<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Antologi &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/antologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Fri, 08 May 2026 09:10:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Antologi &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Antologi Puisi &#124;&#124;Erwin Pitang&#124;&#124;</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4230/antologi-puisi-erwin-pitang-3/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 May 2026 09:10:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi]]></category>
		<category><![CDATA[Erwin Pitang]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[perspektifnusantara.com]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4230</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTFINUSANTARA.COM-Pembaca yang budiman. Puisi- puisi berikut merupakan buah permenungan penulis dalam waktu-waktu luang. Setiap detik pengalaman memiliki makna apabila dihayati lebih intim. Belajar dari puisi-puisi berikut, setiap pengalaman hidup sekecil apapun itu harus memiliki ruang untuk dijadikannya abadi. Semoga puisi ini menjadi abadi di hati penulis juga di hati pembaca. Selamat menikmati. &#160; Rindu Adalah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTFINUSANTARA.COM-</strong><em>Pembaca yang budiman. Puisi- puisi berikut merupakan buah permenungan penulis dalam waktu-waktu luang. Setiap detik pengalaman memiliki makna apabila dihayati lebih intim. Belajar dari puisi-puisi berikut, setiap pengalaman hidup sekecil apapun itu harus memiliki ruang untuk dijadikannya abadi. Semoga puisi ini menjadi abadi di hati penulis juga di hati pembaca. Selamat menikmati.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Rindu</strong></p>
<p>Adalah tentang mawar yang kauberikan namun semenjak menepi pada ruang yang lain.<br />
Kamupun hanyalah seperti penunggu sialan yang ingin temu dengannya entah kapan.<br />
Dan dalam dadamu hanyalah bak layaknya mendung menanti hujan.<br />
Dan hujan menantikan pelangi yang entah kapan melengngkung indah di depan tatapmu.</p>
<p>Dan tentang rindu kemanakah itu harus kau akhiri.<br />
Tentu adalah adil membiarkannya berlalu.<br />
Tapi tentang yang lagi risau biarkanlah ratap mengartikan kesakitan.<br />
Tapi bisa jadi senyum yang merangkup semuanya pada mustakamu.</p>
<p><strong>Teruntukmu&#8230;</strong></p>
<p>Yang lagi memadu mesra dengan mendung beralasan hujan.<br />
Yang lagi menikmati angin musim beralasan kesejukan.<br />
Yang berteduh dibawa atap beralasan tak ingin tersakiti mentari.<br />
Teruntuk senyum beralasan bahagia.<br />
Teruntuk tertawa beralasan senang..<br />
Teruntuk air mata beralasan perihnya kalbu.</p>
<p>Masih adakah cahaya dibalik mendung yang menghambat senyummu.<br />
Masih adakah air mata dibalik awan hitam yang tertumpul di matamu.<br />
Adakah pelangi itu tersimpan dibalik matamu?<br />
Ataukah harus kulewati awan dan hujan untuk bertemu dengan pelangi itu.<br />
Tentu tak perlu kutanyakah sejauh mendung beri arti tentang pelangi yang kita tunggu bukan?</p>
<p>Kitapun sampai pada saat dimana.<br />
Telah kau lewati hari yang membelenggu segenap jiwamu..<br />
Untuk hari ini ..<br />
Masih ada yang tersisa jangan menyerah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PUISI PAGI</strong></p>
<p>Jendela sunyi membekuk mimpi semalam yang tinggal kenangannya jauh diujung sana&#8230;..<br />
Dengan selimut sepi aku masih berujar tentang pagi yang membius urat nadiku.<br />
Sedang masih saja samar tentang pagimu dalam raut mimpiku yang muram.<br />
Tentu tak ingin pula kabut menghilangkan jejakmu dariku meski dingin terlampau menyakitimu.</p>
<p>Untuk kesekian kalinya gerimis yang bertukar sepi dan dingin yang berrapal ingin.<br />
Masih saja aku tentang pagi yang rancau.<br />
Dan sukma yang terlukis mawar hitam.<br />
Namun jauh sebelumnya..<br />
Pagimu sudah kurangkai menjadi yang terindah.</p>
