<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Antologi Puisi &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.perspektifnusantara.com/tag/antologi-puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<description>Nusantara Kritis, Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Jul 2026 04:15:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.perspektifnusantara.com/wp-content/uploads/2025/03/favicon-150x150.png</url>
	<title>Antologi Puisi &#8211; Perspektif Nusantara</title>
	<link>https://www.perspektifnusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pidato Musiman &#124;&#124; Antologi Puisi Martin Meli</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/5511/pidato-musiman-antologi-puisi-martin-meli/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2026 04:15:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[IFTK Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Magepanda]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Meli]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif Nusantara.com.]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=5511</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM&#8211; Antologi puisi ini lahir sebagai ruang refleksi terhadap berbagai realitas tersebut. Setiap puisi mencoba membaca wajah dunia dari sudut yang berbeda: tentang perang yang terus diproduksi atas nama kepentingan, gegap gempita olahraga yang kerap menutupi derita sesama, pertumbuhan ekonomi yang belum tentu menghadirkan kesejahteraan, politik yang kehilangan integritas, energi yang belum dinikmati secara adil, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>&#8211; Antologi puisi ini lahir sebagai ruang refleksi terhadap berbagai realitas tersebut. Setiap puisi mencoba membaca wajah dunia dari sudut yang berbeda: tentang perang yang terus diproduksi atas nama kepentingan, gegap gempita olahraga yang kerap menutupi derita sesama, pertumbuhan ekonomi yang belum tentu menghadirkan kesejahteraan, politik yang kehilangan integritas, energi yang belum dinikmati secara adil, hingga perkembangan kecerdasan buatan yang menantang manusia untuk tetap menjaga nilai kemanusiaannya.</p>
<p>Puisi-puisi dalam antologi ini tidak dimaksudkan sebagai penghakiman, melainkan sebagai undangan untuk merenung. Sebab sastra tidak selalu hadir untuk memberikan jawaban, tetapi sering kali mengajarkan manusia agar berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar: ke mana arah peradaban ini dibawa, siapa yang menikmati kemajuan, siapa yang tertinggal, dan apakah manusia masih menjadi pusat dari setiap pembangunan yang diciptakannya.</p>
<p>Selamat membaca. Semoga setiap bait dalam antologi ini menjadi ruang dialog antara akal dan hati, antara kritik dan harapan, sehingga pada akhirnya kita semakin menyadari bahwa kemajuan yang sejati bukan hanya diukur dari besarnya kekuasaan, kecanggihan teknologi, atau tingginya pertumbuhan ekonomi, melainkan dari kemampuan manusia untuk menjaga keadilan, merawat perdamaian, dan tetap memanusiakan sesamanya.</p>
<p><strong><b> </b></strong></p>
<p><strong><b>PIDATO MUSIMAN</b></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mikrofon selalu lebih nyaring daripada kenyataan,</p>
<p>Janji berbaris seperti spanduk di jalan raya.</p>
<p>Rakyat mengangguk bukan karena percaya,</p>
<p>Melainkan terlalu lelah untuk berharap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Negeri ini kaya sampai lupa menghitung,</p>
<p>Tetapi masih miskin saat membagi.</p>
<p>Yang berlimpah bukan hanya sumber daya,</p>
<p>Melainkan juga alasan untuk menunda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Negeri ini tidak meminta keajaiban.</p>
<p>Ia hanya ingin kejujuran tinggal lebih lama.</p>
<p>Sebab bangsa runtuh bukan karena badai,</p>
<p>Melainkan karena dusta yang diwariskan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><b>API YANG DIJUAL</b></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Api kini mempunyai harga,</p>
<p>Bahkan sebelum menyentuh tungku.</p>
<p>Asap mengepul dari dapur sederhana,</p>
<p>Membawa doa yang tak pernah masuk laporan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kemajuan berlari di jalan-jalan lebar,</p>
<p>Tetapi banyak rumah tertinggal dalam gelap.</p>
<p>Lampu-lampu kota bersinar tanpa ragu,</p>
<p>Sementara desa menunggu malam berakhir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Barangkali yang langka bukan energi,</p>
<p>Melainkan keberanian berlaku adil.</p>
<p>Sebab cahaya kehilangan maknanya,</p>
<p>Jika hanya jatuh pada jendela yang sama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><b>KETIKA MANUSIA MENYALIN DIRINYA</b></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mesin belajar tanpa mengenal lelah,</p>
<p>Manusia mulai lupa cara merenung.</p>
<p>Layar semakin cerdas membaca wajah,</p>
<p>Namun gagal membaca air mata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kita mencipta tangan yang tak pernah letih,</p>
<p>Lalu membiarkannya menggantikan pelukan.</p>
<p>Algoritma menghafal seluruh dunia,</p>
<p>Tetapi tidak pernah mengerti belas kasih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kelak yang menentukan masa depan</p>
<p>Bukan siapa paling pintar mencipta mesin,</p>
<p>Melainkan siapa yang masih mampu menjaga</p>
<p>Agar manusia tetap menjadi manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan berita terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Antologi Puisi Martin Meli</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/5508/antologi-puisi-martin-meli-4/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2026 04:07:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[IFTK Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Magepanda]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Meli]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif Nusantara.com.]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=5508</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM-Sahabat Perspektif Nusantara yang budiman, Zaman yang kita hidupi hari ini bergerak begitu cepat. Dunia dipenuhi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, olahraga, ekonomi, hingga diplomasi internasional. Namun, di balik segala pencapaian itu, manusia masih bergumul dengan persoalan yang sama: perang, ketimpangan, kemiskinan, krisis moral, ketidakadilan, dan pudarnya nilai-nilai kemanusiaan. Peradaban terus berkembang, tetapi nurani sering kali [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>-Sahabat Perspektif Nusantara yang budiman, Zaman yang kita hidupi hari ini bergerak begitu cepat. Dunia dipenuhi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, olahraga, ekonomi, hingga diplomasi internasional. Namun, di balik segala pencapaian itu, manusia masih bergumul dengan persoalan yang sama: perang, ketimpangan, kemiskinan, krisis moral, ketidakadilan, dan pudarnya nilai-nilai kemanusiaan. Peradaban terus berkembang, tetapi nurani sering kali tertinggal.</p>
<p>Antologi puisi ini lahir sebagai ruang refleksi terhadap berbagai realitas tersebut. Setiap puisi mencoba membaca wajah dunia dari sudut yang berbeda: tentang perang yang terus diproduksi atas nama kepentingan, gegap gempita olahraga yang kerap menutupi derita sesama, pertumbuhan ekonomi yang belum tentu menghadirkan kesejahteraan, politik yang kehilangan integritas, energi yang belum dinikmati secara adil, hingga perkembangan kecerdasan buatan yang menantang manusia untuk tetap menjaga nilai kemanusiaannya.</p>
<p>Puisi-puisi dalam antologi ini tidak dimaksudkan sebagai penghakiman, melainkan sebagai undangan untuk merenung. Sebab sastra tidak selalu hadir untuk memberikan jawaban, tetapi sering kali mengajarkan manusia agar berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar: ke mana arah peradaban ini dibawa, siapa yang menikmati kemajuan, siapa yang tertinggal, dan apakah manusia masih menjadi pusat dari setiap pembangunan yang diciptakannya.</p>
