<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bu! Batas Waktu Besok &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/bu-batas-waktu-besok/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 05:17:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Bu! Batas Waktu Besok &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bu! Batas Waktu Besok</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/6024/bu-batas-waktu-besok/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2026 05:17:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aforisma]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Bu! Batas Waktu Besok]]></category>
		<category><![CDATA[Felix Sugar]]></category>
		<category><![CDATA[perspektifnusantara.com]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=6024</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM. Sahabat PeNa (PerspektifNusantara). Seorang ibu selalu mengorbankan segalanya hanya ingin melihat anaknya bahagia. Ia rela kehilangan apapun. Harta bahkan nyawanya sendiri. Cerpen karya Felix Sugar berikut membahasakan bagaimana seorang ibu melakukan hal-hal tersebut. Selamat membaca. &#160; “Setiap kali aku membaca pesan ibu, rasanya ingin kutonjok kepala ibu. Bukan karena aku membencinya. Aku hanya sedang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>. Sahabat PeNa (PerspektifNusantara). Seorang ibu selalu mengorbankan segalanya hanya ingin melihat anaknya bahagia. Ia rela kehilangan apapun. Harta bahkan nyawanya sendiri. Cerpen karya Felix Sugar berikut membahasakan bagaimana seorang ibu melakukan hal-hal tersebut. Selamat membaca.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“</em><em>Setiap kali aku membaca pesan ibu, rasanya ingin kutonjok kepala ibu. Bukan karena aku membencinya. Aku hanya sedang lelah sekali.” </em></p>
<p>Sudah sebulan aku berada di Jakarta. Kota yang dulu kukira akan menjadi tempat aku menemukan masa depan ternyata membuatku lebih sering menghitung sisa uang daripada menghitung mimpi besar.</p>
<p>Walaupun aku seorang tamatan sarjana dengan nilai yang cukup membanggakan. Cukup tinggi tapi sederhana saja. Tapi semuanya itu tidak cukup untuk bertahan di kota ini. Apalagi ayah dan ibu sudah menghabiskan puluhan juta agar aku bisa menyelesaikan pendidikan. Tetapi sekarang, untuk membeli nasi saja aku harus berpikir berkali-kali. Apalagi ingin membeli <em>scincare</em> seperti anak-anak seusiaku.</p>
<p>Setiap hari aku mengirim lamaran pekerjaan dengan CV yang menurutku bermutu, dan elegan. Puluhan sudah kukirim, berlalu begitu saja, tetapi hampir semuanya berakhir dengan kalimat yang sama.  “Terima kasih sudah mengikuti proses rekrutmen.”  Aku sudah hafal kalimat penolakan itu. Bahkan disaat hening kata itu selalu aku ingat.</p>
<p>*****</p>
<p>Pagi-pagi aku harus mencari pekerjaan. Siang bolong dengan panas matahari aku terus berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Malam pun kembali ke kos dengan kaki pegal dan kepala penuh pertanyaan aneh. Dunia begitu jahat bagiku. Mungkin tembok selalu jadi teman setia menyaksikan tetesan air mata.</p>
<p>“Nak, minggu depan anaknya Om Berto mau masuk minta. Kita diberi tanggung jawab satu juta dengan dua kilogram beras. Mama di kampung kesusahan mendapatkan uang.” Pesan <em>whatsApp </em>ibu masuk. Aku memandangi layar HP cukup lama. Apalagi saldo rekeningku tidak banyak lagi. Namun, aku tahu ibu tidak akan meminta kalau ia tidak membutuhkan.</p>