<p>Demikian menjadikanmu abadi adalah dengan berbicara jujur tentang pagi yang dingin dan ingin yang tak sendiri.<br />
Adalah tentangmu..<br />
Dingin berarti kerinduan&#8230;<br />
Dan ingin adalah kesepian..</p>
<p>#Jangan biarkan dingin terlampau membius sendirimu ..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>TITIK.</strong></p>
<p>Dimana kamu berhenti..<br />
Berhenti untuk memulai.<br />
Memulai untuk berhenti..<br />
Adalah tentang kepastian.<br />
Tentang yang kamu beri sejak kamu berubah menjadi pemimpi yang mustahil namun optimis..</p>
<p>Titik yang sama..<br />
Itulah yang kukatakan lewat hari yang tak ingin murung selaksa mendung mempermainkan air hujan pada kantung awan yang bimbang..</p>
<p>Kita telah berada pada ubun ubun yang beranjak menipis tentang masa yang terhitung sebagai waktu..<br />
Kamu dan aku masih saja dengan cita rasa tapak kita masing masing..</p>
<p>Akankah kamu menemukan yang tersembunyi selama hidup adalah pencarian dan hari adalah zona nyaman tempatmu mencari?<br />
Tentu kamu adalah jawaban yang jujur.<br />
Jika jujur membuatmu mengerti tentang arti dari keterbukaan..</p>
<p>Untuk kita yang lagi memadu waktu.<br />
Jangan biarkan jarum jam memulai dari nol.<br />
Karena apa artinya kehampaan jika satu titikpun belum kamu torehkan?</p>
<p>#Stay at home.<br />
Untuk waktu yang kamu jalani. Jangan sesalkan itu. Tetap dengan jarum jam dan tempo yang sama.<br />
Karena kesetiaan tak akan dipermainkan oleh waktu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PUISI PAGI.</strong></p>
<p>Pagi antara ingin ..<br />
angan&#8230;<br />
angin..yang merasuk sukma dan tubuh.<br />
Berbantalkan bisu dikamar sepi.<br />
Tersiram genangan syair dihujan pagi.<br />
Aku hanyalah bantal yang hanya tertindih pilu ketika malam dan tertindih bisu ketika pagi.</p>
<p>Dengan pagi aku bergerutu soal kemesraan pagi yang tak sempat kunikmati.<br />
Apalagi kamu yang masih saja enggan berselubungkan kain ungu untuk mimpi kita semalam.<br />
Tentu masih saja aku terbujur manis didepan wajahmu bunga tidurku.</p>
<p>Didepan teras rumah kita masih saja angin yang membawa pergi sehelai rambutmu enggan datang.<br />
Dan air yang tergenang di bidang wajahmu tak kunjung pulang.<br />
Akulah perantau yang tersakiti karena mimpi yang masih saja mengelus ingin yang tak sampai.</p>
<p>Namun untuk pagi..<br />
Adalah hujan yang romantis jika kubiarkan kisah kita bermandi dan berkejaran di bawah air hujan.<br />
Sedang kutunggu pelangi jiwamu.<br />
Sehabis tetesan air berlalu pergi meninggalkan setumpuk cerita kita..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Nyanyian malam</strong></p>
<p>Dengan bisu kamu mengartikan nadamu.<br />
Dengan senyap kamu artikan dendangmu.<br />
Kami hanyalah penikmat yang tiap tasbihmu teriring malam yang selalu.</p>
<p>Apa yang tak tertatap akhirnya datang.<br />
Dengan melodi yang sama.<br />
Tuaian kalbu yang tertutup lusuh.<br />
Mungkinkah nyanyianmu bisa kumengerti?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Antologi Puisi &#124;&#124; Erwin Pitang&#124;&#124;</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4165/antologi-puisi-erwin-pitang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2026 05:53:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi]]></category>
		<category><![CDATA[Erwin Pitang]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[perspektifnusantara.com]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4165</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM&#8211;Pembaca yang budiman. Setiap hal sederhana yang dijalankan oleh seseorang dapat menjadi pengalaman menarik apabila dimaknai secara mendalam. Setiap pengalaman selalu mempunyai kesan apabila dihayati dengan baik. Setiap pengalaman hanya akan menjadi kenangan manis apabila diabadikan melalui tulisan. Setiap pengalaman yang diabadikan dalam tulisan akan menjadikan penulisnya &#8216;hidup seribu tahun lagi&#8217; . Puisi berikut merupakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>&#8211;<em>Pembaca yang budiman. Setiap hal sederhana yang dijalankan oleh seseorang dapat menjadi pengalaman menarik apabila dimaknai secara mendalam. Setiap pengalaman selalu mempunyai kesan apabila dihayati dengan baik. Setiap pengalaman hanya akan menjadi kenangan manis apabila diabadikan melalui tulisan. Setiap pengalaman yang diabadikan dalam tulisan akan menjadikan penulisnya &#8216;hidup seribu tahun lagi&#8217; .</em></p>