<p>Selamat membaca. Semoga setiap bait dalam antologi ini menjadi ruang dialog antara akal dan hati, antara kritik dan harapan, sehingga pada akhirnya kita semakin menyadari bahwa kemajuan yang sejati bukan hanya diukur dari besarnya kekuasaan, kecanggihan teknologi, atau tingginya pertumbuhan ekonomi, melainkan dari kemampuan manusia untuk menjaga keadilan, merawat perdamaian, dan tetap memanusiakan sesamanya.</p>
<p><strong><b> </b></strong></p>
<p><strong><b> </b></strong><strong><b>PABRIK DAMAI</b></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mereka membangun istana dari peta yang robek,</p>
<p>Mengukur bumi dengan ujung laras.</p>
<p>Di ruang diplomasi, senyum dipoles,</p>
<p>Sementara mesiu diam-diam belajar bernapas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak ada perang yang lahir sendirian;</p>
<p>Ia disusui ambisi dan disapih keserakahan.</p>
<p>Nama para pemenang dipahat pada monumen,</p>
<p>Nama para korban larut bersama hujan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Barangkali dunia tidak kekurangan perjanjian,</p>
<p>Yang habis hanyalah rasa malu.</p>
<p>Ketika kuasa lebih fasih daripada nurani,</p>
<p>Damai tinggal menjadi slogan di bibir sejarah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><b>SEBELUM PELUIT TERAKHIR</b></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Stadion menjadi jantung yang berdegup serentak,</p>
<p>Mengirim sorak ke empat penjuru angin.</p>
<p>Sementara itu, di belahan lain bumi,</p>
<p>Seorang ibu menendang sepi dari dapurnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kamera hanya mengejar bola,</p>
<p>Tak pernah mengejar mata yang kehilangan cahaya.</p>
<p>Dunia hafal menit terciptanya gol,</p>
<p>Namun lupa tanggal lahir kemiskinan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Biarlah sepak bola tetap menjadi pesta,</p>
<p>Asal manusia tidak menjadi penonton sesamanya.</p>
<p>Sebab kemenangan terbesar bukan mengangkat piala,</p>
<p>Melainkan mengangkat martabat yang terjatuh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><b>HARGA YANG TAK TERCATAT</b></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bursa saham bangun lebih pagi daripada petani,</p>
<p>Menghitung laba sebelum matahari utuh.</p>
<p>Di layar, angka-angka menari penuh percaya diri,</p>
<p>Di sawah, lumpur masih mengeja harapan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pasar mengajari dunia cara membeli,</p>
<p>Tetapi lupa cara berbagi.</p>
<p>Keuntungan dipuja seperti nabi baru,</p>
<p>Sedangkan nurani dibiarkan mengemis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak semua yang tumbuh berarti sejahtera.</p>
<p>Pohon pun dapat meninggi tanpa memberi teduh.</p>
<p>Ekonomi kehilangan wajahnya,</p>
<p>Ketika manusia berubah menjadi angka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan berita terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PERGI &#124;Antologi Puisi &#124;MARTIN MELI</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/5239/pergi-antologi-puisi-martin-meli/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2026 00:19:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[IFTK Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Magepanda]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Meli]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif Nusantara.com.]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=5239</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM- Sahabat Perspektif Nusantara yang budiman. Kehilangan adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak pernah benar-benar dapat dihindari oleh siapa pun. Ada perpisahan yang datang karena jarak, ada yang lahir dari perubahan waktu, dan ada pula kehilangan yang menetap sebagai luka karena orang yang dicintai telah lebih dahulu berpulang. Meski demikian, setiap kehilangan selalu menyisakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><b>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM- </b></strong><em><i>Sahabat Perspektif Nusantara yang budiman. Kehilangan adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak pernah benar-benar dapat dihindari oleh siapa pun. Ada perpisahan yang datang karena jarak, ada yang lahir dari perubahan waktu, dan ada pula kehilangan yang menetap sebagai luka karena orang yang dicintai telah lebih dahulu berpulang. Meski demikian, setiap kehilangan selalu menyisakan cerita, kenangan, dan pelajaran yang membentuk manusia menjadi lebih dewasa dalam memaknai hidup.</i></em></p>
<p><em><i>Puisi-puisi berikut merupakan refleksi penulis tentang berbagai wajah kehilangan: hilangnya kepercayaan, kepergian seorang sahabat dalam ikatan persaudaraan, kerinduan kepada bapa dan mama yang telah tiada, hingga kesunyian yang hadir ketika keluarga tidak lagi utuh seperti dahulu. Melalui larik-larik sederhana ini, penulis berusaha merekam suara rindu, duka, dan cinta yang tetap hidup meski dipisahkan oleh kematian.</i></em></p>
<p><em><i>Selamat membaca. Semoga setiap bait yang tersaji dapat menjadi ruang permenungan tentang arti kebersamaan, kenangan, dan kasih yang tidak pernah berakhir oleh batas kehidupan.</i></em></p>
<p><strong><b>SAUDARA YANG TELAH PULANG</b></strong></p>
<p>Tak pernah kubayangkan hari itu datang,</p>
<p>Ketika namamu disebut dalam doa-doa duka.</p>
<p>Angin membawa kabar yang begitu berat,</p>
<p>Dan dunia terasa kehilangan satu cahaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Masih kuingat suara yang akrab di telinga,</p>
<p>Canda yang membuat hari-hari terasa ringan.</p>
<p>Kini semuanya tinggal gema kenangan,</p>
<p>Hadir sesaat lalu menghilang dalam sepi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kursi yang biasa kau tempati tetap ada,</p>
<p>Namun tak lagi menyimpan sosokmu.</p>
<p>Rumah terasa lebih luas dari biasanya,</p>
<p>Karena satu hati telah pergi untuk selamanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saudaraku, waktu memang terus berjalan,</p>
<p>Tetapi rinduku tak pernah belajar pergi.</p>
<p>Di setiap doa yang kupanjatkan diam-diam,</p>
<p>Namamu tetap hidup meski ragamu telah tiada.</p>
<p><strong><b>SETELAH ENGKAU TIADA</b></strong></p>
<p>Sejak engkau menutup mata untuk terakhir kalinya,</p>
<p>Langit di rumah ini terasa berbeda.</p>
<p>Tak ada lagi suara yang membangunkan pagi,</p>
<p>Tak ada lagi langkah yang menyambut senja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dulu, bahumu adalah tempat paling kokoh,</p>
<p>Tempat segala takut menemukan keberanian.</p>
<p>Kini aku berjalan di jalan yang sama,</p>
<pre>Namun tanpa tanganmu yang menuntun dari depan.</pre>
<p>&nbsp;</p>
<p>Banyak hal ingin kuceritakan kepadamu,</p>
<p>Tentang hari-hari yang terus bertambah usia.</p>
<p>Tetapi namamu kini hanya dapat kusapa</p>
<p>Melalui doa yang melintasi keheningan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bapa, meski tanah telah memeluk ragamu,</p>
<p>Ajaranmu tetap tinggal dalam darah dan langkahku.</p>
<p>Dan selama aku masih menyebut namamu dengan rindu,</p>
<p>Engkau tidak pernah benar-benar pergi dari hidupku.</p>
<p><strong><b>DI PANGKUAN RINDU</b></strong></p>
<p>Rumah ini masih berdiri seperti dahulu,</p>
<p>Namun ada yang tak lagi kutemukan.</p>
<p>Senyum yang selalu menyambut kepulanganku,</p>
<p>Telah pergi bersama waktu yang tak bisa ditahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dapur masih menyimpan jejak kasihmu,</p>
<p>Meski tak lagi terdengar suara yang memanggil namaku.</p>
<p>Di setiap sudut yang pernah kau rawat,</p>
<p>Rindu tumbuh diam-diam tanpa pernah selesai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mama, dunia terasa berbeda tanpamu,</p>
