<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kasus Kematian Noni &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/kasus-kematian-noni/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Sat, 23 May 2026 06:46:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Kasus Kematian Noni &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Demonstrasi Tuntut Keadilan bagi Almarhumah Noni, Kuasa Hukum: &#8220;Polisi Terlalu Lembut, Kita Ditipu!&#8221;</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4515/demonstrasi-tuntut-keadilan-bagi-almarhumah-noni-kuasa-hukum-polisi-terlalu-lembut-kita-ditipu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2026 06:46:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum & Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[JPIC SVD]]></category>
		<category><![CDATA[Kapolres Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus Kematian Noni]]></category>
		<category><![CDATA[Kejaksaan Negeri Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Kuasa Hukum Kasus Noni]]></category>
		<category><![CDATA[Pengadilan Negeri Maumere]]></category>
		<category><![CDATA[Truk F Maumere]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4515</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE — Ratusan massa yang tergabung dalam Front Mahasiswa dan Masyarakat Sikka Peduli Noni menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran pada Kamis (21/5/2026). Massa mengawal ketat jalannya sidang dan proses hukum kasus pembunuhan anak di bawah umur, almarhumah Stevania Trisanti Noni (14), dengan mendatangi Markas Polres Sikka dan Pengadilan Negeri (PN) Maumere. ​Aksi yang berlangsung [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE</strong> — Ratusan massa yang tergabung dalam Front Mahasiswa dan Masyarakat Sikka Peduli Noni menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran pada Kamis (21/5/2026). Massa mengawal ketat jalannya sidang dan proses hukum kasus pembunuhan anak di bawah umur, almarhumah Stevania Trisanti Noni (14), dengan mendatangi Markas Polres Sikka dan Pengadilan Negeri (PN) Maumere.</p>
<p>​Aksi yang berlangsung emosional ini diwarnai dengan audiensi panas antara perwakilan massa, kuasa hukum, tokoh agama, bersama <a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno</a>, dan Kasat Reskrim, Iptu Reinhard Dionisius Siga. Massa menilai ada kejanggalan besar dan menduga kuat adanya keterlibatan aktor lain yang belum tersentuh hukum.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>​<strong>Kuasa Hukum Minta Polisi Tindak Tegas: &#8220;Kita Ditipu!&#8221;</strong></h2>
<p>​Kuasa hukum keluarga korban, <a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Victor Nekur</a>, dengan lantang mengkritik lambatnya penanganan kasus ini. Ia menilai kepolisian terlalu &#8220;lembut&#8221; dalam melakukan penyidikan terhadap pihak-pihak yang diduga menyembunyikan barang bukti.​&#8221;Karena sudah terlalu lama Pak Kapolres, Polisi terlalu lembut, kita ditipu. Kita terlalu beri ruang, hukum ini terlalu memberikan ruang penjahat. Kadang polisi tegas kami protes, tapi dalam kasus ini saya pikir saatnya (menggunakan ketegasan),&#8221; tegas Victor.</p>
<p>​Victor juga menyoroti peran paman (bapak kecil) dari pelaku utama, Rovin, yang diduga mengetahui penyimpanan ponsel milik korban.</p>
<p>Ia bahkan siap menjamin dan membela kepolisian jika ada pihak yang memprotes tindakan tegas penyidik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>​<strong>Tangis dan Kejanggalan dari Sang Ayah</strong></h3>
<p>​Ayah kandung korban, Herman Yoseph, menyampaikan rasa prustrasinya atas rekonstruksi dan hasil penyidikan saat ini yang dinilai sangat tidak masuk akal.</p>
