<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jaker &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/jaker/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Jun 2026 02:04:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Jaker &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Semangat Pancasila untuk Revolusi Nasional: JAKER Dorong Kedaulatan Ekonomi dan Energi Indonesia</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4769/semangat-pancasila-untuk-revolusi-nasional-jaker-dorong-kedaulatan-ekonomi-dan-energi-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 01:58:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Populer]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Hari lahir Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Jaker]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan Kebudayaan Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila dan keadilan sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4769</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Momentum Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni kembali dimaknai sebagai panggilan untuk memperkuat semangat kebangsaan dan kemandirian nasional. Dalam pernyataan yang disampaikan pada Senin (1/6/2026), Sekretaris Jenderal Jaringan Kerakyatan (JAKER), Untung Sarwono, menegaskan pentingnya mengawal Revolusi Nasional melalui penguatan nilai-nilai Pancasila, semangat gotong royong, serta upaya membangun kedaulatan ekonomi bangsa. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong> – Momentum Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni kembali dimaknai sebagai panggilan untuk memperkuat semangat kebangsaan dan kemandirian nasional. Dalam pernyataan yang disampaikan pada Senin (1/6/2026), Sekretaris Jenderal Jaringan Kerakyatan (JAKER), Untung Sarwono, menegaskan pentingnya mengawal Revolusi Nasional melalui penguatan nilai-nilai Pancasila, semangat gotong royong, serta upaya membangun kedaulatan ekonomi bangsa.</p>
<p>Menurut Untung Sarwono, tugas kebudayaan pada masa kini bukan hanya menjaga nilai-nilai luhur bangsa, tetapi juga membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari melalui kerja kolektif dan gotong royong. Ia menilai bahwa cita-cita Indonesia yang berdaulat hanya dapat terwujud apabila rakyat dan negara bersama-sama mengurangi ketergantungan terhadap pihak asing.</p>
<p>&#8220;Hari ini tugas kebudayaan kita adalah membumikan Pancasila dengan semangat gotong royong, mengawal Revolusi Nasional, serta menciptakan narasi rakyat yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap asing,&#8221; ujar Untung Sarwono.</p>
<p>Ia menjelaskan bahwa berbagai program strategis nasional yang sedang dijalankan, seperti hilirisasi industri, industrialisasi nasional, penguatan ketahanan pangan, dan ketahanan energi merupakan langkah konkret untuk memutus mata rantai ketergantungan Indonesia terhadap negara lain.</p>
<p>Menurutnya, kebijakan tersebut bertujuan agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu mengolah sumber daya alamnya sendiri untuk memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi kesejahteraan rakyat.</p>
<p>&#8220;Hilirisasi, industrialisasi nasional, ketahanan pangan, dan ketahanan energi merupakan upaya penting untuk memperkuat kemandirian bangsa. Dengan demikian, Indonesia dapat berdiri di atas kekuatan sendiri dan tidak terus bergantung pada pihak luar,&#8221; katanya.</p>
<p>Namun demikian, Untung Sarwono mengakui bahwa proses menuju kemandirian nasional tidak akan berjalan tanpa tantangan. Ia menilai akan selalu ada pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh kebijakan yang memperkuat posisi Indonesia sebagai negara berdaulat.</p>
<p>Menurutnya, kelompok-kelompok pemodal besar yang selama ini menikmati keuntungan dari ketergantungan ekonomi, serta kepentingan asing yang ingin mempertahankan pengaruhnya terhadap sumber daya alam Indonesia, berpotensi memberikan perlawanan terhadap berbagai agenda kemandirian nasional.</p>
<p>&#8220;Dalam setiap proses perubahan pasti akan muncul gejolak. Akan ada kelompok yang tidak sejalan dengan semangat revolusi nasional dan mencoba membangun narasi negatif, termasuk menyebarkan informasi yang tidak benar atau hoaks untuk menghambat upaya bangsa ini keluar dari dominasi asing,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih kritis dalam menyikapi informasi yang beredar di ruang publik, terutama di media sosial. Menurutnya, masyarakat perlu membangun narasi yang berpihak pada kepentingan rakyat dan masa depan bangsa.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, Untung Sarwono juga menegaskan sikap organisasi yang dipimpinnya terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Ia menyatakan bahwa JAKER akan tetap berpegang pada prinsip-prinsip demokrasi dan keberpihakan kepada rakyat.</p>