<p>Seolah satu pelita padam di tengah perjalanan.</p>
<p>Aku mencari wajahmu dalam kenangan,</p>
<p>Dan menemukannya dalam air mata yang jatuh perlahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika doa dapat menyeberangi batas kehidupan,</p>
<p>Akan kusampaikan rinduku setiap malam.</p>
<p>Sebab meski ragamu telah beristirahat dalam damai,</p>
<p>Cintamu tetap hidup di dalam hatiku yang paling dalam.</p>
<p><strong><b>MEJA YANG TAK LAGI LENGKAP</b></strong></p>
<p>Di ruang makan yang sama,</p>
<p>Kursi-kursi masih tersusun seperti biasa.</p>
<p>Namun ada tempat yang kini kosong,</p>
<p>Dan tak seorang pun mampu mengisinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dulu, tawa berlarian dari satu sudut ke sudut lain,</p>
<p>Menyatukan kami dalam cerita sederhana.</p>
<p>Kini yang tersisa adalah gema kenangan,</p>
<p>Yang datang perlahan saat malam semakin sunyi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Satu per satu nama telah dipanggil pulang,</p>
<p>Meninggalkan jejak yang tak mudah hilang.</p>
<p>Kami belajar menerima kehilangan,</p>
<p>Meski hati sering kali belum siap melepaskan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keluarga ini mungkin tak lagi utuh seperti dahulu,</p>
<p>Tetapi cinta yang pernah tumbuh tak ikut pergi.</p>
<p>Ia tinggal dalam doa, dalam ingatan,</p>
<p>Dan dalam rindu yang akan kami bawa seumur hidup.</p>
<p><strong><b>SILSILAH YANG GUGUR</b></strong></p>
<p>Pada dinding rumah tua itu,</p>
<p>Foto-foto masih bergantung dengan setia.</p>
<p>Wajah-wajah yang pernah menghidupkan halaman,</p>
<p>Kini tinggal bingkai yang menjaga kenangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Waktu datang seperti musim yang tak pernah ingkar,</p>
<p>Memetik satu demi satu bunga dalam taman keluarga.</p>
<p>Kami hanya dapat memandang kelopaknya jatuh,</p>
<p>Tanpa kuasa menahan arah angin yang membawanya pergi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini, saat malam menurunkan kesunyiannya,</p>
<p>Aku mendengar nama-nama itu bergaung dalam ingatan.</p>
<p>Mereka hadir seperti cahaya dari kejauhan,</p>
<p>Menyentuh hati tanpa dapat kugenggam kembali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keluarga kami adalah pohon yang pernah rindang,</p>
<p>Dan beberapa dahannya telah rebah ke pangkuan bumi.</p>
<p>Namun akar cinta yang mereka tinggalkan tetap hidup,</p>
<p>Menyalurkan rindu ke dalam darah generasi yang masih bertahan.</p>
<p><strong><b>RUMAH YANG DITINGGALKAN MUSIM</b></strong></p>
<p>Rumah ini tak lagi sama sejak satu per satu pergi.</p>
<p>Pintu masih terbuka setiap pagi,</p>
<p>Namun tak ada lagi suara yang beradu dengan angin,</p>
<p>Tak ada lagi tawa yang menyalakan halaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Waktu berjalan seperti sungai yang tak menoleh,</p>
<p>Mengangkut nama-nama ke muara keabadian.</p>
<p>Kami berdiri di tepinya dengan tangan hampa,</p>
<p>Menyaksikan bayang-bayang menjauh bersama arus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kadang, pada malam yang terlalu panjang,</p>
<p>Rindu turun seperti gerimis di dalam dada.</p>
<p>Ia membasahi kenangan yang telah lama tersimpan,</p>
<p>Hingga mata kembali belajar bahasa kehilangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan keluarga ini, seperti rumah yang ditinggalkan musim,</p>
<p>Tetap berdiri meski banyak daun telah gugur.</p>
<p>Sebab cinta mereka tidak ikut dikuburkan,</p>
<p>Ia tinggal sebagai cahaya yang diam-diam menuntun jalan pulang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan berita terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Aprianus</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4946/kumpulan-puisi-aprianus-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2026 15:02:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan puisi Aprianus Gregorian Bahtera]]></category>
		<category><![CDATA[perspektifnusantara.com]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4946</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Kumpulan puisi karya Aprianus Gregorian Bahtera ini mengangkat tema cinta, kesetiaan, dan harapan yang tumbuh dalam perjalanan hidup manusia. Melalui puisi Rasa Sayangku, penyair menggambarkan kekuatan cinta yang mampu menghadirkan kebahagiaan, menguatkan hati, dan menjaga kesetiaan di tengah berbagai cobaan. Dalam Bidadari Pertamaku, cinta dihadirkan sebagai sosok istimewa yang memberi warna, harapan, dan ketenangan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>, Kumpulan puisi karya Aprianus Gregorian Bahtera ini mengangkat tema cinta, kesetiaan, dan harapan yang tumbuh dalam perjalanan hidup manusia. Melalui puisi Rasa Sayangku, penyair menggambarkan kekuatan cinta yang mampu menghadirkan kebahagiaan, menguatkan hati, dan menjaga kesetiaan di tengah berbagai cobaan.</p>
<p>Dalam Bidadari Pertamaku, cinta dihadirkan sebagai sosok istimewa yang memberi warna, harapan, dan ketenangan dalam kehidupan. Sementara itu, Tunggu Aku, Sayang berkisah tentang penantian yang tulus, keyakinan pada janji cinta, serta harapan untuk kembali bersatu meski dipisahkan oleh jarak dan waktu.</p>
<p>Ketiga puisi ini menyuarakan keindahan kasih yang lahir dari ketulusan hati dan kesetiaan yang tak lekang oleh keadaan. Selamat menikmati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>RASA SAYANGKU</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cintamu hadir</p>
<p>mengubah arah duniaku,</p>
<p>menumbuhkan seribu bunga</p>
<p>di taman hati yang sunyi,</p>
<p>menghimpun kasih</p>
<p>dalam lembar-lembar kenangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saat cintamu bersamaku,</p>
<p>kita melangkah hingga ujung cakrawala,</p>
<p>menembus langit ketujuh</p>
<p>yang dipenuhi cahaya harapan.</p>
<p>Meski pengkhianatan pernah bersemi,</p>
<p>pelukan kasih menyatukan kita kembali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hatiku menjaga nyala setia,</p>
<p>menyimpan doa di setiap senja,</p>
<p>merangkai mimpi-mimpi bahagia,</p>
<p>menemani langkah waktu</p>
<p>hingga usia menutup perjalanan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Biarlah cintamu mengalir lembut,</p>
<p>menyejukkan jiwa yang letih,</p>
<p>menghapus resah dan luka,</p>
<p>menguatkan hati saat badai datang,</p>
<p>serta menyatukan kita</p>
<p>dalam keabadian cinta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>BIDADARI PERTAMAKU</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai gadis,</p>
<p>pesonamu laksana bintang</p>
<p>yang turun dari langit malam,</p>
<p>menyinari jalan-jalan sunyi</p>
<p>dalam perjalanan hidupku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai gadis,</p>
<p>senyummu semanis embun pagi,</p>
<p>menghangatkan hati yang beku,</p>
<p>memikat tanpa kata-kata;</p>
<p>engkaulah bidadari pertama</p>
<p>yang singgah di relung jiwaku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai bidadari hatiku,</p>
<p>hadirmu memberi warna pada hari-hari,</p>
<p>kasihmu menumbuhkan sejuta harapan,</p>
<p>langkahmu meredakan kegelisahan,</p>
<p>dan namamu selalu bersemayam</p>
<p>dalam setiap doaku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>TUNGGU AKU, SAYANG</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Engkau tetap menanti</p>
<p>dalam hangat selimut kesetiaan,</p>
<p>menyimpan harapan</p>
<p>atas cinta yang tulus.</p>
<p>Aku berjanji menapaki kehidupan bersamamu,</p>
<p>seindah langit pagi yang damai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kesederhanaan menghiasi pesonamu,</p>
<p>laksana padang hijau yang membentang,</p>
<p>menyejukkan pandangan</p>
<p>dan menenangkan hati.</p>
<p>Meski rintangan menghadang langkah,</p>
<p>engkau tetap menungguku dari kejauhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tunggu aku, wahai sayang,</p>
<p>sebab cinta ini tak akan pudar.</p>