<p>Menurutnya, luka-luka pada tubuh anaknya tidak mencerminkan tindakan refleks pertahanan biasa.​Herman membeberkan tiga kejanggalan utama di lapangan:</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4>​<strong>Skenario Pembunuhan yang Terlalu Rapi:</strong></h4>
<p>&#8220;Anak kecil ini masa bisa melakukan <a href="https://www.perspektifnusantara.com/">pembunuhan yang begitu keji</a>, begitu sadis, yang sudah direncanakan dengan matang dengan rapih, dia bawa dari rumah ke tempat persembunyian, tanpa ada satu titik darah pun membekas di area itu. Masuk akal atau tidak?&#8221; ujarnya retoris.</p>
<p>Ritual Misterius: Ditemukannya kain merah, beras, dan satu ekor ayam di lokasi kejadian.</p>
<p>&#8220;Itu berarti ada sesuatu di situ, kenapa bapak Polisi tidak bisa menggali lebih dalam, ada apa dengan barang-barang ini?&#8221; tanya Ayahanda korban.</p>
<p>​Hasil Visum/Fisik: ayah korban meragukan klaim bahwa korban menangkis namun hanya ibu jari yang hilang, melihat sadisnya luka yang dialami korban.</p>
<p>&#8220;Kalau anak saya menangkis, tidak, mungkin hanya ibu jari yang kena, sangat tidak masuk di akal,&#8221; pungkasnya sambil memperagakan kejadian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h5>​<strong>JPIC SVD: Polisi Sibuk Melindungi Pelaku?</strong></h5>
<p>​Kritik tajam juga datang dari Tokoh JPIC SVD, Pater Vande Raring, SVD. Ia mempertanyakan profesionalisme penyidik yang dinilai mengabaikan bukti-bukti fisik penting di tempat kejadian perkara (TKP).</p>
<p>​&#8221;Banyak hal yang perlu diungkap oleh Kepolisian sesuai dengan profesionalisme polisi. Batu-batu tidak pernah disidik, kayu di pengadilan tidak pernah disidik, tangan-tangan siapa yang pegang ini barang supaya kita tahu siapa saja yang terlibat dalam pembunuhan,&#8221; kata Pater Vande.</p>
<p>​Ia menambahkan, negara harus hadir membela korban, bukan justru terlihat sebaliknya.</p>
<p>&#8220;Polisi lebih sibuk melindungi pelaku, terhadap segi hukum, negara harus hadir membela korban. Ada apa dengan Rovin, ada apa dengan Saver?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h6><strong>GMNI Sikka: &#8220;Apakah Kapolres Takut Kekuatan Gaib Saver?</strong></h6>
<p>​Ketua GMNI Sikka, Wilfridus Iko, langsung menembakkan peluru spekulasi panas dalam audiensi tersebut. Wilfridus menduga kuat ada keterlibatan ayah Rovin, yang bernama Saver, dalam merencanakan pembunuhan ini, yang diperkuat dengan adanya ritual beras dan ayam di TKP.</p>
<p>​Secara sarkas, Wilfridus mempertanyakan mengapa penyidik seolah &#8220;mati kutu&#8221; di hadapan Saver yang dikenal memiliki pengaruh mistis.</p>
<p>​&#8221;Ataukah pak Kasat Reskrim takut dengan pak Saver dengan legalnya perdukunan dan pesugihan, atau pak Kapolres takut dengan Pak Saver yang dikenal punya kekuatan alam atau kekuatan gaib? Saya pikir bahwa Saver cocok jadi Kasat Reskrim kalau tidak Kapolres Sikka, kok Saver tidak bisa kita ungkap,&#8221; sentil Wilfridus Iko.</p>
<p>​Iko menyayangkan sikap pasif kepolisian, padahal pihak keluarga korban sudah sangat kooperatif dan berjiwa besar demi membantu polisi mengungkap kebenaran materiil kasus ini. Massa menuntut agar aktor-aktor intelektual di balik pembunuhan berencana ini ikut diseret dan dijatuhi hukuman mati.</p>