<p>“Baik, Bu. Segera aku kirim yah.” Uang satu juta rupiah berpindah ke rekening ibu dalam hitungan detik. Secepat itu. “Terima kasih, Nak. Semangat bekerja anaku sayang.” Aku tersenyum kecil. Sembari mengais rindu kepada ibu. Ibu tidak pernah tahu bahwa uang satu juta itu membuat saldo rekeningku semakin menipis tak tau akan aku dapat dari mana lagi.</p>
<p>*****</p>
<p>Hari-hari terus aku jalani dengan amat khusuk. Tiba saat aku baru pulang dari wawancara kerja, pesan ibu kembali muncul dengan amat tenang. “Nak, bisakah kirim lima ratus ribu rupiah untuk membeli obat? Obat ibu sudah habis dari kemarin.” Aku berhenti berjalan sejenak. Sambil melihat ke arah langit yang mulai mendung. Aku bahkan belum makan siang sama sekali. Wawancara tadi juga tidak menghasilkan apa-apa. Ditambah lambungku sedikit kumat. Sakit sekali rasanya. Tetapi jariku tetap mengetik pelan.</p>
<p>“Baik, Bu. Segera aku kirim.” Beberapa detik kemudian uang berpindah dengan begitu cepat. “Terima kasih, Nak.” Aku memasukkan ponsel ke saku. Kadang aku ingin mengatakan kepada ibu bahwa aku juga sedang kesulitan dan sampai hari ini belum mendapatkan pekerjaan. Tetapi setiap kali mengingat ia tinggal sendirian di kampung, semua kata-kata itu menghilang.</p>
<p>Sejak ayah pergi lima belas tahun lalu, ibu memang hanya mengandalkan beberapa kamar kos yang disewakan kepada mahasiswa di tempat tinggal ibu. Ia sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan. Sudah bolak-balik rumah sakit. Obat-obatan hanya jadi makanan favoritnya.</p>
<p>****</p>
<p>Aku adalah satu-satunya anak yang masih bisa ibu harapkan. Setidaknya begitulah pikirku. Malam berikutnya, sebuah pesan kembali muncul dengan adem. “Nak, mesin cuci ibu rusak. Mau diperbaiki. Ibu minta kirim dua juta rupiah sekalian untuk beli beras.” Aku menatap pesan itu berkali-kali. Dua juta ibu? desahku kuat. Entah kenapa kali ini dadaku terasa panas ketika mendengarkan.</p>
<p>“Ibu, aku tidak punya uang lagi. Aku belum bekerja sampai hari ini. Apa ibu tidak bisa usahakan sendiri dulu?” Telepon masuk. Aku mengangkatnya. “Ibu juga sedang susah, Nak.” “Tapi aku juga susah, Bu!” Suaraku meninggi. Ibu terlalu sering meminta. Ibu aku juga kelaparan di sini. Ibu tidak tahu itu. “Memangnya Ibu pikir aku di Jakarta hidup enak? Aku belum punya pekerjaan tetap. Uangku tinggal sedikit. Kenapa Ibu selalu minta?”</p>
<p>Hening. Tak ada lagi suara. Tidak ada suara ibu. Beberapa detik kemudian sambungan terputus. Aku menyesal. Mati saja teleponya bu. Air mata menetes begitu saja di pusaran pipiku yang mungil. Tak lama sebuah pesan masuk. “Nak, maaf merepotkan kamu. Ibu hanya tidak suka dibentak.” Aku menutup mata. “Maaf, Bu. Aku terlanjur capek.”  Tidak ada balasan. Malam itu aku tidak bisa tidur. Ada rasa bersalah yang besar ketika berbicara nada tinggi dengan ibu.</p>
<p>*****</p>
<p>Seminggu kemudian, sebuah kabar mengubah hidupku. Lamaran kerjaku diterima. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan besar. Pekerjaan itu ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Teman-teman kerja baik. Atasanku masih muda dan cukup perhatian.</p>