<p><em>Puisi berikut merupakan karya yang dilahirkan oleh pengalaman-pengalaman sederhana, dibahasakan lebih menarik dan dihidangkan dengan dengan tulus. Selamat menikmati.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pagi</strong></p>
<p>Kita minum dari cangkir kopi yang sama<br />
Bersama pagi di beranda rumah<br />
Tempat kita menulis cerita yang telah kita sebut sebagai kenang yang berujung angan</p>
<p>Kurasakan manisnya kopi diawal seduhannya<br />
Akhir seduhnya pahit menulis kisahnya sendiri<br />
Pada bibir yang jujur<br />
Tentang larutnya kepulmu yang menghitam mengendap didasar kopi yang nanti dibuang</p>
<p>Tak apa<br />
Telah kita teruskan<br />
Semuanya<br />
Untuk kenang yang tertulis<br />
Dan kopi yang menceritakannya<br />
Serta pagi yang menyimpannya<br />
Dan kamu yang ditulisnya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Doa</strong><br />
__<br />
Adalah saat paling hening<br />
Kala mata terpejam<br />
Kedua tangan terkatup rapat<br />
Lalu jiwa hanyut dalam sembahyang<br />
Ada nada-nada syukur dilantunkan dalam diam<br />
Ada yang memohon dengan raut wajah mengharap iba hingga air mata menganak sungai<br />
Ada yang meminta dengan keyakinan dan sesekali tersenyum sebab kepercayaan tak Mungkin sia-sia<br />
Kemudian segalanya dihatur dalam kata Amin.</p>
<p><strong>Suatu sore</strong></p>
<p>Aku menjemputmu<br />
Bertengger di daun jendela bisu<br />
Memanjakanmu dalam tatap nun jauh di sana<br />
Memenjarakanmu dalam ingatanku</p>
<p>Lalu datanglah petang<br />
Menjemput sunyi dengan tertelan tatap yang menghitam<br />
Namun kau masih saja sama<br />
Menari indah pada memori yang enggan tertelan malam yang kian mendekat</p>
<p>(Di sore hari sehabis istirahat siang bayang bayang hujan)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pagi</strong></p>
<p>Terhenyak dari mimpi semalam<br />
Ternyata kamu sudah jatuh dalam pelukan dingin yang pilu<br />
Membeku di pelupuk mata<br />
Dan mecair di dedaunan hijau<br />
Meskipun jatuhmu lekas pergi<br />
Tapi ada harap disana<br />
Untuk embun pagi yang setia hadir</p>
<p>Aku yang masih terbaring<br />
Merapalkanmu dalam kata<br />
Dan mengaminkanmu dalam sujud<br />
Untuk pagi yang pergi<br />
Dan sejuk yang tak enggan lepas<br />
Kita adalah amin yang masih disebut<br />
Oleh waktu yang mengabadikannya<br />
Dalam syukur dan khilaf</p>
<p>(Hayalan bertajuk harap)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Air mata</strong></p>
<p>Kita mengemis<br />
Tentang separuh surga yang tersembunyi dibawah telapak nestapa<br />
Lalu jatuhnya kita aminkan<br />
Untuk ketaksempurnaan raga yang hakiki.</p>
<p>Kita mengukir<br />
Rintihnya yang tak enggan pergi<br />
Dan jatuhnya yang tak ingin lenyap<br />
Namun masih ada harap<br />
Itu adalah kepastian</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pagi</strong></p>
<p>Alasan aku menunggu pagi datang<br />
Karena aku terlampau jauh<br />
Memanjakanmu<br />
Saat malam melukis mimpimu<br />
Dan aku yang menggerayangimu<br />
Tatkala fajar membuka kelopak matamu<br />
Dan burung bernyanyi untukmu</p>
<p>Demikian untuk larutnya yang lewat<br />
Bukankah menunggu<br />
Adalah sepersekian waktu terbaik<br />
Memerah rindu yang membeku diujung talas?<br />
Sehingga jika pagi kau kisahkan lewat tatapmu<br />
Maka dalam pagi masih ada inginku tentangmu</p>
<p>Dan hari ini<br />
Kita langkahi dengan selekas pandang menjauhi fajar meminang hari baru bercinta dengan mentari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