<p>Ia merumuskan tiga sikap dasar yang menjadi pedoman organisasi dalam menyikapi kebijakan negara. Pertama, setiap kebijakan yang berpihak kepada rakyat wajib didukung. Kedua, kebijakan yang berpotensi merugikan rakyat harus dikoreksi secara konstruktif. Ketiga, apabila terdapat kebijakan yang nyata-nyata merugikan rakyat, maka harus dilawan melalui cara-cara yang sesuai dengan prinsip demokrasi dan konstitusi.</p>
<p>&#8220;Sikap kami jelas. Selama kebijakan negara berpihak kepada rakyat, kami mendukung. Jika ada potensi yang merugikan rakyat, kami akan memberikan koreksi yang konstruktif. Dan jika kebijakan itu merugikan rakyat, maka kami akan berdiri bersama rakyat untuk melakukan perlawanan secara konstitusional,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Lebih lanjut, Untung Sarwono menekankan bahwa Revolusi Nasional hanya dapat berjalan apabila seluruh komponen bangsa tetap berpegang teguh pada ideologi Pancasila dan konstitusi negara, yakni Undang-Undang Dasar 1945. Menurutnya, gotong royong merupakan energi sosial yang harus terus dijaga agar Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan global.</p>
<p>Ia menilai bahwa Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan juga pedoman moral dan politik yang mampu menyatukan seluruh elemen bangsa dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan, yaitu masyarakat yang adil, makmur, dan berdaulat.</p>
<p>Menutup pernyataannya, Untung Sarwono menyampaikan ucapan Selamat Hari Lahir Pancasila kepada seluruh rakyat Indonesia. Ia juga mengucapkan selamat ulang tahun kepada Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA), seraya berharap semangat perjuangan rakyat terus tumbuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>&#8220;Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari kita jaga persatuan, memperkuat gotong royong, dan terus mengawal cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Selamat ulang tahun Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA),&#8221; pungkasnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>“Bangsa Bisa Kehilangan Arah”: Ketua Umum Jaker Nasional Soroti Krisis Makna di Era Digital</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4531/bangsa-bisa-kehilangan-arah-ketua-umum-jaker-nasional-soroti-krisis-makna-di-era-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2026 16:00:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Jaker]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan Kebudayaan Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Merawat Ingatkan di tengah Budaya Instan]]></category>
		<category><![CDATA[Perpustakaan Jakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4531</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, JAKARTA, 23 Mei 2026 — Ketua Umum Jaker Nasional (Jaringan Kebudayaan Rakyat), Anisa, menegaskan pentingnya merawat ingatan kolektif bangsa di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya instan yang dinilai perlahan menggerus nilai-nilai kemanusiaan serta kesadaran sejarah masyarakat. Hal itu disampaikan Anisa saat memberikan sambutan dalam kegiatan Diskusi Kebudayaan bertema “Merawat Ingatan di Tengah Budaya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, JAKARTA</strong>, 23 Mei 2026 — Ketua Umum Jaker Nasional (Jaringan Kebudayaan Rakyat), Anisa, menegaskan pentingnya merawat ingatan kolektif bangsa di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya instan yang dinilai perlahan menggerus nilai-nilai kemanusiaan serta kesadaran sejarah masyarakat.</p>
<p>Hal itu disampaikan Anisa saat memberikan sambutan dalam kegiatan Diskusi Kebudayaan bertema “Merawat Ingatan di Tengah Budaya Instan dan Krisis Makna di Era Digital” yang berlangsung di Ruang Belajar Lantai 6 Perpustakaan Jakarta, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Jaringan Kebudayaan Rakyat bekerja sama dengan PDS H.B. Jassin.</p>
<p>Dalam pidatonya, Anisa membuka sambutan dengan mengutip pernyataan sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer, yang menyebut bahwa manusia akan hilang dari sejarah apabila tidak menulis. Kutipan itu menjadi landasan refleksi mengenai pentingnya literasi, dokumentasi budaya, dan kesadaran sejarah di tengah perkembangan teknologi digital.</p>
