<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Badan Eksekutif Mahasiswa &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/badan-eksekutif-mahasiswa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Jun 2026 04:14:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Badan Eksekutif Mahasiswa &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Organisasi Mahasiswa Hanya Jadi Formalitas</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/5098/ketika-organisasi-mahasiswa-hanya-jadi-formalitas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2026 04:14:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini Akademik]]></category>
		<category><![CDATA[Badan Eksekutif Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Ekstrakurikuler]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan Formalitas]]></category>
		<category><![CDATA[Manggarai]]></category>
		<category><![CDATA[Organisasi Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif Nusantara.com.]]></category>
		<category><![CDATA[Unika Santo Paulus Ruteng]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=5098</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM &#8211; Di banyak kampus, rapat organisasi sering penuh di awal semester, tetapi menyusut drastis ketika pekerjaan mulai berjalan. Ironisnya, jumlah nama dalam kepanitiaan tetap panjang, sementara yang benar-benar bekerja hanya segelintir orang. Sebagai wadah pengembangan, organisasi dibentuk untuk melengkapi kompetensi yang tidak diajarkan di dalam kelas: kepemimpinan, kerja sama tim, dan kemampuan memecahkan masalah. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong> &#8211; Di banyak kampus, rapat organisasi sering penuh di awal semester, tetapi menyusut drastis ketika pekerjaan mulai berjalan. Ironisnya, jumlah nama dalam kepanitiaan tetap panjang, sementara yang benar-benar bekerja hanya segelintir orang.</p>
<p>Sebagai wadah pengembangan, organisasi dibentuk untuk melengkapi kompetensi yang tidak diajarkan di dalam kelas: kepemimpinan, kerja sama tim, dan kemampuan memecahkan masalah. Saat seorang anggota harus menghadapi konflik internal dalam kepanitiaan, itulah proses belajar yang sesungguhnya. Keterlibatan aktif juga membuka pintu relasi sosial yang sulit didapatkan dari jam kuliah formal semata.</p>
<p>Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain. Banyak mahasiswa bergabung dalam organisasi semata-mata untuk mengamankan <a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Surat Keterangan Ekstrakurikuler (SKE)</a>. Kehadiran mereka sebatas <em><i>numpang nama</i></em> dalam daftar hadir, lalu muncul saat sesi foto atau pembagian sertifikat di akhir acara. Survei internal yang dilakukan oleh beberapa BEM perguruan tinggi menunjukkan bahwa lebih dari 60% anggota kepanitiaan tidak hadir dalam lebih dari separuh rapat persiapan kegiatan. Angka ini mencerminkan betapa dalamnya pergeseran orientasi yang terjadi.</p>
<p>Akar masalahnya terletak pada sistem SKE yang lebih mengedepankan kuantitas kehadiran daripada kualitas kontribusi. Ketika poin ekstrakurikuler bisa diperoleh hanya dengan tercantum dalam kepanitiaan, semangat untuk benar-benar terlibat pun luntur. Mahasiswa terjebak dalam pragmatisme: tumpukan sertifikat dianggap lebih penting daripada kapasitas diri yang sesungguhnya.</p>
<p>Beban <a href="https://www.perspektifnusantara.com/">akademik yang tinggi turut memperparah kondisi ini</a>. Tekanan untuk lulus tepat waktu mendorong mahasiswa untuk mengumpulkan poin ekstrakurikuler sebanyak-banyaknya tanpa memedulikan relevansinya dengan pengembangan karier. Studi dari Direktorat Kemahasiswaan sejumlah universitas menunjukkan bahwa mahasiswa rata-rata hanya mengalokasikan kurang dari lima jam per minggu untuk kegiatan organisasi, jauh di bawah porsi yang dibutuhkan untuk kontribusi bermakna. Akibatnya, organisasi diperlakukan bukan sebagai kesempatan bertumbuh, melainkan hambatan administratif yang harus segera diselesaikan.</p>
<p>Pada akhirnya, dunia kerja tidak akan bertanya berapa banyak sertifikat organisasi yang dimiliki seseorang. Yang diuji adalah kemampuan bekerja, memimpin, dan bertanggung jawab—hal yang hanya bisa dibentuk melalui keterlibatan nyata, bukan sekadar hadir demi formalitas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan berita terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