<p>​Aksi unjuk rasa berjalan dengan pengawalan ketat aparat keamanan hingga malam hari. Massa berjanji akan terus mengawal proses hukum hingga keadilan yang seadil-adilnya bagi almarhumah Stevania Trisanti Noni dapat ditegakkan, dan seluruh pihak yang terlibat dibersihkan tanpa pandang bulu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kasus Noni Penuh Kejanggalan, GMNI Sikka Sindir Mental Polisi : Saver Cocok jadi Kapolres Sikka Atau Kasat Reskrim!</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4500/kasus-noni-penuh-kejanggalan-gmni-sikka-sindir-mental-polisi-saver-cocok-jadi-kapolres-sikka-atau-kasat-reskrim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 May 2026 14:24:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[GMNI Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Kapolres Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus Kematian Noni]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus Noni]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua GMNI Sikka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4500</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE — Gelombang protes dan desakan keadilan kembali bergemuruh di Kabupaten Sikka. Front Mahasiswa dan Masyarakat Sikka Peduli Noni menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran, Kamis (21/5/2026), untuk mengawal jalannya sidang dan proses hukum kasus pembunuhan anak di bawah umur yang menimpa almarhumah Stevania Trisanti Noni (14). ​Aroma Praktik Perdukunan dan Pertanyakan Mental Kepolisian Massa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE</strong> — Gelombang protes dan desakan keadilan kembali bergemuruh di Kabupaten Sikka. Front Mahasiswa dan Masyarakat Sikka Peduli Noni menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran, Kamis (21/5/2026), untuk mengawal jalannya sidang dan proses hukum kasus pembunuhan anak di bawah umur yang menimpa almarhumah Stevania Trisanti Noni (14).</p>
<p>​<strong>Aroma Praktik Perdukunan dan Pertanyakan Mental Kepolisian</strong></p>
<p>Massa aksi menilai ada kabut misteri yang belum terpecahkan, terutama terkait dugaan keterlibatan orang lain, praktik perdukunan, hingga kejanggalan fisik dalam rekonstruksi perkara.</p>
<p>Ketua GMNI Sikka, Wilfridus Iko, dengan lantang menyuarakan kejanggalan dalam kasus ini. Iko meyakini bahwa Rovin, pelaku yang saat ini berstatus anak di bawah umur, mustahil menjadi pelaku tunggal yang merancang pembunuhan berencana sesempurna itu.</p>
<p>​Di hadapan Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno dan Kasat Reskrim Polres Sikka, Iptu Reinhard Dionisius Siga, Iko mempertanyakan temuan benda-benda ritual di tempat kejadian perkara (TKP) yang mengarah kuat pada keterlibatan orang dewasa, yakni Saver (ayah pelaku) dan Vinsen (kakek pelaku).</p>
<p>​&#8221;Disuruh bunuh anjing saja masih pikiran, ini bunuh nyawa yang kemudian didesain begitu sempurna. Setelah itu ada kain merah, ada ayam, ada beras, ada upacara di situ. Apakah anak-anak tahu proses ini? Itu sudah jelas si Saver!,&#8221; pungkas Iko.</p>
<p>Iko bahkan mempertanyakan keberanian mental aparat penegak hukum dalam menyentuh ayah dan kakek pelaku (Saver dan Vinsen) yang diduga kuat menjadi otak atau turut serta merencanakan pembunuhan berencana ini.</p>
<p>&#8220;Ataukah Pak Kasat Reskrim dan Pak Kapolres takut dengan Pak Saver yang dikenal legal dengan perdukunan, pesugihan, atau kekuatan gaibnya?,&#8221; tegas Iko dengan nada menyindir.</p>
<p>​Iko bahkan melayangkan kritik menohok atas lambannya kepolisian mengungkap keterlibatan sang ayah pelaku.</p>
<p>&#8220;Saya pikir Saver lebih cocok jadi Kasat Reskrim atau Kapolres Sikka, kok sampai sekarang dia tidak bisa kita ungkap?&#8221; tambahnya.</p>
<p><strong>Kejanggalan Beban 50 Kilo dan Rekonstruksi yang Tidak Adil</strong></p>
<p>​Dalam audiensi panas bersama Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, dan Kasat Reskrim, Iptu Reinhard Dionisius Siga, massa aksi secara tegas menolak premis bahwa pelaku berinisial R (Rovin)—yang juga masih di bawah umur—bertindak sebagai pelaku tunggal.</p>
<p>​Ketua GMNI Sikka, Wilfridus Iko, melontarkan kritik menohok mengenai logika beban fisik korban saat dievakuasi. Ia meragukan kapasitas fisik pelaku R untuk memindahkan jenazah korban sendirian.</p>
