<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Felix Sugar &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/felix-sugar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Aug 2026 23:32:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Felix Sugar &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tulis Tangan</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/5861/tulis-tangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2026 14:17:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Felix Sugar]]></category>
		<category><![CDATA[IFTK Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[Manggarai]]></category>
		<category><![CDATA[perspektifnusantara.com]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=5861</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM- Sahabat Perspektif. Berikut merupakan sebuah cerpen yang ditulis oleh salah satu penulis terbaik yang berasal dari Manggarai dan saat ini sedang mengenyam pendidikan di IFTK Ledalero. Namanya Felix Sugar. Selamat membaca. Arga, anak laki-laki berusia dua belas tahun yang lahir tanpa tangan dan kaki, memiliki mimpi menjadi seorang penulis. Di tengah keterbatasan fisik, ia [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM- Sahabat Perspektif. Berikut merupakan sebuah cerpen yang ditulis oleh salah satu penulis terbaik yang berasal dari Manggarai dan saat ini sedang mengenyam pendidikan di IFTK Ledalero. Namanya Felix Sugar. Selamat membaca.</p>
<p>Arga, anak laki-laki berusia dua belas tahun yang lahir tanpa tangan dan kaki, memiliki mimpi menjadi seorang penulis. Di tengah keterbatasan fisik, ia menemukan harapan melalui buku-buku di perpustakaan yang ada di desanya. Namun, ketika satu-satunya tempat yang memberinya kesempatan untuk bermimpi terancam ditutup, Arga kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa bukan hanya tubuhnya yang dibatasi, tetapi juga haknya untuk belajar dan dihargai sebagai manusia.</p>
<p>“Anak yang paling sering meminjam buku di perpustakaan itu justru adalah anak yang tak pernah bisa menulis.”</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Namaku Arga. Usia dua belas tahun. Aku lahir tanpa kedua tangan dan kaki. Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat tatapan heran orang-orang. Sebagian menatapku dengan iba, sebagian lagi menganggap aku hanya beban. Padahal, aku sama seperti mereka. Aku bisa berpikir, bermimpi, dan berharap. Aku memang tidak memiliki tangan untuk memegang pensil ataupun kaki untuk berlari mengejar teman-teman. Yang kupunya hanya mata yang tak pernah lelah membaca dan hati yang selalu ingin belajar. Aku sangat mencintai buku. Setiap halaman yang kubaca membuatku merasa bebas. Di dalam buku, aku bisa pergi ke mana saja tanpa harus berjalan. Aku bisa menjadi siapa saja tanpa harus memiliki tubuh yang sempurna.</p>
<p>Namun, setiap kali selesai membaca, dadaku selalu terasa sesak setengah mati. Aku ingin menulis. Aku ingin menuliskan semua cerita yang berputar di kepalaku. Sayangnya, aku tak memiliki tangan untuk melakukannya. Mimpi itu terasa begitu dekat di hati, tetapi sangat jauh untuk kugapai. Setiap ungkapan dari mulutku terasa hambar. Aku tak membenci diriku tapi kadang aku mengeluh.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Suatu sore, saat duduk di dekat tungku api sambil menunggu ubi bakar, aku memberanikan diri bertanya kepada ibu.</p>
<p>“Bu, kenapa aku lahir tanpa tangan dan kaki?”</p>
<p>Ibu yang sedang membalik ubi terdiam. Tangannya berhenti bergerak. Matanya memerah, tetapi ia berusaha tersenyum.</p>