<p>Ia menembus jarak dan waktu,</p>
<p>melintasi musim yang berganti,</p>
<p>hingga akhirnya kita kembali bersatu</p>
<p>dalam pelukan yang telah lama dirindukan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karya: Aprianus Gregorian Bahtera</p>
<p>Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Widya Mandira Kupang</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Aprianus</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4799/kumpulan-puisi-aprianus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arnold Bewat]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 14:30:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan puisi Aprianus Gregorian Bahtera]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan puisi perspektifnusantara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4799</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Melalui tiga puisi berjudul Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia, dan Hari Lahir Pancasila, Aprianus Gregorian Bahtera menghadirkan refleksi puitis tentang nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Puisi-puisi ini menggambarkan Pancasila sebagai sumber persatuan yang mampu merangkul keberagaman, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menjadi penuntun dalam membangun kehidupan yang damai dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>, Melalui tiga puisi berjudul Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia, dan Hari Lahir Pancasila, Aprianus Gregorian Bahtera menghadirkan refleksi puitis tentang nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Puisi-puisi ini menggambarkan Pancasila sebagai sumber persatuan yang mampu merangkul keberagaman, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menjadi penuntun dalam membangun kehidupan yang damai dan berkeadilan.</p>
<p>Selain menegaskan peran Pancasila dalam menjaga keharmonisan bangsa Indonesia, penyair juga mengangkat nilai-nilai kemanusiaan universal yang relevan bagi perdamaian dunia. Melalui bahasa yang sederhana namun penuh makna, karya ini mengajak pembaca untuk merefleksikan kembali pentingnya persatuan, toleransi, dan cinta kasih sebagai fondasi masa depan yang lebih baik.</p>
<p>Pada momentum Hari Lahir Pancasila, puisi-puisi ini menjadi seruan moral agar setiap warga negara tetap setia menghidupi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.<br />
Selamat menikmati jamuan puisi Aprianus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>Pancasila Pemersatu Bangsa</strong></p>
<p>Lahir saat fajar</p>
<p>Nadi bangsa bangun</p>
<p>Suara hati satu</p>
<p>Damai jadi pijakan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lima sila tegak</p>
<p>Jalan menuju senyum</p>
<p>Berbeda namun dekat</p>
<p>Rukun menata hidup</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rumah kecil kita</p>
<p>Penuh warna harapan</p>
<p>Tangan saling rengkuh</p>
<p>Langkah sejati bersama</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anak-anak bernyanyi</p>
<p>Tentang bumi hangat</p>
<p>Ibu menenun doa</p>
<p>Ayah menjaga harap</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tanah ini bersuara</p>
<p>Janji tak pernah pudar</p>
<p>Pancasila jadi lentera</p>
<p>Menerangi setiap malam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>Fondasi perdamaian Dunia</strong></p>
<p>Dunia menatap rindu</p>
<p>Mencari kata damai</p>
<p>Jembatan butuh hati</p>
<p>Genggam tangan tanpa takut</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suara kecil tumbuh</p>
<p>Mengalahkan gong perang</p>
<p>Senyum merekah kan pagi</p>
<p>Kepedulian jadi lautan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahasa kemanusiaan lembut</p>
<p>Menembus tembok benci</p>
<p>Nilai-nilai menyatukan arah</p>
<p>Kebebasan bertumbuh bersama</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perbedaan jadi kekayaan</p>
<p>Bukan alasan perang</p>
<p>Keadilan menata meja</p>
<p>Setiap tamu duduk bersama</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Fondasi buka batu</p>
<p>Melainkan janji hidup</p>
<p>Perdamaian kita bina</p>
<p>Dari cinta sederhana</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>Hari lahir Pancasila </strong></p>
<p>Matahari tersenyum lembut</p>
<p>Langit menyimak damai</p>
<p>Riuhnya sejarah tenang</p>
<p>Kita hadir bersaksi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tanggal menandai jejak</p>
<p>Kisah ditulis bersama</p>
<p>Generasi pegang pena</p>
<p>Menulis masa depan adil</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pilar kebhinekaan tegak</p>
<p>Akar menghujam dalam</p>
<p>Daun-daun berbisik-bisik harmoni</p>
<p>Angin membawa lagu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kota dan desa berpadu</p>
<p>Suara suku bernyanyi</p>
<p>Agama saling hormat</p>
<p>Budaya saling merangkul</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini dan kelak setia</p>
<p>Menjaga warisan luhur</p>
<p>Hari lahir Pancasila</p>
<p>Hari ini 01 Juni 2026</p>
<p>Menjadi nahkoda bangsa</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berjalanlah sesuai nilainya</p>
<p>Agar kesejahteraan terasa</p>
<p>Bukan menyimpang</p>
<p>Melainkan setia dan laksanakan</p>
<p>Nilai-nilai Pancasila.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tentang Penulis</strong></p>
<p>Aprianus Gregorian Bahtera merupakan mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira. Ia aktif menulis puisi, opini, dan esai di berbagai media daring serta terlibat dalam penerbitan buku antologi puisi yang diterbitkan oleh Tim Penerbit Pustaka, CV Simple Siber pada tahun 2025. Karya-karyanya banyak menyoroti tema kemanusiaan, kebangsaan, dan refleksi sosial yang   pada nilai-nilai moral dan filosofis.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mei &#124;&#124; Antologi Puisi Martin Meli &#124;&#124;</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4435/mei-antologi-puisi-martin-meli/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 May 2026 06:31:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Meli]]></category>
		<category><![CDATA[perspektifnusantara.com]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4435</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM &#8211; Sahabat Perspektif Nusantara yang budiman. Setiap kesempatan selalu menjadi momentum berharga bagi setiap orang yang menghayatinya dengan baik. Penghayatan yang baik selalu melahirkan sesuatu yang baik atau (setidaknya) memberi makna atasnya.  Puisi berikut merupakan buah penghayatan penulis ketika memasuki bulan Mei, yang seturut tradisi orang Katolik merupakan bulan Maria, bulan yang dipenuhi dengan upacara [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM &#8211; </strong><em>Sahabat Perspektif Nusantara yang budiman. Setiap kesempatan selalu menjadi momentum berharga bagi setiap orang yang menghayatinya dengan baik. Penghayatan yang baik selalu melahirkan sesuatu yang baik atau (setidaknya) memberi makna atasnya. </em></p>
<p><em>Puisi berikut merupakan buah penghayatan penulis ketika memasuki bulan Mei, yang seturut tradisi orang Katolik merupakan bulan Maria, bulan yang dipenuhi dengan upacara dan doa oleh orang-orang katolik baik secara pribadi maupun bersama. selamat membaca. </em></p>
<p><strong>MEI</strong></p>
<p>Mei hadir bersama harum bunga,</p>
<p>Menghias pagi dengan damai yang nyata.</p>
<p>Langit teduh seakan bernyanyi,</p>
<p>Menyambut bulan penuh kasih suci.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di jalan-jalan kecil menuju gereja,</p>
<p>Langkah umat berjalan dalam doa.</p>
<p>Lilin menyala di depan altar,</p>
<p>Mengantar hati semakin sabar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mei adalah bulan penuh kenangan,</p>
<p>Tentang kasih yang membawa harapan.</p>
<p>Saat umat bersujud dengan setia,</p>