<p>“Nad, saya lihat kamu bisa bekerja dengan baik. Untuk sementara kamu bantu saya sebagai asisten.” Suara bos muda yang begitu lembut, setelah sekian lama aku tak mendengar pujian ditelingaku. Aku hampir tidak percaya. Gajiku jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan. Hari itu pun aku langsung menghubungi ibu.</p>
<p>“Bu, puji Tuhan aku sudah dapat pekerjaan bagus. Sekarang aku jadi asisten Pak Bos.” Balasan ibu datang dengan penuh semangat. “Syukuri itu, Nak. Bekerjalah dengan baik, jujur, dan tekun.” Aku tersenyum lebar.  “Mulai sekarang semua kebutuhan ibu akan aku penuhi.” Ibu menjawab: “Tabung saja dulu. Ibu masih punya uang.”</p>
<p>Aku mengira ibu hanya sedang gengsi. Namun hari demi hari berlalu. Ibu tidak meminta uang lagi. Tidak ada permintaan beras. Tidak ada obat. Tidak ada mesin cuci. Awalnya aku senang. Kemudian aku mulai merasa aneh. “Ibu, kirim nomor rekening. Aku mau transfer.” “Sudahlah, Nak. Ibu masih ada uang.” “Uang dari kos?” “Iya.” Aku tidak bertanya lagi. Mungkin kamar kos sedang penuh.</p>
<p>Tetapi beberapa hari kemudian, ibu semakin jarang menghubungiku. Dulu hampir setiap malam kami berbicara. Sekarang hanya beberapa menit. “Ibu sehat?” “Sehat, Nak.” “Terus kenapa sekarang jarang telepon?” “Ibu baik-baik saja. Jangan pikirkan ibu.” Kalimat itu justru membuatku semakin khawatir. Aku belum puas, mengapa sikap ibu tiba-tiba dingin.</p>
<p>*****</p>
<p>Suatu sore aku menelepon ibu berkali-kali. Tidak juga diangkat. Aku mencoba lagi. Tetap saja tidak diangkat. Kemudian sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.</p>
<p>“Nad, ini Mira. Anak kos ibumu.” Aku membalasnya.  “Iya, kenapa?” “Tante akhir-akhir ini sering sakit.” Aku hanya terdiam. “Sakit apa?” “Kurang tahu. Beberapa kali saya antar ke rumah sakit.” Jantungku seperti berhenti. “Rumah sakit?” “Iya. Tante juga sering sendirian.” Aku menatap layar. Selama ini ibu selalu berkata baik-baik saja.</p>
<p>Aku langsung membeli tiket untuk pulang. Aku tiba di rumah dua hari kemudian. Dari kejauhan semuanya tampak biasa. Rumah tua dengan cat yang mulai mengelupas. Pohon mangga di halaman. Beberapa kamar kos di bagian belakang. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Hanya dua kamar yang terisi. Aku pun masuk. Ibu sedang duduk di ruang tamu. Tubuhnya terlihat lebih kurus.</p>
<p>“Ibu.” Ia tersenyum lepas. “Nak, kamu pulang?” Aku langsung memeluknya. Kenapa ibu semakin ringan? Aku tidak bertanya. Malam itu kami makan bersama. Aku memperhatikan ibu yang hanya makan beberapa sendok nasi. “Ibu benar-benar sehat?” “Sehat.” “Ibu sakit?” “Sedikit  saja.” “Kenapa tidak bilang?” Ibu hanya tunjukkan senyum uniknya. “Kalau ibu bilang, kamu pasti khawatir.” Aku terdiam seribu bahasa. Sebelum tidur, aku masuk ke kamar ibu untuk mengambil selimut. Di atas meja terdapat sebuah buku kecil. Aku membukanya. Catatan pengeluaran. Beras, listrik, obat, dan juga biaya rumah.</p>
<p>Kemudian ada beberapa tulisan yang membuatku berhenti. Jual gelang Rp1.500.000, jual televisi Rp2.000.000, uang kos  Rp800.000. Aku membalik halaman muncul  catatan lain. Jual mesin cuci  Rp1.200.000. Aku hanya tertegun. Mesin cuci yang pernah diminta uang untuk diperbaiki ternyata sudah dijual. Aku terus membaca. Di halaman berikutnya terdapat satu kalimat. <em>“Jangan minta uang Nad lagi. Dia baru mulai bekerja.” </em>Tanganku gemetar. Ternyata selama ini ibu bukan berhenti meminta karena memiliki banyak uang. Ia berhenti karena tidak ingin menjadi beban.</p>