<p>“Nak&#8230; ibu juga tidak tahu.”</p>
<p>Suaranya pelan.</p>
<p>“Ibu hanya tahu bahwa sejak kamu ada di dalam kandungan, ibu selalu berharap kamu lahir dengan selamat.”</p>
<p>Air mata ibu akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Melihat itu, aku menyesal telah bertanya. Ibu kemudian mengusap kepalaku. Memeluk erat tubuhku sedang aku bersandar dikursi yang empuk di tangan ibu.</p>
<p>“Kalau sudah besar, apa cita-citamu nak?”</p>
<p>Aku menjawab tanpa ragu.</p>
<p>“Aku ingin menjadi penulis&#8230; dan seorang profesor Bu.”</p>
<p>Ibu tersenyum, meski matanya masih basah.</p>
<p>“Itu cita-cita yang sangat mulia. Jangan pernah berhenti bermimpi, Nak.”</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sejak hari itu, aku semakin rajin membaca. Di sekolah, teman-teman sering membantuku. Mereka bergantian menggendongku menuju kelas. Di antara mereka, Nero adalah yang paling sering membantuku. Setiap pagi, Nero datang ke rumah.</p>
<p>“Ayo, Ga. Kita terlambat.”</p>
<p>Ia menggendongku tanpa pernah mengeluh. Namun, tidak semua orang memandangku seperti Nero. Beberapa anak dari kelas lain sering mengejek.</p>
<p>“Ngapain sekolah? Toh nanti juga tidak bisa kerja.”</p>
<p>“Percuma pintar kalau tidak punya tangan.”</p>
<p>Aku hanya diam. Bukan karena tidak sakit. Tetapi karena aku sudah terlalu sering mendengar kata-kata seperti itu. Yang paling menyakitkan bukan tubuhku yang berbeda, melainkan cara orang memperlakukanku seolah aku tidak memiliki masa depan.Tapi, aku membayangkan diriku berbeda karena cara Tuhan menitipkan orang di sekitar aku.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Setelah pulang sekolah, aku hampir selalu pergi ke perpustakaan desa. Di sanalah aku merasa diterima. Rak-rak buku menjadi sahabatku. Setiap hari aku membaca apa saja yang tersedia. Novel, sejarah, cerita rakyat, sampai buku pengetahuan. Aku hafal letak hampir semua buku. Penjaga perpustakaan bahkan sering bercanda.</p>
<p>“Arga lebih hafal isi perpustakaan daripada saya.”</p>
<p>Aku hanya tertawa. Di dalam hati, aku berjanji suatu hari nanti akan ada bukuku sendiri di rak itu. Namun, suatu sore, ketika hendak meminjam buku baru, kulihat sebuah pengumuman ditempel di pintu. Perpustakaan akan ditutup karena bangunan akan dijual untuk melunasi utang pemilik tanah. Tubuhku seakan membeku. Aku membaca pengumuman itu berulang kali. Tidak. Ini pasti salah. Aku bertanya kepada penjaga perpustakaan.</p>
<p>“Benarkah perpustakaan ini akan ditutup?”</p>
<p>Beliau mengangguk pelan.</p>
<p>“Iya, Nak. Kami sudah tidak mampu mempertahankannya.”</p>
<p>Dadaku terasa sesak. Aku pulang dengan mata yang terus menatap langit. Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku merasa kehilangan sesuatu yang lebih berharga daripada rumah. Esoknya, anak-anak desa berkumpul di depan perpustakaan. Semua kecewa. Namun, tidak ada seorang pun yang berani menyampaikan pendapat.</p>
<p>“Ah, buat apa dipertahankan?” kata seorang warga.</p>
<p>“Yang datang juga cuma sedikit.”</p>
<p>Kalimat itu menusuk hatiku. Aku ingin berteriak. Aku ingin mengatakan bahwa tempat itu telah menyelamatkan banyak mimpi. Tetapi suaraku tertahan. Aku hanya bisa menangis. Bukan karena perpustakaan akan hilang. Melainkan karena aku merasa orang-orang menganggap mimpi anak-anak desa, termasuk mimpiku, tidak pernah penting.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Suatu sore, seperti biasa Nero menggendong Arga menuju perpustakaan. Wajah Arga tampak cerah karena hari itu ia berniat meminjam sebuah buku tentang para ilmuwan. Ia percaya, setiap buku yang dibacanya akan membawanya selangkah lebih dekat pada cita-citanya menjadi penulis. Namun, baru saja mereka tiba di depan pintu, terdengar suara beberapa orang dewasa yang sedang berbincang di teras perpustakaan.</p>