<p>Di bawah naungan Bunda Maria.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suara Rosario terdengar perlahan,</p>
<p>Mengalun lembut di setiap lingkungan.</p>
<p>Anak-anak, kaum muda, dan orang tua,</p>
<p>Bersatu hati dalam doa bersama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada bulan ini hati diajak hening,</p>
<p>Merenungkan cinta yang bening.</p>
<p>Belajar percaya dalam kehidupan,</p>
<p>Meski dunia dipenuhi tantangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mei bukan sekadar nama bulan,</p>
<p>Melainkan waktu penuh permenungan.</p>
<p>Saat jiwa kembali mencari terang,</p>
<p>Dan menemukan Tuhan dalam kasih yang tenang.</p>
<p><em>Nita, 2026.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>BULAN SANG IBUNDA</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mei datang bersama desir angin doa,</p>
<p>Membawa harum bunga di pelataran bukit Nilo.</p>
<p>Langit senja menjadi lebih teduh,</p>
<p>Ketika umat berhimpun dalam kasih yang utuh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di tangan renta maupun tangan kecil,</p>
<p>Untaian Rosario berbisik lirih dan bening.</p>
<p>Butir demi butir menjadi jalan pengharapan,</p>
<p>Mengantar hati menuju damai keselamatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada Bulan Mei yang penuh cahaya,</p>
<p>Umat mengenang kasih Sang Ibunda.</p>
<p>Maria, bunda yang lembut dan setia,</p>
<p>Menuntun langkah dalam suka dan duka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di depan arca yang diterangi lilin,</p>
<p>Doa-doa sederhana naik perlahan ke langit bening.</p>
<p>Ada air mata, ada syukur yang mendalam,</p>
<p>Ada hati yang mencari kekuatan dalam malam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rosario menjadi nyanyian jiwa,</p>
<p>Mengalun pelan di rumah dan gereja.</p>
<p>Setiap Salam Maria yang terucap,</p>
<p>Menjadi pelukan bagi hati yang penat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai Ibunda penuh kasih dan pengharapan,</p>
<p>Dekaplah umat dalam kelembutan tanganmu.</p>
<p>Ajarlah kami setia berjalan bersama Tuhan,</p>
<p>Meski dunia dipenuhi gelisah dan keraguan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mei bukan sekadar pergantian musim,</p>
<p>Melainkan waktu untuk kembali hening.</p>
<p>Saat umat belajar percaya dan berserah,</p>
<p>Di bawah naungan cinta Bunda Maria.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan ketika malam menutup hari perlahan,</p>
<p>Rosario tetap bergaung dalam keheningan.</p>
<p>Menjadi pelita bagi hati yang rapuh,</p>
<p>Serta harapan bagi jiwa yang teduh.</p>
<p><em>Nilo, 2026.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>ROSARIO</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di keheningan malam yang syahdu,</p>
<p>Untaian <a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Rosario</a> terjalin dalam kalbu.</p>
<p>Butir demi butir disentuh perlahan,</p>
<p>Mengalir doa penuh pengharapan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam Salam Maria yang terucap lembut,</p>
<p>Ada hati yang mencari jalan hidup.</p>
<p>Ada air mata yang jatuh berserah,</p>
<p>Ada jiwa letih yang memohon berkah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rosario bukan sekadar untaian doa,</p>
<p>Melainkan pelita bagi hati manusia.</p>
<p>Menuntun langkah menuju terang Tuhan,</p>
<p>Di tengah dunia yang penuh kegelisahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika tangan menggenggam Rosario erat,</p>
<p>Iman tumbuh menjadi semakin kuat.</p>
<p>Maria hadir sebagai <a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Bunda</a> tercinta,</p>
<p>Mendekap umat dengan kasih-Nya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di setiap misteri yang direnungkan,</p>
<p>Tersimpan cinta dan keselamatan.</p>
<p>Tentang pengorbanan, harapan, dan setia,</p>
<p>Yang menghidupkan damai dalam jiwa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rosario mengajarkan hati untuk diam,</p>
<p>Mendengar Tuhan dalam malam yang kelam.</p>
<p>Sebab dalam doa yang sederhana,</p>
<p>Tersimpan kekuatan yang luar biasa.</p>
<p><em>Key, 2026.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KASIH DAN PERSAUDARAAN</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kasih tumbuh dalam hati yang tulus,</p>
<p>Mengalir lembut tanpa harus diutus.</p>
<p>Ia hadir dalam senyum sederhana,</p>
<p>Yang menghangatkan jiwa sesama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Persaudaraan</a> bagaikan pelita,</p>
<p>Menyinari langkah dalam suka dan duka.</p>
<p>Menghapus jarak, meruntuhkan benci,</p>
<p>Menjadikan hidup lebih berarti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di tengah dunia yang mudah terpecah,</p>
<p>Kasih mengajarkan hati untuk ramah.</p>
<p>Bukan saling melukai karena perbedaan,</p>
<p>Melainkan berjalan dalam persatuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Persaudaraan lahir dari kepedulian,</p>
<p>Dari tangan yang rela memberi perhatian.</p>
<p>Saat seseorang jatuh dalam kelemahan,</p>
<p>Yang lain hadir membawa pengharapan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kasih tidak memandang rupa dan harta,</p>
<p>Tidak membeda-bedakan martabat manusia.</p>
<p>Sebab setiap insan adalah saudara,</p>
<p>Yang dipersatukan dalam cinta yang sama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bila kasih tetap dijaga di hati,</p>
<p>Damai akan tumbuh setiap hari.</p>
<p>Dan persaudaraan yang dibangun bersama,</p>
<p>Akan menjadi kekuatan bagi sesama.</p>
<p><em>Bloro, 2026.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Antologi Puisi &#124;&#124;Erwin Pitang&#124;&#124;</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4172/antologi-puisi-erwin-pitang-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 May 2026 05:19:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Erwin Pitang]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[perspektifnusantara.com]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4172</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM-Pembaca yang budiman. Puisi- puisi berikut merupakan buah permenungan penulis dalam waktu-waktu luang. Setiap detik pengalaman memiliki makna apabila dihayati lebih intim. Belajar dari puisi-puisi berikut, setiap pengalaman hidup sekecil apapun itu harus memiliki ruang untuk dijadikannya abadi. Semoga puisi ini menjadi abadi di hati penulis juga di hati pembaca. Selamat menikmati. &#160; Mimpi Aku [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM-<em>Pembaca yang budiman. Puisi- puisi berikut merupakan buah permenungan penulis dalam waktu-waktu luang. Setiap detik pengalaman memiliki makna apabila dihayati lebih intim. Belajar dari puisi-puisi berikut, setiap pengalaman hidup sekecil apapun itu harus memiliki ruang untuk dijadikannya abadi. Semoga puisi ini menjadi abadi di hati penulis juga di hati pembaca. Selamat menikmati.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mimpi</strong></p>
<p>Aku hanya singgah sebentar<br />
Lalu ketika pergi itu datang<br />
Aku menjadi ahli nujum<br />
Namun bukan tentang ingin<br />
Hanya sebatas lewat<br />
Harapan menggantung</p>
<p>Akupun hanya sebatas bunga<br />
Yang dititip lewat pesan<br />
Tetap kuat<br />
Untuk jiwa yang lemah saat tubuh mati sesaat</p>
<p>Untuk itu tak kuinginkan hadirmu<br />
Yang hanya sebentar dan nanti peluh bertukar candu yang tak pasti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kita dalam kesekian</strong></p>
<p>Tentang si puisi manis<br />
Kemarin aku telah menaruhnya dalam perbendaharaanku<br />
Untuk sebuah perjalanan yang sia sia</p>
<p>Demikianlah<br />
Malam masih terumbar<br />
Kalah sepi mengumpat<br />
Dan hampa menghempas raga dalam kesendirian<br />
Demikian seperti ampas<br />
Yang terakhir tapi paling tidak berarti</p>
