<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Janganlah gelisah dan gentar hatimu &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/janganlah-gelisah-dan-gentar-hatimu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Tue, 26 May 2026 03:58:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Janganlah gelisah dan gentar hatimu &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Di Tengah Krisis Zaman, Paul Tukan Berani Tinggalkan Kenyamanan Demi Tuhan”</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4605/di-tengah-krisis-zaman-paul-tukan-berani-tinggalkan-kenyamanan-demi-tuhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2026 02:38:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Populer]]></category>
		<category><![CDATA[Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[IFTK Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[Janganlah gelisah dan gentar hatimu]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Tukan]]></category>
		<category><![CDATA[SVD]]></category>
		<category><![CDATA[Widya Mandira Kupang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4605</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM &#8211; Di tengah dunia yang semakin dipenuhi ketidakpastian, pilihan hidup religius sering dianggap sebagai keputusan yang tidak masuk akal. Banyak orang muda berlomba mengejar pekerjaan mapan, penghasilan besar, popularitas, dan kehidupan yang nyaman. Masa depan diukur dari jabatan, rumah mewah, kendaraan mahal, atau seberapa cepat seseorang berhasil menaklukkan kerasnya persaingan hidup modern. Namun, di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong> &#8211; Di tengah dunia yang semakin dipenuhi ketidakpastian, pilihan hidup religius sering dianggap sebagai keputusan yang tidak masuk akal. Banyak orang muda berlomba mengejar pekerjaan mapan, penghasilan besar, popularitas, dan kehidupan yang nyaman. Masa depan diukur dari jabatan, rumah mewah, kendaraan mahal, atau seberapa cepat seseorang berhasil menaklukkan kerasnya persaingan hidup modern. Namun, di tengah arus besar itu, Paul Tukan, SVD justru mengambil arah berbeda. Ia memilih meninggalkan kenyamanan demi menjawab panggilan Tuhan. Bersama Beberapa teman lainnya Ia akan ditahbiskan menjadi Diakon pada Minggu, 31 Mei 2026 mendatang.</p>
<p>Pilihan itu bukanlah keputusan spontan tanpa pergulatan. Di balik wajah tenang dan senyum sederhana yang terpancar dari dirinya, tersimpan perjuangan batin yang panjang. Jalan panggilan yang ia pilih berkali-kali diguncang pertanyaan, keraguan, bahkan ketakutan. Ia sadar bahwa menjadi seorang pelayan Tuhan berarti siap menyerahkan hidup bagi sesuatu yang jauh lebih besar daripada kepentingan pribadi.</p>
<p>“Apa yang sebenarnya saya cari di jalan panggilan ini?” Pertanyaan itu sering datang menghantui dirinya. Di saat yang sama, ia juga bergulat dengan kenyataan hidup dewasa ini yang penuh tantangan. Dunia sedang menghadapi banyak krisis: krisis ekonomi, krisis moral, krisis kemanusiaan, bahkan krisis iman. Banyak orang mulai kehilangan harapan dan arah hidup. Dalam situasi seperti itu, keputusan menjadi seorang misionaris sering dianggap terlalu berani, bahkan nekat.</p>
<p>Tidak sedikit orang mempertanyakan pilihannya. Ada yang bertanya dengan nada penasaran, tetapi ada pula yang menyampaikan keraguan dengan nada sinis. Sebagian menganggap hidup religius tidak lagi relevan di zaman modern. Ada yang melihat pilihan itu sebagai jalan penuh penderitaan tanpa jaminan masa depan. Bahkan tidak sedikit yang diam-diam meremehkan perjuangan mereka yang memilih hidup membiara.</p>
<p>Namun, bagi Paul Tukan, panggilan bukan soal mencari kenyamanan duniawi. Baginya, hidup adalah tentang menjawab kehendak Tuhan dengan setia. Ia percaya bahwa hidup yang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh adalah hidup yang layak dijalani dengan penuh keberanian.</p>