<p>​&#8221;Saya yakin dan percaya, ketika si Rovin diminta pikul beras 50 kilo, dia mampu atau tidak dengan kondisi seperti itu? Lalu bagaimana kita bedah dengan berat almarhumah Ade Noni? Berat orang yang sudah meninggal itu sangat jauh berbeda dan lebih berat dari orang yang masih hidup,&#8221; ujar Iko dengan nada tinggi.</p>
<p>​Senada dengan Iko, Koordinator TRUK-F, Suster Fransiska Imakulata (Suster Ika), turut membongkar kejanggalan dalam proses rekonstruksi yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Suster Ika menilai rekonstruksi tersebut tidak mencerminkan fakta realitas di lapangan.</p>
<p>​&#8221;Waktu rekonstruksi, anak itu hanya diminta bawa karung seolah-olah menarik korban. Kenapa Rovin tidak disuruh pikul jerigen atau apapun yang beratnya mengumpamakan berat korban? Supaya kita tahu dari rumah Saver apakah memang benar-benar dia sendiri? Pikul beras 50 kilo saja satu orang tidak mungkin dia bisa, apalagi fisik seperti Rovin. Kami menduga kuat bukan dia satu-satunya pelaku,&#8221; tegas Suster Ika.</p>
<p><strong>Kekecewaan Terhadap Kinerja Kepolisian</strong></p>
<p>​Meskipun pihak Kepolisian Resor Sikka mengklaim telah bekerja semaksimal mungkin hingga kasus ini masuk ke persidangan, masyarakat dan keluarga korban merasa penanganan kasus ini masih jauh dari kata tuntas dan adil.</p>
<p>​&#8221;Kami sebagai masyarakat berharap kepada bapak polisi untuk mengungkap itu, karena kami tidak punya kuasa untuk pergi melakukan penyelidikan atau mencari barang bukti. Dan sangat disayangkan, meskipun sudah ada putusan dan Kapolres bilang sudah maksimal, menurut kami dan keluarga korban ini tidak maksimal,&#8221; ujar Suster Ika.</p>
<p>​Aksi unjuk rasa berjalan dengan pengawalan ketat. Massa aksi berjanji akan terus mengawal proses hukum ini hingga seluruh aktor intelektual di balik kematian tragis Almarhumah Noni diseret ke pengadilan dan dihukum seberat-beratnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aksi Jilid 5, JPIC dan Truk-F Soroti Keyakinan Kasatreskrim dan Rekonstruksi yang Tidak Adil dalam Kasus Noni</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4483/aksi-jilid-5-jpic-dan-truk-f-soroti-keyakinan-kasatreskrim-dan-rekonstruksi-yang-tidak-adil-dalam-kasus-noni/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 May 2026 13:14:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa Flores]]></category>
		<category><![CDATA[Regional]]></category>
		<category><![CDATA[JPIC SVD]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus Kematian Noni]]></category>
		<category><![CDATA[Kejaksaan Negeri Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Polres Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Rekonstruksi tidak adil]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4483</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE — Gelombang protes dan desakan keadilan kembali bergemuruh di Kabupaten Sikka. Ratusan massa yang tergabung dalam Front Mahasiswa dan Masyarakat Sikka Peduli Noni menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran, Kamis (21/5/2026), untuk mengawal proses hukum kasus pembunuhan anak di bawah umur, almarhumah Stevania Trisanti Noni (14). ​Tidak hanya turun ke jalan, perwakilan massa yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE</strong> — Gelombang protes dan desakan keadilan kembali bergemuruh di Kabupaten Sikka. Ratusan massa yang tergabung dalam Front Mahasiswa dan Masyarakat Sikka Peduli Noni menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran, Kamis (21/5/2026), untuk mengawal proses hukum kasus pembunuhan anak di bawah umur, almarhumah Stevania Trisanti Noni (14).</p>