<p>Kini malam telah kembali<br />
Untuk gelap yang tak kau ingini<br />
Dan terang yang tak kau relakan<br />
Namun masih ada iklas<br />
Karena besok hari yang sama<br />
Akan terulang lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PUISI PAGI</strong></p>
<p>Di pagi yang membeku di persendian ranjangmu.<br />
Telah kau temukan alasan untuk memeram sejenak sepi<br />
Sambil menunggu fajar datang membawanya pergi entah kemana.</p>
<p>Begitulah ironi tentang pagi .<br />
Kamu masih saja bangun dengan kesepian dan kesendirian memungut sisa malam yang membengkak diperonda matamu.<br />
Tapi untuk semuanya adalah alasan terbaik menjadi dewasa dengan belajar bukan.</p>
<p>Aku telah mengambil setetes embun.<br />
Untuk dahaga yang kesepian.<br />
Lalu kuharap Tuhan mengekalkannya dalam kesejukan.<br />
Dan hadirmu yang dingin tak lekas membawa kisahnya pergi.<br />
Tentu kaulah pagi yang kusebut suka menawan rindu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Si puisi manis.</strong></p>
<p>Aku memiliki seribu pelangi dengan beribu bintang.<br />
Tapi datanglah fajar membuatnya hilang.<br />
Sebab hujan tak ada artinya untuk sekedar menoreh rasa hampa dan malam tak ada untuk sepi yang kuingini.</p>
<p>Tapi adalah saat yang kauingini datang.<br />
Bersama senja yang&#8230;<br />
untuk waktu terakhirnya tetap yang terindah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>SENJA YANG TERLAMBAT</strong></p>
<p>Aku mengatakan itu..<br />
Senja yang terlambat&#8230;<br />
Memberi guratan seri pada hari yang mulai menghitam.<br />
Tergerus lesu lantaran pulangnya tak disadari..</p>
<p>Aku mengatakan itu..<br />
Pada jarum jam yang kesekian kalinya membicarakan tentang datang dan pergi..<br />
Pulang dan kembali..<br />
Tentang saat mata tak bisa mengukir sunset yang lambai tertelan lautan luas.</p>
<p>Aku mengatakan itu..<br />
Senja yang terlambat..<br />
Dengan bayangmu yang tak sempat diukirnya.<br />
Bayangmu hanyalah dijemput malam yang mencekam sepiku.</p>
<p>Aku memgatakan itu..<br />
Tentang senja yang terlambat..<br />
Tentu itulah hanya diingatan..<br />
Tentang senja yang terlambat memberi cerita saat datangnya malam.</p>
<p>Stay at home.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MIMPI DALAM TASKU</strong></p>
<p>Aku memiliki sebuah tas.<br />
Didalamnya ku isi mimpi yang aku rangkai paling manis setiap malam berbintang membawaku terbang nun jauh pada dunia yang lain.<br />
Tentu itu tentang angan yang mengembara mengumbar hasrat untuk menjadi seperti yang aku idamkan ketika setiap kali malam membesuk angan.</p>
<p>Lalu seperti biasa..<br />
Didalam tasku dengan sepotong mimpi yang kusimpan, kuhiasi dengan tinta yang siap pakai.<br />
Tak lupa tiap lembar kehidupan yang tertulis menemani mimpiku yang sunyi nan menggertak asaku.<br />
Setiap hari kugantung tas itu dalam pundak dengan mimpi yang kian kadang melemaskan pundakku.<br />
Mimpi itu ternyata cukup berat.<br />
Kadang tasku hampir tersobek, lantaran aku yang tak hati hati memikulnya di pundakku.</p>
<p>Hampir setiap detak terhitung waktu..<br />
Kubawa ia berkelana mencari bekal untuk mengenyangkan mimpiku dalam tasku.<br />
Tempat yang paling dia sukai adalah sekolah dan halaman halaman yang berbau pendidikan.<br />
Dan jika dia lagi bete..<br />
Lebih memilih mengeram bersama pagi yang tak malam lagi.</p>
<p>Bersama tasku dan mimpiku..<br />
Kini aku lagi berasah pilu dan juang..<br />
Tentu jika nanti tasnya kubuka bukan lagi mimpi yang kian berat namun hampa. Tentu kuingin ia seperti yang aku harapkan?</p>
<p>Stay at home..<br />
Dalam mimpi kita menoreh kisah kasih dan kesuksesan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ANTOLOGI PUISI &#124;&#124;MARTIN MELI&#124;&#124;</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4137/antologi-puisi-martin-meli-3/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 May 2026 05:28:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[IFTK Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Magepanda]]></category>
		<category><![CDATA[perspektifnusantara.com]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4137</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM&#8211; Pembaca yang budiman. Berikut adalah kumpulan puisi dari salah seorang pencinta sastra yang berdomisili di Kecamatan Magepanda. Kumpulan puisi berikut merupakan permenungan tentang Guru dari berbagai dimensi. Ada keprihatan mendalam juga doa dan harapan yang tinggi untuk para guru. Sebuah semboyang; &#8216;Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa&#8217;. Pahlawan yang sepantasnya memberi tempat yang luhur [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>&#8211; <em>Pembaca yang budiman. Berikut adalah kumpulan puisi dari salah seorang pencinta sastra yang berdomisili di Kecamatan Magepanda. Kumpulan puisi berikut merupakan permenungan tentang Guru dari berbagai dimensi. Ada keprihatan mendalam juga doa dan harapan yang tinggi untuk para guru.</em></p>
<p><em>Sebuah semboyang; &#8216;Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa&#8217;. Pahlawan yang sepantasnya memberi tempat yang luhur tidak hanya dengan kata-kata melainkan dengan tindakan-tindakan praktis yang mendukung dan memberikan kesejateraan hidup.</em></p>
<p><em>Mari membaca puisi ini dengan hati.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>ANTARA JANJI DAN SUNYI</strong></p>
<p>Di negeri yang gemar berpidato tentang masa depan<br />
namamu sering disebut<br />
dengan kata-kata yang indah<br />
namun ringan seperti angin yang lewat.</p>
<p>Katanya, guru adalah pahlawan<br />
tetapi kepahlawananmu dibayar<br />
dengan angka yang tak sanggup<br />
menyebut kata layak.</p>
<p>Kau berjalan jauh<br />
menembus jalan yang bahkan enggan disebut jalan<br />
mengajar di tempat<br />
yang lebih akrab dengan kekurangan<br />
daripada perhatian.</p>
<p>Di ruang kelas yang hampir runtuh<br />
kau diminta membangun generasi kokoh.<br />
Di tengah tubuh yang mulai letih<br />
kau diminta tetap sehat<br />
tanpa jaminan yang benar-benar hadir.</p>
<p>Negeri ini pandai berjanji<br />
namun sering lupa menepati.<br />
Kebijakan lahir di meja-meja nyaman<br />
tanpa pernah menyentuh debu<br />
yang melekat di langkahmu setiap hari.</p>
<p>Ketika angka-angka pendidikan dibanggakan<br />
tak ada yang benar-benar bertanya<br />
berapa harga yang harus kau bayar<br />
untuk membuat semua itu terlihat baik-baik saja.</p>
<p>Namun kau tetap berdiri<br />
bukan karena semuanya adil<br />
melainkan karena kau menolak menyerah<br />
pada keadaan yang ingin membuatmu diam.</p>
<p>Senyummu mungkin menyimpan getir<br />
langkahmu mungkin penuh ragu<br />
tetapi di dalam dirimu<br />
masih ada api yang tak bisa dipadamkan<br />
oleh kebijakan yang lupa arah.</p>
<p>Suatu hari nanti<br />
mungkin suara-suara kecil ini akan menjadi gemuruh<br />
mengguncang mereka yang terlalu lama nyaman<br />
di atas kursi yang jauh dari kenyataan.</p>
<p>Ketika hari itu datang<br />
semoga negeri ini benar-benar belajar<br />
bahwa masa depan tidak dibangun<br />
dengan janji melainkan dengan keberanian<br />
untuk menghargai mereka yang mengabdi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PENGABDIAN</strong></p>
<p>Di ruang kelas yang catnya mulai mengelupas<br />
kau berdiri bukan sekadar menyampaikan pelajaran<br />
melainkan menyalakan harapan yang hampir padam.</p>
<p>Suaramu kadang kalah oleh riuh dunia<br />
oleh gawai yang lebih memikat dari papan tulis<br />
oleh zaman yang berlari tanpa menoleh ke belakang.<br />
Namun kau tetap di sana<br />
menjadi penjaga makna di tengah arus lupa.</p>
<p>Langkahmu bukan langkah yang dielu-elukan<br />
tak selalu disambut tepuk tangan<br />
bahkan sering disertai tanya<br />
masihkah pantas bertahan di jalan ini</p>
<p>Tapi kau tahu<br />