<p>“Digitalisasi sejatinya merupakan kemajuan yang patut disyukuri karena membuka akses pengetahuan lebih luas dan mempercepat pertukaran gagasan. Namun, di balik itu, kita menghadapi tantangan besar berupa lahirnya budaya serba instan yang membuat manusia kehilangan ruang untuk merenung dan mengingat,” nujar Anisa di hadapan peserta diskusi.</p>
<p>Menurutnya, masyarakat saat ini hidup di tengah banjir informasi, tetapi justru perlahan kehilangan kedalaman makna. Ia menilai nilai-nilai kebijaksanaan dan refleksi sosial sering kali kalah oleh sensasi dan kecepatan konsumsi informasi digital.</p>
<p>Anisa menegaskan bahwa kebudayaan harus dipandang bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan benteng pertahanan bangsa. Kebudayaan, katanya, memiliki peran penting dalam menjaga identitas nasional, membentuk karakter masyarakat, serta menanamkan nilai etika dan kemanusiaan.</p>
<p>“Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju teknologinya, tetapi bangsa yang mampu menjaga ingatan kolektifnya. Ketika bangsa kehilangan ingatan budayanya, maka ia mudah kehilangan arah dan tercerabut dari akar sejarah,” katanya.</p>
<p>Ia juga menyoroti bahaya ketimpangan sosial yang lahir dari dominasi kelompok yang disebutnya sebagai “kaum serakahnomic”, yakni pihak-pihak yang menguasai ekonomi tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat luas. Karena itu, ia menilai budaya dan literasi publik perlu diperkuat sebagai fondasi membangun masyarakat yang berdaulat dan berkeadilan.</p>
<p>Anisa mengapresiasi konsistensi PDS H.B. Jassin dalam menjaga ruang kebudayaan dan literasi di Indonesia. Ia berharap ruang-ruang diskusi seperti ini dapat menjadi tempat lahirnya gagasan kritis sekaligus memperkuat kesadaran sosial masyarakat di tengah perkembangan teknologi.</p>
<p>Diskusi kebudayaan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Yuni Asrianti, Sonny Laurentius, Beky Mardani, dan Dominggus Oktavianus.</p>
<p>Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan DPD Jaker se-Indonesia, mahasiswa, jurnalis, komunitas literasi, serta masyarakat umum yang antusias mengikuti jalannya diskusi hingga akhir acara.</p>
<p>Melalui forum tersebut, para peserta diajak untuk merefleksikan kembali posisi kebudayaan di tengah era digital, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam merawat ingatan bangsa agar tidak larut dalam budaya instan yang mengikis nilai dan identitas masyarakat.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>JAKER Gelar Diskusi Kebudayaan, Soroti Krisis Makna dan Budaya Instan di Era Digital</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4394/jaker-gelar-diskusi-kebudayaan-soroti-krisis-makna-dan-budaya-instan-di-era-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2026 05:42:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Populer]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jaker]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan Kebudayaan Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Komnas Perempuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4394</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM- JAKARTA — Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat modern. Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat memahami, memproduksi, hingga mengonsumsi kebudayaan. Di tengah derasnya arus informasi digital, muncul kekhawatiran mengenai memudarnya makna budaya dan melemahnya ingatan kolektif masyarakat. Kondisi tersebut [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM- JAKARTA</strong> — Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat modern. Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat memahami, memproduksi, hingga mengonsumsi kebudayaan. Di tengah derasnya arus informasi digital, muncul kekhawatiran mengenai memudarnya makna budaya dan melemahnya ingatan kolektif masyarakat.</p>
<p>Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pengurus Pusat Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER). Melalui sebuah press release bertajuk “Merawat Ingatan di Tengah Budaya Instan dan Krisis Makna di Era Digital”, JAKER menyoroti berbagai persoalan sosial dan budaya yang muncul akibat dominasi budaya instan di ruang digital.</p>
<p>Dalam rilis yang diterbitkan pada Selasa (19/05/2026), JAKER menilai bahwa kebudayaan kini semakin sering dipahami secara cepat dan dangkal. Informasi bergerak begitu cepat melalui media sosial dan berbagai platform digital, sehingga masyarakat lebih banyak menerima potongan-potongan informasi singkat dibanding pemahaman yang mendalam.</p>