<p>Keyakinan itu semakin diteguhkan oleh motto tahbisannya yang diambil dari Injil Yohanes 14:27: “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Sabda itu menjadi pegangan kuat dalam perjalanan panggilannya. Ketika rasa takut datang, ketika keraguan mulai menguasai hati, ketika masa depan terasa kabur, ia kembali mengingat pesan Yesus kepada para murid-Nya.</p>
<p>Ayat itu lahir dalam situasi yang tidak mudah. Saat itu para murid sedang merasa takut dan gelisah menghadapi ancaman serta ketidakpastian. Namun Yesus hadir membawa penghiburan dan harapan. Pesan itu pula yang kini dihidupi oleh Paul. Ia percaya bahwa hati yang dikuasai kecemasan tidak akan mampu menjadi alat bagi karya Tuhan.</p>
<p>Di tengah segala keterbatasan manusia, Tuhan justru mampu menciptakan “tanda heran”. Kalimat sederhana itu menjadi refleksi mendalam dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa panggilan bukan tentang kehebatan pribadi, melainkan tentang kesediaan untuk dipakai Tuhan. Dalam kelemahan manusia, Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri.</p>
<p>Perjalanan hidup  Paul tidak dibangun dalam kemewahan. Ia berasal dari Waiwerang, Adonara, lahir pada 7 Mei 1998. Dari tanah sederhana di Flores Timur itulah benih panggilan mulai tumbuh perlahan dalam dirinya. Kehidupan masyarakat sederhana yang penuh iman membentuk karakter dan semangat pengabdiannya sejak kecil.</p>
<p>Ia mengawali pendidikan di SDK St. Yosef Lite-Adonara Tengah pada tahun 2004 hingga 2010. Sejak masa sekolah dasar, ia dikenal sebagai pribadi sederhana dan tekun. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SMP Seminari BSB Maumere pada tahun 2010 hingga 2013. Keputusan masuk seminari sejak usia muda menunjukkan bahwa benih panggilan itu sudah mulai bertumbuh dalam dirinya.</p>
<p>Perjalanan itu kemudian berlanjut di SMA Seminari BSB Maumere pada tahun 2013 hingga 2016. Masa pendidikan seminari menjadi fase penting yang membentuk mental, spiritualitas, dan kedewasaan dirinya. Di sana ia belajar bahwa menjadi pelayan Tuhan bukan hanya soal doa dan liturgi, tetapi juga tentang membangun disiplin hidup, semangat persaudaraan, dan kesiapan melayani sesama.</p>
<p>Sesudah menamatkan pendidikan menengah, ia memasuki Novisiat SVD St. Yosef Nenuk Atambua pada tahun 2017 hingga 2019. Masa novisiat merupakan tahap pembinaan yang sangat menentukan dalam hidup religius. Pada fase inilah seseorang diuji secara mendalam: apakah ia sungguh siap menyerahkan hidup bagi Tuhan atau tidak.</p>
<p>Bagi Paul Tukan, masa itu bukan perjalanan mudah. Ada banyak pergulatan yang harus dihadapi. Ia harus belajar meninggalkan ego pribadi, kenyamanan hidup, dan berbagai ambisi duniawi. Namun justru dalam proses itulah ia semakin memahami makna panggilan. Ia belajar bahwa menjadi misionaris berarti siap diutus ke mana saja demi pelayanan.</p>
<p>Setelah menyelesaikan novisiat, ia melanjutkan studi filsafat di IFTK Ledalero pada tahun 2019 hingga 2023. Dunia filsafat membuka cakrawala berpikirnya semakin luas. Ia belajar memahami manusia, kehidupan, iman, dan berbagai persoalan dunia secara lebih mendalam. Pendidikan itu tidak hanya membentuk kecerdasan intelektualnya, tetapi juga menolongnya memahami bahwa iman harus tetap relevan di tengah perubahan zaman.</p>
<p>Pada tahun 2023 hingga 2024, Paul melanjutkan TOP di Universitas Widya Mandira Kupang. Kini, sejak tahun 2024 hingga 2026, ia sedang menempuh studi Magister Teologi di IFTK Ledalero sebagai bagian dari proses persiapan pelayanan yang lebih matang.</p>
<p>Di balik semua proses panjang itu, satu hal yang tetap menjadi kekuatannya ialah keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka yang percaya kepada-Nya. Karena itu, sekalipun jalan panggilan penuh tantangan, ia tetap memilih bertahan.</p>
<p>Pilihan hidup seperti yang diambil Paul Tukan menjadi sesuatu yang langka di tengah zaman sekarang. Ketika banyak orang muda takut kehilangan kenyamanan, ia justru rela melepaskan banyak hal demi pelayanan. Ketika sebagian generasi muda sibuk mengejar pengakuan dunia, ia memilih jalan sunyi yang mungkin tidak dikenal banyak orang.</p>