<p>​Tidak hanya turun ke jalan, perwakilan massa yang didampingi tokoh agama dan aktivis kemanusiaan juga melakukan audiensi langsung dengan Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, guna menyuarakan berbagai kejanggalan yang dinilai mengganjal dalam penanganan kasus tersebut.</p>
<p>​<strong>Putusan Dinilai Prematur dan Minim Alat Bukti</strong></p>
<p>​Dalam audiensi tersebut, Tokoh JPIC SVD, Pater Vande Raring, SVD, secara tegas menyatakan bahwa vonis atau keputusan hukum yang menetapkan Rovin sebagai pelaku tunggal dirasa sangat prematur oleh pihak keluarga dan masyarakat Sikka. Ia mempertanyakan dasar keyakinan penyidik dalam memutus perkara ini.</p>
<p>​&#8221;Bagaimana polisi memutuskan sesuatu tanpa alat bukti yang jelas? Apakah seorang Rovin, anak kecil itu, sendiri bisa melakukan pembunuhan yang begitu rapi? Salah satu unsur yang diperlukan oleh penegak hukum adalah keyakinan,&#8221; ujar Pater Vande di hadapan Kapolres Sikka.</p>
<p>​Pater Vande juga menyoroti kejanggalan dalam hasil rilis perkara terkait tindakan asusila yang dituduhkan, serta ketidakmampuan kepolisian dalam mengungkap keberadaan pakaian korban, meskipun ayah dan nenek dari Rovin sempat diperiksa.</p>
<p>​&#8221;Kami masih mengharapkan agar kasus ini tidak berhenti pada putusan Rovin sebagai pelaku tunggal. Bagi kami HP tidak penting, tetapi bagaimana digital forensik dibuka supaya percakapan yang terjadi pada saat itu bisa kita tahu,&#8221; tambahnya.</p>
<p>​Ia bahkan memberikan kritik menohok terkait sensitivitas penegakan hukum di wilayah tersebut.</p>
<p>&#8220;Saya mau bandingkan kalau ini Noni anak seorang Kapolres atau Kasatreskrim, apakah prosesnya begitu mudah dan cepat? Karena itu kami mohon tegakkanlah keadilan dengan hati nurani yang bening,&#8221; tegas Pater Vande.</p>
<p>​<strong>Rekonstruksi Tidak Adil dan Kejanggalan Pelaku Tunggal Angkat Beban 50 kilo</strong></p>
<p>​Senada dengan Pater Vande, Koordinator Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F), Suster Fransiska Imakulata atau yang akrab disapa Suster Ika, menyoroti proses rekonstruksi kejadian yang dinilai jauh dari fakta logis fisik pelaku.</p>
<p>​Suster Ika membeberkan bahwa saat rekonstruksi, Rovin hanya diminta membawa karung dan seolah-olah menarik korban. Mestinya, untuk menguji kebenaran materiil, pelaku diminta mensimulasikan beban yang setara dengan berat badan almarhumah Noni.</p>
<p>​&#8221;Pikul beras 50 kilo saja satu orang tidak mungkin dia (Rovin) bisa, apalagi yang fisiknya seperti Rovin. Kita merasa tidak adil dengan proses rekonstruksi karena kebenaran yang sesungguhnya tidak kita dapatkan saat itu. Kami menduga bukan dia satu-satunya pelaku,&#8221; papar Suster Ika.</p>
<p>​TRUK-F menilai, klaim kepolisian yang menyatakan penyelidikan sudah dilakukan secara maksimal berbanding terbalik dengan fakta di lapangan dan pandangan publik.</p>
<p>​&#8221;Sangat disayangkan, tadi Bapak Kapolres bilang sudah semaksimal mungkin, tetapi menurut kami dan keluarga korban ini tidak maksimal. Karena bukan Rovin pelaku utamanya, publik di luar juga melihat seperti itu. Hari ini saya rasa terlambat, tetapi keadilan tidak pernah datang terlambat,&#8221; pungkas Suster Ika.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Komitmen Massa: Kawal Sampai Tuntas</strong></p>
<p>​Aksi unjuk rasa dan audiensi ini berjalan dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Front Mahasiswa dan Masyarakat Sikka Peduli Noni menegaskan akan terus mengawal proses hukum hingga tabir gelap kematian almarhumah Stevania Trisanti Noni benar-benar terungkap secara jujur, transparan, dan menyentuh aktor-aktor lain yang diduga kuat terlibat. (Irma Rose)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