<p>Aku menutup buku itu. Air mataku jatuh. Tiba-tiba dari ruang tengah terdengar suara ibu. “Nad.” Aku segera keluar. “Iya, Bu?” Ibu sedang berdiri di dekat pintu. “Jangan baca buku itu.” Aku terdiam. “Ibu kenapa?” Ibu tidak menjawab. “Ada masalah apa sebenarnya?” “Ibu baik-baik saja.” “Jangan bohong.” Ibu menatapku. Untuk beberapa detik kami hanya saling diam. Kemudian ibu berkata pelan. “Besok kamu pulang saja.” “Kenapa?” “Kerjaanmu.” “Aku bisa izin.” “Jangan.” Nada suara ibu kali ini berbeda. Aku semakin curiga. “Bu, sebenarnya ada apa?” Ibu menunduk. “Lupakan saja.”</p>
<p>Aku hendak mengejarnya ketika tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Ibu langsung menoleh. Wajahnya berubah. Seseorang mengetuk pintu. <em>Tok. Tok. Tok.</em> Ibu menggenggam tanganku. “Nad, jangan keluar.” “Siapa bu?” Ibu tidak menjawab. Ketukan terdengar lagi. <em>Tok. Tok. Tok.</em> Kemudian suara seorang laki-laki berewok dari luar. “Bu Agata, kami datang lagi.” Aku menatap ibu. “Ibu kenal?” Wajah ibu pucat. Laki-laki brewok itu kembali berbicara. “Kami hanya ingin menyelesaikan urusan rumah ini.” Aku merasakan tubuhku dingin sekali. “Rumah ini kenapa, Bu?” Ibu tidak menjawab. Aku berjalan menuju pintu. Tangannya menarik lenganku. “Jangan, Nad.” Aku menatap wajah ibu. Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang selama ini disembunyikannya.</p>
<p>“Bu&#8230;” Matanya berkaca-kaca. “Kalau kamu tahu semuanya, kamu akan membenci ibu.” Aku menggeleng saja. “Tidak.” Ibu melepaskan tanganku. Kemudian ia berjalan menuju kamar. Aku mengikutinya. Di atas meja, buku catatan tadi terbuka pada halaman terakhir. Ada satu angka yang belum sempat kubaca. “Rp75.000.000.” Di bawahnya tertulis “Batas waktu besok.” Aku menatap ibu. “Ibu&#8230;” Namun sebelum ia menjawab, suara ketukan kembali terdengar. Kali ini lebih keras.</p>
<p><em>Tok. Tok. Tok</em>. Aku berdiri di antara pintu dan ibu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak tahu apakah uang yang kumiliki cukup untuk menyelamatkan rumah ini. Dan aku lebih takut lagi pada satu pertanyaan yang belum berani kutanyakan; <em>Apa yang sebenarnya ibu korbankan selama ini untuk membesarkanku?</em> *</p>
<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_6025" aria-describedby="caption-attachment-6025" style="width: 225px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-medium wp-image-6025" src="https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-30-at-17.45.29-225x300.jpeg" alt="" width="225" height="300" srcset="https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-30-at-17.45.29-225x300.jpeg 225w, https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-30-at-17.45.29.jpeg 576w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /><figcaption id="caption-attachment-6025" class="wp-caption-text">Penulis, Felix Sugar berasal dari Manggarai-Flores, NTT adalah seorang Mahasiswa di Institut Filsafat Teknologi Kreatif Ledalero. Ia telah giat dalam menulis dibeberapa media-media lokal maupun sudah mempublikasikan 33 artikel pada jurnal ilmiah. Selain itu, Ia telah menerbitkan dua buku dengan judul Langit Pernah Menulis Kita di Tubuh Senja (2024) dan Sapu Tangan Tanya? (2025).</figcaption></figure>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan berita terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