<p>Namun justru di situlah letak keindahan panggilan. Panggilan bukan tentang menjadi terkenal, melainkan tentang menjadi setia. Panggilan bukan soal hidup tanpa masalah, tetapi tentang keberanian untuk tetap percaya ketika badai datang menerpa.</p>
<p>Paul memahami bahwa keputusan hidupnya mungkin tidak akan menyenangkan semua orang. Akan selalu ada pihak yang meragukan, mencibir, bahkan memandang rendah pilihan tersebut. Tetapi baginya, hidup bukan tentang memuaskan semua orang. Hidup adalah tentang menemukan kehendak Tuhan dan menjalankannya dengan tulus.</p>
<p>Ia percaya bahwa setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Ada yang dipanggil menjadi guru, dokter, petani, nelayan, jurnalis, atau pemimpin masyarakat. Sementara dirinya merasa dipanggil untuk mempersembahkan hidup bagi karya misi Allah melalui Serikat Sabda Allah (SVD).</p>
<p>Pilihan itu lahir bukan karena ingin terlihat suci atau hebat, tetapi karena ia percaya bahwa Tuhan memanggilnya untuk melayani. Dalam dunia yang semakin individualistis, kehadiran orang-orang yang rela mengabdi bagi sesama menjadi cahaya harapan yang sangat dibutuhkan.</p>
<p>Kisah Paul juga menjadi pengingat bahwa panggilan tidak pernah lahir dari hidup yang tanpa pergulatan. Justru panggilan sering tumbuh di tengah keraguan, ketakutan, dan air mata. Tetapi ketika seseorang berani percaya kepada Tuhan, ketakutan itu perlahan berubah menjadi kekuatan. Pergulatan yang paling nyata ia alami ketika satu tahun berada di luar formasi setelah dia menamatkan pendidikan SMA di Seminari Maria Bunda Segala Bangsa Maumere, yakni tahun 2016-2017. Pada momen itu Paul merasakan betul bagaimana Tuhan benar-benar mencintai dia dan memangggil dia.</p>
<p>Motto “Janganlah gelisah dan gentar hatimu” bukan sekadar kalimat indah yang dipasang sebagai hiasan rohani. Kalimat itu menjadi napas hidup yang terus menuntunnya setiap hari. Dalam dunia yang penuh kecemasan, pesan itu terasa semakin relevan.</p>
<p>Hari ini, banyak orang muda kehilangan arah hidup. Tidak sedikit yang hidup dalam tekanan mental, ketakutan terhadap masa depan, dan rasa putus asa. Dunia digital yang serba cepat sering membuat manusia merasa harus selalu sempurna dan berhasil. Akibatnya, banyak orang mudah merasa gagal ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.</p>
<p>Di tengah situasi itu, perjalanan hidup Diakon Paul menghadirkan pesan sederhana namun kuat: bahwa hidup tidak harus selalu tentang mengejar kenyamanan. Ada kebahagiaan yang lahir dari pengabdian, ada damai yang muncul ketika seseorang hidup sesuai panggilannya.</p>
<p>Keputusan menjadi pelayan Tuhan memang tidak mudah. Jalan itu penuh pengorbanan. Tetapi bagi mereka yang percaya, pengorbanan itu bukan beban melainkan bentuk cinta.</p>
<p>Melalui perjalanan panggilannya, Diakon Paul ingin mempersembahkan yang terbaik dari dirinya bagi karya Tuhan. Ia sadar bahwa dirinya hanyalah manusia biasa dengan segala kelemahan dan keterbatasan. Namun ia percaya bahwa Tuhan mampu bekerja melalui siapa saja yang mau membuka hati.</p>
<p>Karena itu, ia berharap dukungan dan doa dari banyak orang agar tetap setia menjalani panggilan hingga akhir. Sebab menjadi pelayan Tuhan bukan hanya soal memulai perjalanan, tetapi tentang kesetiaan untuk terus berjalan meskipun jalan itu tidak selalu mudah.</p>
<p>Di tengah krisis zaman yang membuat banyak orang kehilangan harapan, keberanian Diakon Paul Tukan menjadi tanda bahwa iman masih hidup. Bahwa masih ada anak muda yang rela meninggalkan kenyamanan demi sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.</p>
<p>Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin gaduh oleh ketakutan dan kecemasan, suara sederhana dari Injil itu tetap menjadi jawaban paling kuat: “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