pengabdian bukan tentang dilihat<br />
melainkan tentang setia<br />
meski lelah menjadi teman harian.</p>
<p>Kau menanam di ladang yang tak pasti<br />
menyiram benih-benih masa depan<br />
dengan sabar yang tak pernah diberi upah sepadan.<br />
Meski hasilnya mungkin tak kau petik<br />
kau tetap percaya<br />
suatu hari dunia akan berdiri<br />
di atas kerja sunyi yang kau mulai hari ini.</p>
<p>Di balik papan tulis itu<br />
kau bukan hanya guru<br />
kau adalah waktu yang mengajar kehidupan<br />
untuk tidak menyerah.</p>
<p><strong>PENGORBANAN</strong></p>
<p>Pagi datang sebelum matahari benar-benar terjaga<br />
dan kau sudah lebih dulu berangkat<br />
meninggalkan rumah yang belum sempat<br />
kau nikmati sepenuhnya.</p>
<p>Di jalan yang panjang dan berdebu<br />
kau menukar waktu dengan jarak<br />
menukar kenyamanan dengan kewajiban<br />
yang tak pernah selesai dihitung.</p>
<p>Gajimu tak selalu cukup<br />
untuk segala kebutuhan yang kian meninggi<br />
namun kau tetap datang<br />
dengan wajah yang berusaha utuh.</p>
<p>Kau simpan lelah di balik senyum<br />
kau sembunyikan resah di balik kata-kata yang menguatkan.<br />
Sementara di rumah ada kebutuhan yang harus menunggu<br />
ada keinginan yang kau tunda diam-diam.</p>
<p>Buku-buku kau beli dari sisa yang tak seberapa<br />
tenaga kau beri tanpa hitung<br />
waktu kau serahkan<br />
bahkan saat dunia tak meminta sebanyak itu darimu.</p>
<p>Pengorbananmu bukan cerita yang ramai dibicarakan<br />
ia hidup dalam diam<br />
di sela-sela hari yang berjalan biasa saja.</p>
<p>Namun dari yang biasa itulah<br />
kau membangun sesuatu yang luar biasa<br />
masa depan yang berdiri<br />
di atas apa yang kau relakan hari ini.</p>
<p><strong>KETULUSAN</strong></p>
<p>Di antara papan tulis dan deret bangku yang sunyi<br />
ketulusanmu tumbuh tanpa suara.<br />
Ia tidak mencari tepuk tangan<br />
tidak menunggu balasan<br />
tidak pula meminta untuk dipahami sepenuhnya.</p>
<p>Kau mengajar dengan hati yang terbuka<br />
menerima setiap anak<br />
dengan segala kurang dan lebihnya.<br />
Bahkan ketika mereka lupa menghargai<br />
kau tetap memilih untuk mengerti.</p>
<p>Amarah yang datang kau jinakkan<br />
kecewa yang singgah kau peluk diam-diam.<br />
Sebab kau tahu<br />
menjadi guru bukan hanya tentang ilmu<br />
tetapi tentang hati yang rela dilukai<br />
tanpa berhenti mencintai.</p>
<p>Ketulusanmu hadir dalam hal-hal sederhana<br />
dalam sapaan yang hangat<br />
dalam perhatian kecil yang sering tak disadari<br />
dalam doa yang kau bisikkan<br />
untuk mereka yang mungkin tak pernah tahu.</p>
<p>Tak semua kebaikanmu akan dikenang<br />
tak semua jasamu akan disebut<br />
namun kau tetap memberi<br />
seolah dunia selalu mengingat.</p>
<p>Karena bagimu ketulusan bukan tentang hasil yang kembali<br />
melainkan tentang memberi sepenuh diri<br />
tanpa pernah berhenti menjadi arti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>HARAPAN</strong></p>
<p>Di setiap tatapan yang kau arahkan ke depan kelas<br />
tersimpan harapan yang tak pernah usai.<br />
Ia tumbuh diam-diam<br />
di antara huruf, angka, dan cerita<br />
yang kau titipkan pada ingatan mereka.</p>
<p>Kau percaya<br />
di balik mata yang kadang tak fokus<br />
ada masa depan yang sedang mencari bentuk.<br />
Di balik sikap yang sering memberontak<br />
ada jiwa yang sedang belajar mengerti arah.</p>
<p>Harapanmu sederhana<br />
namun berat untuk diwujudkan<br />
agar mereka melangkah lebih jauh darimu<br />
agar mereka berdiri lebih tegak dari yang kau mampu.</p>
<p>Meski dunia berubah begitu cepat<br />
dan nilai sering diukur dari angka semata<br />
kau tetap menjaga keyakinan<br />
bahwa pendidikan adalah tentang manusia<br />
bukan sekadar hasil.</p>
<p>Kadang harapan itu goyah<br />
terhimpit realita yang tak selalu berpihak.<br />
Namun kau merawatnya lagi<br />
menyusunnya kembali<br />
dari sisa-sisa keyakinan yang masih tersisa.</p>
<p>Sebab kau tahu<br />
jika harapan itu padam<br />
maka hilanglah arah bagi banyak langkah<br />
yang pernah kau tuntun.</p>
<p>Selama kau masih berdiri di sana<br />
di depan mereka yang terus bertumbuh<br />
harapan itu akan tetap hidup<br />
meski perlahan dan dalam diam.</p>
<p><strong>DOAMU</strong></p>
<p>Di ujung hari yang mulai redup<br />
ketika kelas telah kosong dan suara mereda<br />
kau duduk dalam diam<br />
membiarkan lelah jatuh perlahan.</p>
<p>Di sanalah doamu berangkat<br />
tak bersuara keras<br />
namun penuh dengan harap yang tak pernah habis.</p>
<p>Kau sebut satu per satu dalam ingatan<br />
mereka yang kau ajar<br />
mereka yang mungkin tak pernah tahu<br />
betapa sering namanya kau bawa<br />
dalam percakapan sunyi dengan Tuhan.</p>
<p>Kau titipkan masa depan mereka<br />
pada tangan yang lebih kuat dari segala rencana<br />
pada kasih yang mampu menjangkau<br />
apa yang tak sanggup kau capai sendiri.</p>
<p>Doamu sederhana,namun dalam<br />
agar mereka tidak kehilangan arah<br />
agar mereka menemukan jalan<br />
meski tanpa kehadiranmu kelak.</p>
<p>Dan untuk dirimu sendiri<br />
kau tak meminta banyak<br />
cukup kekuatan untuk bertahan<br />
cukup hati yang tetap setia<br />
cukup iman yang tak mudah goyah.</p>
<p>Sebab kau tahu<br />
di balik segala usaha yang terbatas<br />
ada doa yang bekerja diam-diam<br />
menyempurnakan apa yang kau mulai.</p>
<p>Maka kau pun pulang<br />
membawa sisa tenaga dan keyakinan bahwa esok hari<br />
di antara papan tulis dan bangku-bangku itu<br />
Tuhan masih akan bekerja<br />
melalui dirimu yang sederhana.</p>
<p><strong>TENTANG PENULIS:</strong></p>
<p>Penulis berasal dari Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Saat ini ia adalah mahasiswa Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero yang menekuni studi teologi. Ia memiliki minat pada dunia pendidikan, refleksi iman dan pengabdian kepada masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>AH TUHAN</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/4018/ah-tuhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 11:13:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=4018</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM&#8211;Pembaca yang budiman. Antologi puisi berikut merupakan hasil pergumulan Oktavia Eriska. Eriska menampilkan titik terendah tokoh Aku ketika sesuatu yang berharga bagi dirinya harus berakhir. Hal itu membuat dirinya harus protes kepada Tuhannya tentang semua yang telah diambil darinya. Sebagai pembaca kita bisa menemukan makna sendiri dari puisi-puisi ini. Selamat membaca. USAI &#160; Disisa waktu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>&#8211;<em>Pembaca yang budiman. </em><br />
<em>Antologi puisi berikut merupakan hasil pergumulan Oktavia Eriska. Eriska menampilkan titik terendah tokoh Aku ketika sesuatu yang berharga bagi dirinya harus berakhir.</em><br />
<em>Hal itu membuat dirinya harus protes kepada Tuhannya tentang semua yang telah diambil darinya.</em><br />
<em>Sebagai pembaca kita bisa menemukan makna sendiri dari puisi-puisi ini.</em></p>
<p><em>Selamat membaca</em>.</p>
<h2>USAI</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disisa waktu yang kita miliki<br />
Aku melewatinya sendiri<br />
Menggenggam harap yang mulai patah<br />
Memeluk asah yang perlahan runtuh</p>
<p>Diujung jalan yang pernah kita lewati<br />
Langkahku terhenti<br />
Hangat kasih kita perlahan menghilang<br />
Dibawah pergi hembusan angin senja</p>
<p>Dilorong tua yang pernah kita telusuri<br />
Sepih mulai merenggut riuh yang pernah kita ciptakan<br />
Aku kewalahan melerai sunyi yang memelukku kian erat<br />
Pun kesusahan mengusir sepih yang menggema di dasar jiwa</p>
<p>Di bangku taman yang pernah menjadi saksi kebersamaan kita<br />
Aku memeluk kisah yang perlahan berakhir<br />