<p>Menurut JAKER, budaya instan telah menciptakan kecenderungan baru dalam kehidupan masyarakat. Segala sesuatu dituntut serba cepat, praktis, dan mudah dikonsumsi. Akibatnya, banyak nilai budaya yang sebelumnya hidup dalam tradisi masyarakat mulai kehilangan ruangnya.</p>
<p>“Tradisi lisan, kesenian rakyat, serta nilai-nilai sosial seperti gotong royong perlahan kehilangan ruang hidupnya dalam praktik keseharian,” tulis JAKER dalam pernyataannya.</p>
<p>Fenomena tersebut terlihat jelas dalam dinamika ruang publik digital saat ini. Perdebatan di media sosial sering kali dipenuhi kontroversi dan sensasi yang lebih cepat menarik perhatian publik dibanding pembahasan yang bersifat mendalam dan substantif. Bahkan, isu-isu politik dan konflik geopolitik internasional sering disederhanakan menjadi narasi singkat yang emosional dan mudah viral.</p>
<p>JAKER menilai bahwa situasi tersebut menunjukkan adanya pergeseran fungsi ruang publik. Ruang yang seharusnya menjadi tempat pertukaran gagasan, refleksi, dan pembentukan kesadaran bersama kini cenderung berubah menjadi ruang reproduksi sensasi dan konsumsi cepat.</p>
<p>“Realitas yang seharusnya dipahami secara mendalam justru disederhanakan menjadi konsumsi cepat. Akibatnya, ruang publik tidak lagi sepenuhnya menjadi ruang pertukaran gagasan, melainkan bergeser menjadi ruang reproduksi sensasi,” demikian isi rilis tersebut.</p>
<p>Lebih jauh, JAKER menilai bahwa kondisi ini berpotensi melahirkan krisis makna di tengah masyarakat. Kebudayaan yang sejatinya menjadi sarana membangun identitas, solidaritas sosial, dan kesadaran bersama kini berisiko direduksi menjadi sekadar hiburan atau tontonan semata.</p>
<p>Melemahnya ingatan kolektif masyarakat juga menjadi perhatian utama. Dalam kehidupan sosial, ingatan kolektif memiliki peran penting untuk menjaga identitas budaya dan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika masyarakat kehilangan kedalaman dalam memahami sejarah, tradisi, dan kebudayaannya sendiri, maka hubungan sosial dan solidaritas antarwarga juga dapat ikut melemah.</p>
<p>Karena itu, JAKER menegaskan bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari dinamika sosial, ekonomi, dan politik masyarakat. Dalam konteks era digital, kebudayaan harus tetap dipahami sebagai ruang pembentukan makna dan kesadaran kritis, bukan sekadar komoditas yang dikonsumsi secara cepat.</p>
<p>Sebagai upaya merespons persoalan tersebut, JAKER akan menggelar sebuah Diskusi Publik Kebudayaan yang bertujuan membuka ruang refleksi kritis dan dialog terbuka bagi masyarakat. Forum ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk membangun kembali kesadaran budaya di tengah derasnya arus digitalisasi.</p>
<p>Diskusi publik tersebut akan dilaksanakan di Ruang Belajar Perpustakaan Jakarta, Gedung Ali Sadikin Lantai 6, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 15.00 hingga 17.00 WIB.</p>
<p>Sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang akan hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Mereka antara lain Yuni Astriani dari Komnas Perempuan, Beky Mandani sebagai budayawan Betawi, Dominggus Oktavianus selaku pemerhati sosial, serta Sony Laurentius dari Dewan Pengawas JAKER. Diskusi ini akan dimoderatori oleh Elsyamayanti yang merupakan Ketua Wilayah JAKER DKI Jakarta.</p>
<p>Melalui kegiatan ini, JAKER berharap masyarakat dapat kembali memahami pentingnya kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan sosial yang harus dirawat bersama. Di tengah kemajuan teknologi yang terus berkembang, masyarakat diajak untuk tidak kehilangan kemampuan refleksi dan kedalaman berpikir.</p>
<p>JAKER juga mengingatkan bahwa teknologi digital pada dasarnya bukan sesuatu yang harus ditolak. Teknologi justru dapat menjadi sarana yang positif apabila digunakan untuk memperkuat pendidikan budaya, memperluas ruang dialog, serta menjaga keberlangsungan nilai-nilai sosial dalam masyarakat.</p>
<p>Namun, tanpa kesadaran kritis, ruang digital dapat dengan mudah menjadikan masyarakat terjebak dalam pola konsumsi informasi yang dangkal dan serba instan. Karena itu, dibutuhkan ruang-ruang diskusi dan refleksi agar masyarakat tetap mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.</p>
<p>Di tengah era digital yang semakin cepat, JAKER menilai bahwa merawat ingatan kolektif dan kesadaran budaya merupakan tanggung jawab bersama. Kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga fondasi penting dalam membangun masa depan masyarakat yang lebih kritis, manusiawi, dan berkeadaban.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