<p>“Itu anak cacat datang lagi,” bisik seorang laki-laki sambil melirik Arga.</p>
<p>“Kasihan memang, tapi buat apa terus membaca? Dia juga tidak akan bisa menulis. Buku-buku itu lebih baik dipakai anak yang benar-benar punya masa depan.”</p>
<p>Ucapan itu terdengar jelas. Arga mematung. Dadanya terasa sesak. Ia ingin menundukkan kepala, tetapi yang mampu ia lakukan hanyalah menatap rak-rak buku yang selama ini menjadi tempat ia menyimpan harapan. Nero mengepalkan tangannya.</p>
<p>“Jangan bicara begitu! Arga sama seperti kita. Dia berhak membaca,” kata Nero dengan suara bergetar.</p>
<p>Laki-laki itu hanya tertawa sinis.</p>
<p>“Hak? Dunia ini tidak hidup dari belas kasihan. Anak seperti dia hanya akan menjadi beban sampai tua.”</p>
<p>Suasana mendadak hening. Beberapa anak yang berada di perpustakaan ikut menatap Arga. Tidak ada yang berani membela selain Nero. Arga merasakan matanya mulai basah. Untuk pertama kalinya ia ingin pulang tanpa membaca satu halaman pun. Namun, penjaga perpustakaan menghampirinya dan meletakkan sebuah buku di hadapannya.</p>
<p>“Jangan dengarkan mereka, Ga. Buku tidak pernah memilih siapa yang berhak membacanya. Ilmu juga tidak pernah membedakan manusia.”</p>
<p>Arga menatap sampul buku itu cukup lama. Perlahan ia menganggukkan kepala. Meski kata-kata penghinaan masih terngiang di telinganya, ia memilih membuka halaman pertama. Di dalam hatinya ia berjanji, suatu hari nanti ia akan membuktikan bahwa mimpi seseorang tidak ditentukan oleh kesempurnaan tubuh, melainkan oleh keberanian untuk terus bertahan.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Melihat kesedihanku, Nero dan teman-teman mulai mengumpulkan tanda tangan warga agar perpustakaan tidak ditutup. Mereka mendatangi rumah-rumah penduduk. Sebagian mendukung. Sebagian lagi menolak.</p>
<p>“Buat apa mempertahankan perpustakaan? Lebih baik dijadikan gudang.”</p>
<p>Ucapan itu kembali melukai hatiku. Saat itulah aku sadar. Yang sedang dijajah bukan hanya bangunan perpustakaan. Tetapi juga harapan. Terutama harapan anak-anak miskin dan anak-anak seperti diriku yang hanya memiliki buku sebagai jalan untuk bermimpi. Aku memang tidak bisa menulis dengan tangan. Namun aku masih bisa bercerita.</p>
<p>Aku mulai menceritakan kisah-kisah yang kubaca kepada anak-anak kecil setiap sore. Mereka duduk mengelilingiku dengan penuh semangat. Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa mimpiku belum sepenuhnya hilang. Mungkin aku belum bisa menjadi penulis. Tetapi aku bisa membuat orang lain mencintai cerita.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Aku belajar bahwa keterbatasan tubuh bukanlah alasan seseorang kehilangan harga dirinya. Yang lebih berbahaya adalah ketika manusia kehilangan kepedulian terhadap sesama hanya karena melihat perbedaan. Perpustakaan mungkin suatu hari benar-benar akan ditutup. Namun, selama masih ada orang yang mau membaca, belajar, dan menghargai sesama manusia tanpa memandang kondisi fisiknya, harapan tidak akan pernah benar-benar hilang. Dan aku, Arga, akan terus bermimpi menjadi penulis, meskipun dunia berkali-kali mengatakan bahwa aku tidak akan pernah bisa menulis.*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan berita terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