Aku termenung, mencoba mencerna semuanya<br />
Binar matamu, manis senyummu<br />
Semakin ribut dalam ingatan</p>
<p>Kita.., aku dan kamu<br />
Pernah memimpikan hari esok yang indah<br />
Pernah berjuang untuk menjadi rumah tempat kita pulang<br />
Namun, waktu menolak kita untuk masuk melewati pintu yang sama<br />
Pamit menyudahi kisah kita<br />
Tiada lagi KITA di hari esok<br />
Aku dan kamu, jalan kita telah berbeda arah<br />
Usai&#8230;</p>
<h3>MAAF !</h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kisah telah berakhir<br />
Raga tak lagi kurengkuh<br />
Tetapi kenangan itu memelukku</p>
<p>Jumpa telah usai<br />
Tawa tak lagi terdengar<br />
Namun rasa ini tak pernah hilang</p>
<p>Gerimis melebat<br />
Kenangan mengusik<br />
Rindu menggila<br />
Ahhh&#8230; Tuhan kenapa sesingkat ini ???<br />
Sesayang itukah Kau padanya?<br />
Aku masih ingin mengeja waktu bersamanya<br />
Mengurai tiap detik berdua<br />
Melukis kisah perjalanan kami<br />
Tuhan&#8230; berapa kurang lagi asahku?<br />
Harus berapa banyak lagi usahaku?<br />
Aku mau dia<br />
Tetapi Engkau memilihnya<br />
Aku mau dia<br />
Tetapi Engkau memanggilnya<br />
Maaf Tuhan.. Ijin protes<br />
Aku belum ikhlas melepasnya</p>
<h4>AH TUHAN</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada kesempatan yg pernah diberi-Nya,<br />
Kita berjuang menjadikan satu dari dua,<br />
Kita pernah melafalkan harap agar tujuh kita adalah<br />
Satu disaat yg semestinya menurut rencana kita</p>
<p>Pada kesempatan yg pernah diberi-Nya,<br />
Kita pernah berbagi semua lebih untuk melengkapi<br />
Segala kurang<br />
Kita pernah ikhlas disetiap keadaan dan tulus<br />
Disemua situasi</p>
<p>Pada kesempatan yg pernah diberi-Nya<br />
Kita, aku dan kamu, pernah mengatasnamakan<br />
Cinta untuk segala sesuatu yg mengisi tiap-tiap detik<br />
Dalam ruang juga waktu</p>
<p>Pada kesempatan yg pernah diberi-Nya<br />
Kita berencana tetapi Dia yg merancang<br />
Jalan kita harus berbeda arah adalah<br />
Yang diaminkan-Nya</p>
<p>Dan pada kesempatan yg pernah diberi-Nya,<br />
Kau ramu sajak terakhir untuk kisah kita<br />
&#8220;Usaplah air matamu pada ujung jubahku&#8221;<br />
Namamu akan selalu ada tanpa tiada dalam lantunan<br />
Harap di sepertiga malamku&#8221;.</p>
<p>Ahhhh&#8230; Tuhanmn..<br />
Ijinkan kami bertemu Kembali<br />
Meski melalui sedikit doa di kening.</p>
<h5>SEHARI MENJELANG APRIL</h5>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berakhir diantara riuh yang direnggut sunyi<br />
Diantara ramai yang diusir sepih<br />
Namamu perlahan pergi dari hati<br />
Bayangmu perlahan pamit dari ingatan</p>
<p>Aku berusaha untuk terus menggenggam<br />
Namun engkau melerai jemariku<br />
Senyummu mulai samar dari ingatan<br />
Tersisa hanya rasa yang betah menetap</p>
<p>Awalnya kita adalah rumah<br />
Tempat pulang yang kita yakini<br />
Namun sekarang tertinggal hanyalah puing-puing<br />
Harap yang tak lagi bisa utuh</p>
<p>Aku tak lagi memanggil namamu<br />
Kubiarkan diam memeluk rinduku<br />
Melepas engkau berlalu<br />
Bersama April yang hendak berakhir</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>TENTANG PENULIS:</strong><br />
Oktavia Eriska, lahir Maumere, 25 Oktober 1995,<br />
menuangkan rasa lewat tulisan adalah hobi,<br />
Menulis adalah ruang untuk jujur dan bebas menjadi diri sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ANTOLOGI PUISI II &#124;&#124;Martin Meli&#124;&#124;</title>
		<link>https://www.perspektifnusantara.com/3958/antologi-puisi-martin-meli-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Erwin Pitang]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2026 09:46:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[IFTK Ledalero]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Sikka]]></category>
		<category><![CDATA[Magepanda]]></category>
		<category><![CDATA[Martin Meli]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.perspektifnusantara.com/?p=3958</guid>

					<description><![CDATA[PERSPEKTIFNUSANTARA.COM. &#8211; Pembaca yang budiman. Puisi-puisi berikut merupakan buah dari permenungan yang panjang dari penulis. Penulis (seakan) menggiring pembaca untuk berhenti sejenak kemudian mengambil tempat. Berdoa. Kalimat yang santun seperti tengah membawa pembaca pada situasi khusuk, pertemuan antara raga dan yang Transendental. Membaca puisi sama dengan membaca doa (kali ini saja). &#160; DI BANGKU DOA [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERSPEKTIFNUSANTARA.COM</strong>. &#8211; Pembaca yang budiman.</p>
<p>Puisi-puisi berikut merupakan buah dari permenungan yang panjang dari penulis. Penulis (seakan) menggiring pembaca untuk berhenti sejenak kemudian mengambil tempat. Berdoa.</p>
<p>Kalimat yang santun seperti tengah membawa pembaca pada situasi khusuk, pertemuan antara raga dan yang Transendental.</p>
<p>Membaca puisi sama dengan membaca doa (kali ini saja).</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>DI BANGKU DOA</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Datang dengan hati yang penuh beban<br />
Membawa cerita yang tak selalu terucap<br />
Ada yang mencari ketenangan<br />
Ada pula yang datang untuk bertahan</p>
<p>Dalam hening yang dipenuhi harapan<br />
Setiap kepala tertunduk perlahan<br />
Doa-doa naik tanpa suara<br />
Menitipkan luka pada kasih yang dipercaya</p>
<p>Tidak semua hidup berjalan mudah<br />
Ada langkah yang goyah oleh keadaan<br />
Namun tempat itu selalu menerima<br />
Tanpa bertanya dari mana datangnya duka</p>
<p>Di antara nyala lilin dan keheningan<br />
Tersimpan keyakinan yang terus hidup<br />
Bahwa selalu ada jalan pulang<br />
Bagi hati yang ingin kembali percaya</p>
<h3>DALAM SATU DOA</h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>Satu berdiri di depan membawa <a href="https://www.perspektifnusantara.com/">terang</a><br />
Yang lain datang dengan harapan dalam diam<br />
Dipertemukan oleh langkah yang sama<br />
Di tempat sunyi yang penuh makna</p>
<p>Ada yang memberi lewat pelayanan<br />
Ada yang datang membawa pergumulan<br />
Keduanya saling menguatkan<br />
Meski berjalan dari arah yang berbeda</p>
<p>Di balik doa yang dipanjatkan<br />
Tersimpan hubungan yang tak terlihat<br />
Satu menjaga dengan ketulusan<br />
Satu percaya dengan kesederhanaan</p>
<p>Bukan sekadar pertemuan biasa<br />
Melainkan ikatan yang tumbuh perlahan<br />
Di antara pengabdian dan keyakinan<br />
Lahir perjalanan yang saling melengkapi</p>
<h4>RUMAH DOA</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di antara dinding yang berdiri tenang<br />
tersimpan banyak kisah kehidupan<br />
Ada harapan yang datang mencari terang<br />
ada hati lelah yang menemukan keteduhan</p>
<p>Gereja bukan sekadar bangunan diam<br />
ia hidup dalam doa dan persekutuan<br />
Menjadi tempat jiwa kembali pulang<br />
saat langkah kehilangan arah perjalanan</p>
<p>Di sana suara <a href="https://www.perspektifnusantara.com/">doa</a> saling bertemu<br />
mengalun pelan membawa ketenangan<br />
Ada tangan yang terangkat penuh harap<br />
dan air mata yang jatuh dalam penyerahan</p>
<p>Saat dunia terasa begitu bising<br />
gereja menjadi ruang untuk berhenti<br />
Tempat manusia belajar percaya<br />
bahwa kasih Tuhan tak pernah pergi</p>
<p><strong>Tentang Penulis:</strong><br />
Martin Meli merupakan seorang penulis yang dikenal aktif dalam dunia literasi dan pengembangan gagasan. Ia tercatat sebagai mahasiswa di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Berasal dari Magepanda, Kabupaten Sikka. Melalui tulisan-tulisannya, Martin Meli berupaya menyampaikan pemikiran yang reflektif, kritis dan bernilai bagi pembaca.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://www.perspektifnusantara.com/">Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
