluruh proses hukum akan dilakukan secara maksimal berdasarkan alat bukti dan fakta persidangan.<br />
Digital Forensik Jadi Sorotan</p>
<p>Dalam audiensi tersebut, isu digital forensik juga menjadi perhatian utama keluarga korban. Mereka menilai bukti digital sangat penting untuk membuka kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain maupun mengungkap motif sebenarnya.<br />
Menanggapi hal itu, Kajari Sikka mengakui pentingnya digital forensik dalam pengungkapan perkara modern. Namun, ia menjelaskan bahwa kewenangan menghadirkan dan melakukan pendalaman digital forensik berada pada institusi lain dalam proses penyidikan.<br />
“Kami sepakat digital forensik itu penting, tetapi kewenangan menghadirkannya bukan berada pada Kejaksaan,” jelasnya.</p>
<p><strong>Massa Kawal Hingga Persidangan Tuntas</strong></p>
<p>Usai melakukan audiensi di Kejaksaan Negeri Sikka, massa aksi kemudian bergerak menuju Pengadilan Negeri Maumere secara tertib dengan pengawalan aparat keamanan.<br />
Keluarga korban menegaskan bahwa mereka akan terus mengawal jalannya persidangan hingga seluruh fakta terungkap secara terang-benderang. Mereka juga berharap tidak ada pihak lain yang lolos dari proses hukum apabila terbukti terlibat dalam kasus kematian Stevania Trisanti Noni.</p>
<p>Bagi keluarga dan Forum 10 Suku, perjuangan mereka bukan sekadar mencari hukuman bagi pelaku, tetapi memastikan keadilan benar-benar ditegakkan tanpa menyisakan misteri di balik kematian korban.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>“Kami Butuh Lie Detector, Bukan Sembako” — Keluarga Noni dan Forum 10 Suku Guncang Kejari Sikka, Soroti Dugaan Kejanggalan Kasus Kematian Stevania</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4238/kami-butuh-lie-detector-bukan-sembako-keluarga-noni-dan-forum-10-suku-guncang-kejari-sikka-soroti-dugaan-kejanggalan-kasus-kematian-stevania/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 May 2026 16:40:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum & Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Kejaksaan Negeri Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian Tragis]]></category>
		<category><![CDATA[Noni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4238</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM- Gelombang tuntutan keadilan kembali menggema di Kabupaten Sikka. Ratusan massa yang tergabung dalam Forum 10 Suku Romanduru–Rubit–Hewokloang bersama keluarga almarhumah Stevania Trisanti Noni menggelar aksi damai di halaman Kantor Kejaksaan Negeri Sikka, Senin (11/5/2026). Aksi tersebut berlangsung penuh emosi dan sorotan tajam terhadap proses penanganan hukum kasus kematian Stevania Trisanti Noni yang hingga kini [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM- </strong>Gelombang tuntutan keadilan kembali menggema di Kabupaten Sikka. Ratusan massa yang tergabung dalam Forum 10 Suku Romanduru–Rubit–Hewokloang bersama keluarga almarhumah Stevania Trisanti Noni menggelar aksi damai di halaman Kantor Kejaksaan Negeri Sikka, Senin (11/5/2026).</p>
<p>Aksi tersebut berlangsung penuh emosi dan sorotan tajam terhadap proses penanganan hukum kasus kematian Stevania Trisanti Noni yang hingga kini dinilai masih menyisakan banyak tanda tanya. Massa datang membawa poster, spanduk, dan selebaran berisi tuntutan agar aparat penegak hukum membuka seluruh fakta secara transparan.</p>
<p>Salah satu poster yang paling menyita perhatian bertuliskan, “Kami butuh lie detector, bukan sembako.” Kalimat itu menjadi simbol kekecewaan sekaligus bentuk ketidakpercayaan keluarga terhadap proses penyelidikan yang dianggap belum mampu mengungkap fakta secara terang.</p>
<p>Tak hanya itu, sejumlah poster lain juga memuat kritik keras terhadap penanganan kasus tersebut. Di antaranya berbunyi:<br />
“Barang bukti pakaian korban, jempol ibu jari, rambut, dan HP korban belum ditemukan?”<br />
“Kami butuh digital forensik.”<br />
“Polres Sikka tidak serius tangani kasus Noni.”<br />
“Ungkap semua pihak yang terlibat.”</p>
<p>Massa menilai masih banyak barang bukti penting yang belum berhasil diamankan maupun dijelaskan keberadaannya oleh aparat penegak hukum.<br />
Orasi Keras: “Mengalahkan Mafia Italia”<br />
Dalam orasinya, Fabianus Beto selaku perwakilan keluarga korban melontarkan kritik tajam terhadap dugaan hilangnya sejumlah barang bukti dalam waktu singkat. Ia mempertanyakan kemungkinan seorang anak di bawah umur mampu menghilangkan berbagai jejak kriminal secara sistematis.</p>
<p>“Pelaku yang masih anak-anak disebut mampu menghilangkan barang bukti hanya dalam waktu dua setengah jam. Kalau benar begitu, kemampuan itu bahkan mengalahkan mafia Italia. Kami percaya kasus ini bukan kasus biasa,” tegas Fabianus di hadapan massa aksi.<br />
Menurutnya, kasus kematian Noni harus diusut secara menyeluruh karena keluarga menduga masih ada fakta-fakta penting yang belum diungkap ke publik. Ia juga meminta aparat penegak hukum tidak tunduk terhadap tekanan pihak tertentu yang diduga ingin memengaruhi proses hukum.</p>
<p>Fabianus menegaskan bahwa keluarga korban menginginkan penanganan perkara dilakukan secara profesional, transparan, dan berpihak pada rasa keadilan masyarakat.<br />
Keluarga Ragukan Pelaku Tunggal<br />
Dalam audiensi bersama Kepala Kejaksaan Negeri Sikka, Armadha Tangdibali, S.H., M.H., keluarga korban kembali menyampaikan keraguan mereka terkait dugaan pelaku tunggal dalam kasus tersebut.</p>
<p>Emanuel Mula, yang merupakan bapa kecil korban, menilai pola kejahatan yang terjadi tampak terlalu rapi apabila dilakukan seorang diri oleh anak yang masih di bawah umur.<br />
“Kami meminta Kejaksaan mendalami kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain. Ada banyak hal yang menurut kami belum terjawab,” ujar Emanuel.<br />
Ia juga menyoroti belum terungkapnya motif pembunuhan serta sejumlah barang bukti yang hingga kini belum ditemukan, termasuk telepon genggam yang dinilai penting untuk kepentingan digital forensik.</p>
<p>Menurut keluarga, negara seharusnya hadir memberikan rasa keadilan kepada korban dan keluarganya melalui pengungkapan fakta secara menyeluruh, bukan sekadar mempercepat proses hukum tanpa pendalaman.</p>
<p><strong>Desak Transparansi dan Pengungkapan Fakta</strong></p>
<p>Aksi damai tersebut berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Massa juga membagikan selebaran berisi pernyataan sikap kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk ajakan moral agar publik ikut mengawal proses hukum kasus kematian Stevania Trisanti Noni.</p>
<p>Forum 10 Suku bersama keluarga korban berharap Kejaksaan Negeri Sikka dapat menggali seluruh fakta yang belum terungkap dan memastikan proses hukum berjalan secara objektif serta transparan.<br />
Bagi keluarga, perjuangan mereka bukan hanya soal menghukum pelaku, tetapi juga memastikan tidak ada fakta yang disembunyikan dalam kasus yang telah mengguncang perhatian masyarakat Sikka tersebut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
